Islam Abangan – apa itu ?

mosque Islam Abangan adalah stempel yang diberikan kepada orang yang mengaku Islam, tetapi belum menjalankan syari’at secara benar. Syari’at yang dimaksud disini bukan hanya Rukun Islam dan Rukun Iman saja. Untuk mengetahui syari’at secara benar, rasanya perlu waktu beberapa tahun dengan cara belajar bahasa Arab, membaca Al-Qur’an dan Hadist, diskusi, berguru, samadi, istiqarah dan sejenisnya. Hal seperti ini yang membuat orang mencoba mencari cara instan untuk menjadi Muslim sejati. Alasannya karena waktu yang tersedia belum tentu mencukupi untuk mempelajari semuanya. Siapa tahu besok mendadak mati. Jadinya ya sambil belajar sambil mengamalkan. Untuk yang belajarnya belum tuntas, boleh saja disebut abangan. Toh untuk yang bukan abangan juga tidak ada jaminan akan menjadi kekasih Allah dan masuk surga. Besar kemungkinan hanya jawaban Wallahualam bissawab atau Insya’Allah.

About these ads

37 Responses to Islam Abangan – apa itu ?

  1. Ngabehi says:

    he he saya juga masih islam abangan

  2. Lambang says:

    Kalau saya kadang jadi ijo kalau ngeliat duit. :)

  3. sabdalangit says:

    Wah rupanya Ki Ngabehi sedang pada asik sarasehan disini, mugi rahayu ingkang sami pinanggih Ki.

    Mas Lambang Yth
    Mudah2an berkenan, saya ingin bertanya sesuatu yg saya benar2 belum paham.
    Dalam kalimat sahadat : Laillaaha illallah; diartikan tiada Tuhan selain Allah.
    Sudah sekian lama saya kontemplasikan diri kok rasanya ada yg janggal dalam menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
    Yakni terjemahan laa illaha = tiada Tuhan
    Illallah = kecuali Allah
    Keduanya huruf dan tulisannya hampir sama, tapi mengapa kalimat pertama diartikan Tuhan (bahasa Indonesia), dan yg kedua diartikan Allah (tetap dlm bahasa arab).
    Jika dalam bahasa arab yg sesungguhnya kira2 artinya yg lebih tepat :
    “Tiada Tuhan (Banyak) selain Tuhan (Tunggal) atau Nothing/none Gods except God. Atau Tiada Allah (banyak) selain Allah (tunggal).
    Apakah kesan yg saya tangkap ini salah atau benar mohon pencerahannya.
    sebelumnya saya haturkan beribu terimakasih. dan beribu maaf apabila ada kata dan kalimat yg lancang sebab dari ketidaktahuan saya pribadi.
    salam sejati
    salam taklim

    • darta says:

      saya mencoba menjawab…
      ilah ( satu kata ) = Tuhan
      illa Allah ( disingkat menjadi ) Illallah = dua kata 1. illa 2. Allah
      illa = kecuali dan Allah = Allah…

      maksd anda dengan kalimat ” Tiada Allah (banyak) selain Allah (tunggal). ” adalah tidak tepat kalau kata Allah artinya itu Tuhan. Allah itu sebutan/nama untuk Tuhan yang tidak bisa diterjemahkan sehingga Tuhan mungkin banyak sesuai dengan keyakinan masing-masing individu, tapi yang benar menurut makna lailaha illallah maksdunya TIDAK ADA TUHAN YANG HAQ DISEMBAH KECUALI ( MENYEMBAH ) ALLAH. jadi tidaklah benar seperti yang anda ungkapkan ““Tiada Tuhan (Banyak) selain Tuhan (Tunggal) atau Nothing/none Gods except God. Atau Tiada Allah (banyak) selain Allah (tunggal).” makasih semoga anda belum puas.. amin

  4. Lambang says:

    Sugeng rawuh Mas Sabdolangit,
    Maaf saya ngga bisa menjawab pertanyaannya. Mungkin saya perlu ndekem dulu bertahun-tahun untuk menjawab arti yang tersurat maupun yang tersirat.
    Pertanyaan-pertanyaan sejenis tentang Ketuhanan juga sering berputar-putar dalam kepala saya. Tanya sendiri, terus dijawab sendiri, buat ngayem-ngayemi. Mirip wong edan gitu.
    Sebetulnya malahan saya yang butuh pencerahan dari Mas Sabdolangit. Botole masih kosong Mas. (niru slang-nya KangBoed).

