Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan-ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala. [Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ]
Atheisme dimulai dengan kesulitan bahasa. Dan, jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great, kita akan tahu: ada juga salah sangka.
Kemarin baru ngobrol-ngobrol santai dengan rekan-rekan satu aliran. Banyak topik yang dibahas, salah satunya adalah mana yang perlu diprioritaskan dalam hidup ini, bahagia duluan atau manembah duluan. Bahagia ini dalam artian kaya atau hampir sebagian besar apa yang diharapkan dalam hidup ini sudah terpenuhi. Seperti misalnya rumah, mobil, istri yang setia dan sosoknya seperti Miyabi, anak-anak yang sholeh dan sebagainya. Kalau manembah, yang dimaksudkan adalah dalam pengertian mendekatkan diri kepada Allah, mempertinggi taqwa dan meningkatkan kearifan sosial.
Mas Karjo, yang masuk kelompok Islam liberal, mengawali dengan berkata, “Kalau menurut saya manusia itu harus kaya dulu. Harus bahagia dulu. Gimana mau manembah kalau masih mikir biaya perawatan rumah tangga, biaya sekolah anak-anak, biaya mengelola ego dan biaya entertainment. Pikiran harus tenang, baru dilanjutkan dengan meditasi dan kontemplasi. Omong kosong kalau ada yang bilang harus manembah dulu. Itu hanya kembang lambe, padahal dalam hatinya sih mengiyakan pendapat saya.”
Menurut Wiki, Gangguan Kepribadian (Personality Disorder) adalah pola pengalaman batin dan perilaku yang jelas-jelas menyimpang dari ekspektasi budaya individu tersebut. Diagnosis gangguan kepribadian bisa sangat subjektif, namun pola perilaku yang tidak fleksibel dan merasuk sering menimbulkan kesulitan pribadi dan sosial, serta gangguan fungsional umum. Pola yang kaku dan berkelanjutan dari perasaan, pikiran dan perilaku dapat dikatakan disebabkan oleh sistim keyakinan yang mendasar dan sistem ini disebut sebagai fantasi tetap atau kerusakan pada fungsi kognitif.
Di Indonesia, gangguan kepribadian terkadang disebut dengan kata lain yang dianggap memiliki arti yang sama, yaitu: singit, sinting, error, gokil, sableng, gemblung, atau bocor alus.
Contoh beberapa kasus gangguan kepribadian bisa dilihat pada gambar di bawah ini.
Tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan dalam eksistensi kehidupan ini. Kita bukanlah muncul secara tidak disengaja dalam proses kehidupan ini. Sebaliknya, kita adalah bagian dari hidup ini, bagian yang dinamis, yang menyambut dan merayakan kehidupan ini. Seperti dalam Upanishad , disebutkan: “Even if a blade of grass is missing, the whole existence will thirst for it” (Bahkan jika ada rumput yang hilang, seluruh eksitensi akan mencarinya)
Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan kita sendiri dan masa depan adalah tanggung jawab pribadi kita. Sifat kehidupan selalu berhubungan dengan hal-hal yang baru di setiap saat, dan itulah yang perlu kita pelajari.
Kencan Spiritual adalah pertemuan atau kencan yang menggunakan metode pencerahan (enlightenment) atau kesadaran tinggi (consciousness). Tidak perlu ada aturan atau harapan, dan ini murni tentang bersikap jujur pada diri sendiri dan tinggal mengikuti aliran saja. Kencan Spiritual akan lebih menyenangkan daripada kencan tradisional, dan akan memberikan hasil yang lebih baik. Ketika kita meningkatkan frekuensi vibrasi kita, akan lebih penting untuk melatih Kencan Spiritual dengan tujuan untuk menemukan pasangan hidup karena pikiran dan perasaan kita akan mewujud secara sangat cepat. Berikut ini adalah enam kunci Kencan Spiritual.
KATHLEEN PARKER, The Washington Post: Terima kasih Barbara. Saya ada pertanyaan untuk Dr Collins. Anda menyebutkan kemungkinan bahwa Tuhan di luar alam dan waktu, dan tampaknya Dia sama cerdas dan bahkan lebih cerdas dari Anda dan dia jelas akan membuat beberapa ketentuan tentang pemanasan global. Saya ingin tahu bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini dari sudut pandang ilmiah Anda?
COLLINS: Kelihatannya bahwa alam semesta dan planet kita berada dalam kondisi yang sangat stabil secara umum. Untuk hal-hal yang Anda pikir mungkin dapat merusak keseimbangan alam, tampaknya ada kecenderungan alam dapat memperbaiki dirinya sendiri. Tetapi ancaman yang nyata pada saat ini adalah adanya perubahan dalam sifat planet kita yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Tuhan, apa pun alasannya, tampaknya tertarik untuk memberikan kehendak bebas bagi manusia. Itu adalah cerita tentang Taman Eden. Itu sesuatu yang tidak asing bagi kita semua.
BARBARA BRADLEY HAGERTY: Menurut saya, Tuhan adalah sebuah pilihan. Kita dapat mencari atau menghilangkan keterkaitan Tuhan. Anda dapat melihat bukti dan menyimpulkan bahwa segala sesuatu bisa dijelaskan oleh materi, atau Anda bisa memperhatikan dunia dan alam semesta dan Anda melihat tangan Tuhan di sana. Ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan pertanyaan ini. Saya pikir, pada dasarnya Anda percaya atau tidak kepada Tuhan adalah masalah keimanan.
Menurut Francis, 40 persen ilmuwan percaya Tuhan. Sedangkan di National Academy of Sciences, hanya 7 persen yang percaya Tuhan, dan biasanya mereka inilah yang mengajak debat tentang agama dan sains.
Keimanan (agama) dan sains adalah dua cara untuk mengetahui. Mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berbeda. Sains menjawab pertanyaan tentang ‘bagaimana’, iman menjawab pertanyaan tentang ‘mengapa’. Saya menyukai pemahaman seperti ini. Jika Anda menggunakan sains dan iman, Anda membaca buku yang diberikan Tuhan kepada kita, satu buku tentang firman Tuhan, dan satu buku lagi tentang karya Tuhan, khususnya tentang alam semesta, seharusnya tidak menjadi masalah kan?
Tetapi, sepertinya ada masalah. Apakah Anda pernah melihat kartun yang sangat lucu tentang perdebatan yang tak pernah berakhir antara keju dan biskuit evangelis? Di dalamnya ada ikan Richard Dawkins yang berkata, “Kami datang dari keju,” sementara ikan Ken Ham mengatakan, “Kami hanya muncul dari dalam tas.” Ini adalah kartun yang lucu, tetapi pemusuhan mereka bisa berkembang menjadi pertempuran yang konyol. Read the rest of this entry »
Artikel ini adalah terjemahan dari transcript atas event yang diselenggarakan oleh Pew Forum on Religion & Public Life’s di Key West, Florida, pada bulan Mei 2009 dengan tema Faith Angle Conference on religion, politics and public life. Event ini dihadiri oleh beberapa wartawan media terkemuka.
Speaker: Francis S. Collins, Former Director, National Human Genome Research Institute.