Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah 115)
Ayat ini tampaknya banyak mengandung arti yang tersirat selain dari arti yang tersurat. Kalau kita melihat ke timur atau barat dan pandangan kita tertuju pada langit, gunung, bintang dan lain2, maka pasti kita akan mengagumi kesempurnaan dan keindahan dari ciptaan Allah. Masalahnya, disana kan tidak ada wajah siapapun. Apakah wajah disini dapat diartikan dengan aktualisasi atau pembuktian melalui perwujudan ciptaan ?
Masalahnya akan menjadi lain kalau melihat ke timur dan kebaratnya dari terminal bis. Ketemunya ya preman2 tukang palak atau wanita2 penghibur yang ada di sekitar terminal. Nah yang ini kan malah membuat kacau pemahaman terhadap ayat tersebut.
Terima kasih sekali kalau ada yang bisa memberi penjelasan detail tentang hal ini, atau cukup memberikan link ke site terkait.
Setelah beberapa hari ini merenung di angkutan umum, ternyata saya mendapatkan pencerahan. Wajah Allah yang dimaksud disitu adalah cermin. Cermin yang bersifat spiritual. Cermin yang dapat saya gunakan untuk melihat ke belakang apakah jalan yang saya tempuh selama ini masih salah atau sudah berada di jalur yang tepat. Dengan memanfaatkan cermin ini, saya akan semakin mudah untuk melakukan evaluasi diri.
Untuk sementara saya akan berpatokan pada kesimpulan tersebut, sambil menunggu barangkali ada patokan lain yang lebih masuk akal dan banyak referensi-nya.
Posted by Lambang MH
Hanya sebagai reminder untuk yang merasa sudah dekat dengan Allah maupun untuk yang masih merasa jauh dari Allah.
Istilah “Pandangan Hidup Jawa” di sini mempergunakan pengertian yang longgar, jadi istilah ini dapat saja diganti dengan istilah-istilah lain yang mempunyai arti yang kurang lebih sama, seperti “Filsafat Jawa” (Abdulah Ciptoprawiro) “Filsafah Kejawen” atau istilah lain lagi. Tetapi pandangan hidup Jawa, ini tidaklah identik dengan “Aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa” atau “Islam Abangan” atau “Mistik Jawa” dan lebih-lebih dengan “ilmu-ilmu klenik”. Sementara itu beberapa istilah lain seperti “Agama Jawa” atau “Agama Jawi” (Koentjaraningrat), “the religion of java” (Clifford Geertz), dan lain-lain. Itu tidak identik dengan “Pandangan Hidup Jawa” sekalipun terlihat adanya beberapa segi persamaan.