    Salam.

  5. sitijenang says:

    @ mas Sabda
    kalo bahasa ngenggres…

    Ilah = God
    Allah = Al Ilah = The (One) God

  6. Tonni Boster says:

    @sabdalangit
    Wiiich …Mas Sabdolangit, saya salut dan terkesan sekali dengan oncekan maknanya,saya sepakat bahwa

    Ilah/Tuhan
    adalah sesuatu yang dilebihkan dari lainnya (bisa berupa Harta, Ego, jabatan, dll)

    ALLAH (Alif Lam Lam Ha).
    tanpa Alif menjadi “Lillah”
    tanpa alif dan Lam awal menjadi “Lahu”
    tanpa alif, lam awal dan Lam Akhir menjadi “HU”

    “HU” Dia (tunggal) yang dilebihkan dari tuhan tuhan lainnya.
    Bila tak hati hati …..membaca Laa ilaaha Illallahu malah bisa kufur…
    Subhaanallah semoga DIa selalu menjaga iman kita.
    Amiin

    TONNI BOSTER

  7. Lambang says:

    Pembukanya adalah “Ya Allah” dan penutupnya adalah “Ya Huwa”.

    “Dialah Yang Pertama dan Yang Terakhir, Yang Tampak dan Yang Tersembunyi.”

    “Laa Huwa Illa Huwa….”

  8. kangBoed says:

    Hmmm… huebaaaaaaaat tenaaaan reeek… ajariiiin dunk mBaaaaah… mau.. mauuu.. mauuuuuu..
    Salam Sayang

  9. Lambang says:

    Mau diajarin….?

    Syaratnya gampang-gampang susah… waras-waras edan…
    Topo ndekem 40 hari, terus ditambah topo ngedan 40 hari, dan dilanjutkan topo nggilani 40 hari.
    Bai’at terakhir disiram kembang tahu satu ember.

    Percayalah Kisanak… dijamin ketemu…
    Ketemu sama Kang Mursidin di grogol… :cool: :) :-)

  10. kangBoed says:

    hihihihi… saya dah bertahun tahun mBaaaah tapa ngedan sama tapa nggilani… tapi pas tapa endekem cuma kuat sehariiii… eeee telornya dah pecaaaah keluar ayaaaaaam…. entu ajaran kang muursyidin tukang bakso sebelaaah rumaaaah…
    Salam Sayang..

  11. batjoe says:

    walah deleh itu toh maksudnya abangan…
    ehemmmm bagaiman ya ngomentnya…
    tapi boleh ya mas dibikinin blog yang bagus hehehehehee’
    sahur mas .. dan berkujung buat sahabatnya borol ijo

  12. Lambang says:

    Lho, bukankah sudah punya blog sendiri?
    Maksudnya apa mau dibuat lebih bagus gitu…

  13. Mas Lambang iki tanpa pamrih!
    Pastinya nggak cocok dagang.
    Cocoke ngangon, kali!

    Salam Ngangon!

  14. Lambang says:

    Haha! Ngangon kambing.
    Kalau ada yang minta kambingnya dikasihin aja.
    Bubar dah ngga punya apa-apa.
    Cari angonan yang lain lagi.

    Salam Ngangon Juga!

  15. Ah!
    Ngangon manusia lah.
    Yg bukan utk di jual,
    Tapi utk menjadi mulia.

    Salam Mulia!

  16. lurus says:

    tidak ada dari sananya status islam abangan. islam tetaplah islam, tidak ada atribut lain yang patut ditambahkan/dikurangkan terhadap kata islam. di dunia hanyalah ada dua jalan islam/jahiliyah dan buahnya pun surga/neraka. Ada fujur dan ada taqwa, ada syukur dan ada kufur.tidak ada tawar menawar terhadap segala ketentuan yang telah di suratkan dalam al-quran. Hak mutlak hanyalah milik Allah bukanlah milik manusia dimana manusia tidak berhak menetapkan syariat berdasarkan ro’yu/hawa nafsunya sendiri dan berpaling kepada wahyu. Mari kita mentadzaburi kembali al-quran dan mari kita cari suatu kebenaran hakiki. Dan patut kita sadari yang benar itu pasti ada, tinggal kita mau mencarinya seperti halnya salman. Rosulullah muhammad SAW membina masyarakatnya yang berkualitas kurang lebih 13 tahun. Apakah kita akan terus menerus berkutak dari cara membaca alquran, bukankah ayat-ayat tersebut sudah diterjemahkan kedalam bahasa kita sehingga menjadai terang dan jelas bagi kita. wassalam

  17. Lambang says:

    Sip, silahkan lanjut dengan keyakinan Anda, dan sayapun juga akan lanjut dengan keyakinan saya.

    Makasih atas kunjungannya.

  18. eMina says:

    –mbak/mas lurus–
    islam secara kaffah, bukan?
    argh~~~ sayang ga ada link blognya ! T_T

    saya juga tidak mengetahui ada sebutan islam abangan. Yang saya tau adalah hanif, orang yang sedikitnya masih dalam tahap belajar untuk lebih memahami. Dan jika dikaitkan dengan belajar dan berproses, sy selalu yakin bahwa kita semua selalu sedang belajar dan berproses. Dalam konteks manusia, memang tidak ada yang manusia yang benar2 sempurna dalam segala hal.

    Tetapi yang terpenting adalah, dengan stempel seperti apapun kita -pemahaman kita pada islam ini, belajar dan terus belajar untuk lebih baik. Untuk lebih mengenal islam dan hidup dengannya secara kaffah (menyeluruh). Untuk hidup dengan cara yang disukai Allah ^^

  19. rita says:

    klo seorang beragama islam tidak solat,tidak puasa itu bukan islam abangan, itu namanya islam KTP. mudah-mudahan saya salah.Islam abangan dan putihan kayaknya bedanya pada cara berdakwah saja. abangan yang dimotori oleh Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang sedangkan putihan dimotori oleh sunan Giri dkk. Pernah S.Giri protes kpd S.Kalijogo tentang lakon wayang, setelah slah satu lakon diberi nama Prabu giri noto…. (diam deh.. o ?). Klo dulu berdakwah ala arab, mungkin mbahku ora melu islam, krn nggak ngerti coro Arab, tapi klo belajar Islam dengan cara Jawa, yo cepet ngerti. lir-ilir….

    • Lambang says:

      Abangan itu hanya stempel informal saja mbak. Belum ada definisi yang tepat. Kalau menurut Islam, begitu seseorang sudah membaca syahadat dengan niat yang benar, maka dia sah disebut Islam. Bahwa nantinya dalam pelaksanaan dia menjalankan syari’at atau tidak, korupsi atau tidak, jadi bandar judi atau tidak, merupakan tanggung jawab masing-masing untuk mempertahankan universal ethics & humanities dan predikat Islam yang disandangnya.

      Islam Abangan dan Islam KTP sama-sama masih rancu definisinya, dan rasanya masih bisa tertukar-tukar. Semuanya hanya masalah sudut pandang penilaian saja koq mbak.

  20. Klo udah bicara definisi, maka Islam itu menjadi duniawi, menjadi terikat dgn aturan-aturan ilmu dunia sehingga agama itu menjadi Ilmiah, bukan lagi Illahiah.

    Kurasa, karena itulah maka Suni dan Siyah saling tuding berdasar definisi duniawi mulu hingga melupakan apa tujuan agama itu diturunkan.
    Kali!

    Salam Damai!

    • Lambang says:

      Tergantung kita menempatkan diri di level berapa. Seperti main game aja. Kalau masih level beginner, perlu baca definisi dan SOP. Kalau sudah di level advanced, bisa main sambil tutup mata. Semua shortcut sudah ngelotok, dan jarinya lancar sekali seperti pemain band.

      Salam Damai!

  21. sikapsamin says:

    Nyimak analisanya mbak agak menarik juga sih…
    Tapi backgroundnya mas Lambang apa, saya nggak dan memang tidak berhak tahu…

    Hanya ada perspetif yang menurut saya lebih mendalam, coba deh klik http://serbasejarah.wordpress.com/ tentang SYEKH SITI JENAR, disitu ada istilah putihan dan abangan.
    Ya…untuk tambah2 referensi alternatif. Kalau tertarik…

    Salam…SYEKH SITI JENAR

  22. Lambang says:

    Oiya mas, saya sudah baca uraian di link itu. Lebih banyak cerita sejarah versi Pasundan dan perbincangan filsafat antara dewan Wali dengan Syeh Siti Jenar. Tidak menyebut sama sekali tentang laku yang harus dijalankan agar mencapai tingkatan unang aning.

    Saya lebih cocok dengan isi buku “Makrifat Jawa” oleh Agus Wahyudi. Di buku itu disebutkan tentang Baitul Makmur, Baitul Muharram dan Baitul Muqaddas, termasuk lokasinya di badan kita (dan ini mungkin yang masih riskan untuk disebarluaskan) dan hubungannya dengan Martabat Tujuh yang dikemukakan oleh Ibn Fadhilah, dpengaruhi oleh Ibn Arabi dan diadopsi oleh para sufi di tanah Jawa, termasuk Raden Ngabehi Ranggawarsita.

    Sebelum dapat buku itu, saya sempat berburu ajaran SSJ di sekitar Lemah Abang, Cirebon, tapi hasilnya kurang memuaskan. Ajaran itu hanya dibuka untuk para keturunan saja.

    Jadi, buku itu sangat dianjurkan untuk dibaca oleh yang merasa abangan. Jauh lebih lengkap dari link yang mas berikan. Harga hanya 27 ribu di Gramedia pada tahun 2007.

    Oiya soal abangan dan putihan itu, dulu basic-nya putihan. Karena banyak pertanyaan yang tidak terjawab dan setelah menjalani laku-pun ternyata juga tidak bisa dibuktikan, akhirnya bergeser ke spiritual Jawa, yang saya sebut abangan karena ada pergeseran metode ritual tetapi tetap mengacu pada Nur Muhammad dan scripture yang ada. Ternyata di abangan-pun banyak yang tidak terjawab karena abangan juga masih menggunakan konsep kawula dan gusti, yang menyembah dan yang disembah. Katanya Tuhan itu jan-jane kosong, suwung. Menurut saya bukannya suwung, tetapi tidak mungkin terdeteksi, karena keterbatasan akal dan rasa (rahsa) manusia. Hanya bisa di nalar dengan pangangen-angen atau persepsi dan imajinasi saja.

    Akhirnya sekarang ada ditengah-tengah, warnanya merah muda, dan lebih mengarah pada “cinta dan kemanusiaan”, sama seperti yang diajarkan di semua agama. Kadang jadi putihan, kadang jadi abangan. Yang penting berusaha agar tidak pernah merusak alam semesta dan merugikan orang lain, karena enerji balikan dari kedua perbuatan itu akan sangat merusak proses pencerahan yang sedang saya jalankan.

    Ya begitulah kisahnya, dan tidak menutup kemungkinan bahwa kisah ini akan di-revisi atau diubah dikemudian hari untuk disesuaikan dengan perkembangan jaman. Jika ada kesamaan nama, tempat atau ajaran, mohon untuk dimaklumi bahwa itu hanyalah kebetulan belaka dan tidak dilakukan secara sengaja.

    Salam Sejahtera.

  23. sikapsamin says:

    Wooo…gitu to. Jadi ‘Merah-Muda’…malih enom lak an
    Jadi harus diganti dong “Lambang-Anom”, whuihh…kesannya ngungkuli Arjuna.

    Selamat mas “Lambang-Anom”…

    Gara-gara ‘Merah-Muda’.., jadi pingin ngeloni ibune bocah…

    Salam…Merah-Muda

  24. budi says:

    Yg sy tahu islam abangan ya tidak/kurang mementingkan ritual,,tapi titik beratnya laku.secara formal ya islam.wong dari leluhurnya ya gitu.Ya mambu tradidi jawalah.Kalau yang lain kan kearab2an.maaf..

  25. rakhmanu says:

    tulisan-tulisannya bagus mas,
    saya cuma anak kemaren sore, yg sering keluar masuk disini, tapi baru berani komen sekarang ini.

    Semoga mas dan para sesepuh di atas selalu dilimpahkan rahmatNya sehingga bisa terus berkarya dan memberi pencerahan-pencerahan bagi anak-anak kemaren sore seperti saya ini. :)

    • Lambang says:

      Santai aja mas. Semua orang pernah mengalami menjadi anak kemarin sore. Yang penting gimana caranya supaya kita bisa menjadi manusia besok pagi. :D

  26. semutngeleng says:

    umat Islam itu ibarat sebuah tubuh, kata abangan dan santri dihembuskan dlm rangka memecah belah, tubuh klo dibelah2 sangat menjijikkan.
    mungkin lebih tepat antara awam dan berilmu(ulama).
    orang awam ibarat kulit, ulama ibarat daging, tulangnya struktur pemerintahan,
    kepalanya Imam/Khalifah.
    Islam ibarat pohon, dimana akar(hukum) perlu tanah utk berdiri. Tempat berkeyakinan itu disebut Madinah, Tempat Islam, Daulah Islam

  27. arisandi says:

    islam abangan hanya sebuah istilah atu pernamaan yg di buat manusia, sama seperti halnya Tuhan, allah, yehowa atau paijo maupun vagina or appun itu smua hanyalah sebuah pangilan yg sebenarnya tidak boleh di bakukan menjadi pangilan yg mutlak. setia orang punya hak panggil apapun itu sam juga dengan ibadah sebenarnya jg itu hanya sebuah cara yang setiap orang punya hak buat menentukan caranya sendiri, tp yg pasti buat saya hidup itu tidak perlu di buat sulit tp yg penting bagimana qt menjalani kehidupan qt dengan kesadaran yg tinggi dan semuanya kembali pada nurani ap yang seharusnya qt lakukan,, innalillahiwainnailaihi rojiun, semuanya akan kembali kepada asalnya,, dan semua asal itu jg sebenarnya dari diri qt sendiri, ini hanya pendapat sy saja lo bisa jg tidak setuju

  28. bunga desa says:

    abangan itu berasal dari bahasa arab, aslinya aba’an. orang jawa, gak bisa baca ‘ain (huruf ke 12)tepat sprti orang arab. orang jawa membacanya sebagai ngain. contoh : ‘abdi – ngabdi; ‘ibadah – ngibadah; ‘ulama – ngulomo; syari’at – sarengat; dll. sedangkan arti aba’an itu ialah : yang meninggalkan / yang tidak taat. jadi para wali dulu memberikan julukan kepada orang islam yang tidak menjalankan syari’at, sebagai kaum aba’an (abangan). bukan abang yang berarti merah.

  29. rizki says:

    seng penting idup rukun gak gawe gelo ati tonggo wongliyo lan dulur sedoyo
    yen pancen gak ngerti ajo sok muni lakoni urep seng mesti kanggo sangu besuk yen wes mati di gae ngadep karo gusti

  30. punakawan bayuaji says:

    Lazim kita dengan bahwa yang dimaksud dengan Islam Abangan adalah stempel yang diberikan kepada orang yang mengaku Islam, tetapi belum menjalankan syari’at secara benar.

    Syari’at yang dimaksud disini bukan hanya Rukun Islam dan Rukun Iman saja. Untuk mengetahui syari’at secara benar, rasanya perlu waktu beberapa tahun dengan cara belajar, membaca Al-Qur’an dan Hadits, diskusi, berguru, istiqarah dan sejenisnya.

    Hal seperti ini yang membuat orang mencoba mencari cara instan untuk menjadi Muslim sejati. Gampangnya Islam Abangan adalah Islam KTP.

    Sedangkan yang bukan disebut Islam saja, tanpa embel-embel Islam Putihan. Demikian yang sering kita dengar.

    Namun bagaimana sebenarnya pengertian Islam Putihan dan Islam Abangan itu

    Kita coba simak peristiwa sejarah semasa berkembangnya Islam di Nusnatara khususnya Tnah Jawa semasa Wali Sanga.

    Kanjeng Sunan Giri Sebagai Pemimpin Kaum Putihan

    Dalam menentukan hokum agama yang pada saat itu memang sedang menghadapi ujian adanya masalah-masalah ummat yang pelik, Sunan Giri sangat berhati-hati, beliau kuatir terjerumus pada jurang kemusyrikan. Itu sebabnya beliau sangat berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang sahih.

    Ibadah menurut beliau haruslah sesuai dengan ajaran Nabi, tidak boleh dicampuri dengan berbagai kepercayaan lama yang justru bertentangan dengan agama Islam. Karena mahirnya beliau di bidang ilmu fiqih maka beliau mendapat sebutan Sultan Abdul Fakih.

    Di bidang tauhid beliau juga tak kenal kompromi dengan adat istiadat lama dan kepercayaan lama. Kepercayaan Hindu-Budha atau animesme dan dinamisme harus dikikis habis. Adat istiadat lama yang tidak sesuai dengan ajaran Islam harus dilenyapkan supaya tidak menyesatkan ummat dibelakang hari.

    Pelaksanaan syariat Islam di bidang agama ibadah haruslah sesuai dengan ajaran aslinya yang termasuk di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena sikapnya ini maka Sunan Giri dan pengikutnya disebut kaum Putihan atau Islam Putih.

    Islam Putihan ini artinya adalah dalam beragama mengikuti jalan lurus, putih bersih seperti ajaran aslinya. Pemimpin kaum putihan adalah Sunan Giri yang didukung oleh Sunan Ampel dan Sunan Drajad.

    Kalau ada Islam Putihan tentunya ada Islam Abangan, anak Islam Abangan ini adalah para pengikut Sunan Kalijaga yang didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati dan Sunan Muria.

    Tujuan Aliran Islam Abangan ini adalah agar Islam cepat tersiar keseluruh penduduk Tanah Jawa. Agar semua rakyat dapat menerima agama Islam, karena itu mereka berpendapat:

    1. Membiarkan dahulu adat istiadat yang sukar diubah, atau tidak merubah adat yang berat ditiadakan, sehingga tidak terjadi usaha kekerasan dalam menyebarkan Islam.

    2. Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi mudah dihilangkan maka ditiadakan.

    3. Mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat rakyat tetapi diusahakan untuk mempengaruhi sedikit demi sedikit agar mereka menerima Islam yang benar.

    4. Menghindarkan terjadinya konfrontasi secara langsung atau terjadinya kekerasan dalam menyiarkan agama Islam. Maksudnya ialah mengambil ikannya tanpa mengeruhkan airnya

    5. Tujuan utama kaum Abangan adalah merebut simpati rakyat sehingga rakyat mau diajak berkumpul, mendekat dan bersedia mendengarkan keterangan apa sih ajaran agama Islam itu ?

    Jadi tidak dibenarkan menghalau rakyat dari kalangan ummat Islam, melainkan berusaha menyenangkan hati mereka supaya mau mendekat kepada para ulama atau para Wali. Untuk itu tidak ada salahnya penggunaan kesenian rakyat seperti gending dan wayang kulit sebagai media dakwah untuk mengumpulkan mereka.

    Itulah pendapat kaum Abangan yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Perlu diketahui walaupun ada perbedaan dalam cara menyiarkan Islam, tapi pada waktu itu tidak sampai terjadi ketegangan kedua pihak masih sama-sama berfaham Ahlussunah waljamaah dan bermahzab Syafi’i.

    Kedua pihak sama-sama menyadari pentingnya pos mereka. Pihak Putihan menjaga kemurnian agama Islam agar tidak bercampur dengan faham yang berbau syirik.

    Sedangkan pihak Abangan adalah mengajak masyarakat atau rakyat secepatnya menjadi pemeluk agama Islam. Bila sudah menjadi pemeluk Islam tinggal menyempurnakan iman mereka saja.

    Peresmian Masjid Demak

    Dalam peresmian Masjid Demak, Sunan Kalijaga mengusulkan agar dibuka dengan pertunjukan wayang kulit yang pada waktu itu bentuknya masih wayang beber yaitu gambar manusia yang dibeber pada sebuah kulit binatang.

    Usul Sunan Kalijaga ditolak oleh Sunan Giri, karena wayang yang bergambar manusia itu haram hukumnya dalam ajaran Islam, demikian menurut Sunan Giri.

    Jika Sunan Kalijaga mengusulkan peresmian Masjid Demak itu dengan membuka pegelaran wayang kulit, kemudian diadakan dakwah dan rakyat berkumpul boleh masuk setelah mengucapkan syahadat, maka Sunan Giri mengusulkan agar Masjid Demak diresmikan pada saat hari jum’at sembari melaksanakan shalat jamaah Jum’at.

    Sunan Kalijaga yang berjiwa besar kemudian mengadakan kompromi dengan Sunan Giri. Sebelumnya Sunan Kalijaga telah merubah bentuk wayang kulit sehingga gambarannya tidak bisa disebut sebagai gambar manusia lagi. Lebih mirip karikatur seperti bentuk wayang yang ada sekarang ini.

    Sunan Kalijaga membawa wayang kreasinya itu dihadapan sidang para Wali. Karena tak bisa disebut sebagai gambar manusia maka akhirnya Sunan Giri menyetujui wayang kulit itu digunakan sebagai media dakwah.

    Perubahan bentuk wayang kulit itu adalah dikarenakan sanggahan Sunan Giri, karena itu, Sunan Kalijaga memberi tanda khusus pada momentum penting itu. Pemimpin para dewa dalam pewayangan oleh Sunan Kalijaga dinamakan Sang Hyang Girinata, yang arti sebenarnya adalah Sunan Giri yang menata.

    Maka perdebatan tentang peresmian Masjid Demak bisa diatasi.
    Peresmian itu akan diawali dengan shalat Jum’at, kemudian diteruskan dengan pertunjukan wayang kulit yang dinamakan oleh Ki Dalang Sunan Kalijaga.

    Sumber:

    1. ——————- Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Penerbit Buku Kompas, Desember 2006.
    2. ______, Serat Ajisaka Naskah tulisan carik Jawa, copy dari N.D. Perpustakaan Reksa Pustaka, Pura Mangkunegaran. Surakarta tanpa tahun.
    3. ________. Babad Demak II. Gina dan Babariyanto. Transliterasi Terjemahan Bebas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1981.
    4. ________. Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Jakarta 1989.
    5. ________. Babad Tanah Djawi versi L. van Rijckevorsel & R.D.S. Hadiwidjana (1925).
    6. ________. Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terjemahan). Narasi. Yogyakarta 2007.
    7. ¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬__________, (1987), Keselarasan dan Kebersamaan suatu penjelaja¬han awal. Prisma No 3, Tahun XVI Maret 1987.
    8. A. Latif Osman.
    Ringkasan Sejarah Islam, Widjaya. Jakarta 1992.
    9. Abdul Hadi, WM. Sunan Bonang, Perintis dan Pendekar Sastra Serat. Tulisan Lepas 1993.
    10. Abdul Munir Mulkan. Syekh Siti Jenar, Pergumulan Islam-Jawa.
    Yayasan Bentang Budaya. Yogyakarta November 1999.
    11. Abubakar Aceh, Prof. Dr. Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawwuf. Ramadhani. Surakarta 1989.

    12 Al Murtadho, H. Sayid Husein, dan KH Abdullah Zaky Al-Kaaf, Drs. Maman Abd. Djaliel. Keteladanan Dan Perjuangan Wali Sångå Dalam Menyiarkan Islam Di Tanah Jawa. CV Pustaka Setia. Bandung 1999.

    13. Clifford Geertz. Santri dan Abangan di Jawa. INIS. Jakarta 1988.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 41 other followers

%d bloggers like this: