Pandangan Hidup Jawa

anggrekIstilah “Pandangan Hidup Jawa” di sini mempergunakan pengertian yang longgar, jadi istilah ini dapat saja diganti dengan istilah-istilah lain yang mempunyai arti yang kurang lebih sama, seperti “Filsafat Jawa” (Abdulah Ciptoprawiro) “Filsafah Kejawen” atau istilah lain lagi. Tetapi pandangan hidup Jawa, ini tidaklah identik dengan “Aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa” atau “Islam Abangan” atau “Mistik Jawa” dan lebih-lebih dengan “ilmu-ilmu klenik”. Sementara itu beberapa istilah lain seperti “Agama Jawa” atau “Agama Jawi” (Koentjaraningrat), “the religion of java” (Clifford Geertz), dan lain-lain. Itu tidak identik dengan “Pandangan Hidup Jawa” sekalipun terlihat adanya beberapa segi persamaan.
Pandangan hidup Jawa bukanlah suatu agama, tetapi suatu pandangan hidup dalam arti yang luas, yang meliputi pandangan terhadap Tuhan dan alam semesta ciptaan-Nya beserta posisi dan peranan manusia di dalamnya. Ini meliputi pula pandangan terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk pula pandangan terhadap kebudayaan manusia beserta agama-agama yang ada.

Dengan meminjam istilah Bung Karno dalam pidato lahirnya Pancasila, pandangan hidup di sini adalah sama dengan Weltanschauung, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:1010) diberi arti sebagai “Sikap terhadap kebudayaan, dunia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya, serta semangat dan pandangan hidup terdapat pada zaman tertentu”. Jadi selain jelas bahwa pandangan hidup Jawa itu bukan suatu agama, jelas pula bahwa ia pun tidak identik dengan “regiositas Jawa”, karena cakupan pengertiannya lebih luas dari pada itu.

Berbeda dengan pendapat sementara pakar yang menyimpulkan bahwa ciri karakteristik regiositas Jawa dan pandangan hidup Jawa bukanlah sinkretisme tetapi suatu semangat yang saya beri nama tantularisme. Saya namakan demikian karena semangat ini bertumpu pada atau memancar dari ajaran Empu Tantular lewat kalimat kakawin Sutasoma:

Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, bermacam-macam sebutannya, tetapi Tuhan itu satu-tidak ada kebenaran yang mendua. Kalimat Empu Tantular ini jelas tidak hanya menekankan prinsip dan keyakinan tentang Keesaan Tuhan tetapi juga keesaan kebenaran! Disitulah letak semangat tantularisme yang merupakan inti pandangan hidup Jawa. Semangat semacam ini menjiwai dan menyemangati tidak hanya religiositas Jawa saja tetapi juga semua unsur dan aspek kebudayaan Jawa. Sifat karakteristik budaya Jawa yang religius, non doktriner, toleran, akomodatif dan optimistik itu terbentuk secara kokoh diatas fondasi tantularisme ini.

Budaya Jawa dan pandangan hidup Jawa memang telah dan akan selalu mengalami perubahan dan pergeseran sesuai dengan perkembangan jaman. Tetapi sejarah telah membuktikan bahwa perubahan-perubahan itu selama tidak sampai mencabut pandangan hidup Jawa dari akar dan sumber kekuatannya, yaitu tantularisme, yang adalah juga merupakan kristalisai dari proses sejarah yang amat panjang. Disinilah letak kekuatan budaya Jawa yang harus tetap dipertahankan dengan sadar. Semangat tantularisme yang merupakan sumber kekuatan Jawa itu sebenarnya bukan hanya cocok untuk orang Jawa. Ia bersifat universal. Oleh karena itu tantularisme juga merupakan sumbangan yang sebenarnya amat diperlukan oleh umat manusia sekarang ini

Permusuhan dan perang antar etnik, persaingan, kebencian dan kecemburuan antar pemeluk agama yang telah mengorbankan beribu-ribu nyawa manusia yang senantiasa terjadi sampai sekarang ini, semuanya akan dapat diredam oleh semangat tantularisme yang damai, sejuk dan bernafaskan asih ing sasami. Tantularisme memancarkan cinta kasih kepada sesama, yang juga diajarkan oleh semua agama yang dipeluk oleh orang-orang yang membenci itu! Islam, Kristen, Hindu, Budha, Sikh, dan lain-lain, semuanya mengajarkan cinta kasih kepada sesama. Ironisnya sementara ini banyak pemeluknya saling membenci dan bermusuhan! Atas nama agama?

About these ads

24 Responses to Pandangan Hidup Jawa

  1. hehehe.. iya kangmas lambang.., apa karena semua itu terlalu terlena dengan dogtirn – doktrin dogmatis ya.. atau dalam segi manusiawinya.. yang tidak bisa menguasai sifat nar-nya..? semoga dengan semangat tantularisme, PANCASILA.. kita menjadikan diri kita insan yang penuh kasih sayang antar sesama .. memayuhayuning bebrayan dan bawana, berbeda tapi tetap dalam semangat satu persatuan dan kebersamaan… jauhi kebencian dan saling menghujat.., berbeda .. muara tetap sama..,

    salam sihkatresnan

    Rahayu,.

  2. Lambang says:

    Iya mas Hadi. Semuanya itu diciptakan memang untuk keseimbangan alam. Ada kiai ada maling. Ada persahabatan ada permusuhan. Ada Amarta ada Astina. Kalau ngga ada penyeimbang ya lakonnya kurang seru. Lakon Mahabarata jadi monoton. Otomatis dalangnya yang akan kena hujat dan dilempar sandal.

  3. kangBoed says:

    hmm.. *ngelirik atas*.. akhirnya si mBaaah buka lakon.. jadi dalang.. wer eweeer.. ewer bablas angine.. *ambil tiker+kopi*.. glesoooot sambil rokoan.. dengerin mBaaah Lambang.. buka Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating diyu.. *manggut manggut*.. *melongo dongo*.. terdiam.. terpana..
    Salam Sayang

  4. huehehehe… plethak… sendal kena pala dalang.. saking kaget reflek langsung nggedog kothak.. musik bertalu talu.. lanjut perang cakilll., tapi perang kembang lhooo… kang lambang…hehehe..

    rahayu..,

  5. Lambang says:

    Untung dalange ngga latah jorok… menthungi kenong… ning unang anung…

    Salam.

  6. eeelhadhalah .. kangboed.. njedul disini.. hehehe… kumaha kangboed.. punten, iya lagi dapat kawruh dari kang lambang.., mau wayangan.. dalangnya dilempar sendal.. gara gara lakonnya ga jalan… mau perang musuhnya ga ada.. karena sang dalang ga tega gabruk gabrukin wayang.. jadi diganti perang kembang… hehehe joged sendiri… , nyuwun ngapunten kang lambang…, numpang ngeyup paseban panjenengan .. lha kangboed sampun ngglesod ngopi dan rokoan.. malah rumah sendiri ditinggal suwung…,

    salam sih katresnan

    rahayu..

    • kangBoed says:

      hihihi… harap maklum mas… daaah bawaan orooknya jadi komentator.. hehehe.. makanya senang keliling keliling cari tempat menclooook.. mana aja ada makanan enaaak.. kopi dan rokoan.. pasti enjeduul.. hehehe..
      Salam Sayang

  7. kangBoed says:

    hmm.. *Narsis ON*.. makanya.. jangan sembarangan menclooook.. jadi kena tonjok di kira laleue kalee.. hehehe..
    Bhineka Tunggal Ika.. mari kita tanamkan bersama.. indahnya kebersamaan dalam perbedaan dengan menegakkan spirit islam.. Rahmatan lil allamin.. hehehe.. tebarkan cinta dan kasih sayang.. sini mbaah tak ciuuuuum.. cup cuup cuuup.. celepooot…
    Salam Sayang
    Salam Kangen

  8. Kejawen adalah the way of life, sebenarnya bukan saja untuk orang Jawa atau yang tinggal di pulau Jawa.
    Kejawen adalah sebuah ajaran yang memandang keseluruhan isi semesta, baik dari segi makrokosmos (jagad gedhe) maupun dari mikrokosmos (jagad cilik).
    Dan jikalau akhirnya bersinergi dengan Agama Islam, karena kejawen menemukan chemistry-nya. Chemistry itu timbul karena Islam, adalah messenger yang membawa manusia kembali ke fitrah. Meskipun ada juga yang mengatakan kejawen merupakan suatu artikulasi ulang terhadap Islam di Tanah Jawa, hal ini yang menyebabkan kejawen disebut ISLAM VERSI JAWA.

    Salam Brrrrr
    ==========================
    Lambang:
    Untuk tambahan informasi, kejawen sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Jadi yang disebut Islam versi Jawa itu mungkin Kejawen Part Two.

  9. Kalau boleh tahu, informasi tersebut darimana?

    Saya lebih sepakat kalau kejawen itu merupakan paham filsafat produk nusantara daripada disebut sebagai Islam Versi Jawa, ataupun salah satu sekte Islam. Meskipun kelihatan semua platform-nya didominasi oleh pandangan Islam, terkhusus oleh aliran Sufi Aliran Mesir dan Kufah.

    Salam Brrrrr
    Dari Orang Awam

    • Lambang says:

      Ada baiknya kita samakan persepsi dulu tentang definisi kejawen. Kejawen adalah falsafah hidup orang Jawa yang didasarkan pada budaya Jawa. Falsafah sejenis ini bisa saja dianut oleh suku non-Jawa, tetapi jelas namanya bukan kejawen lagi.
      Dari sejak Jaman Majapahit, kejawen sudah ada. Bisa dilihat pada Kitab Pararaton dan Negarakertagama. Pada waktu itu kejawen bersinergi dengan kebudayaan Hindu dan Buddha.
      Setelah agama Islam masuk ke Jawa pada masa Raden Patah, budaya Hindu dan Buddha mulai ditinggalkan dan kejawen kembali bersinergi dengan budaya Islam. Kejawen kelompok inilah yang sekarang tersebar di seluruh Jawa. Makanya saya istilahkan dengan Kejawen Part Two, yaitu kejawen yang telah bersinergi dengan budaya Islam. Kalau ada istilah baru yang menyebutkan Islam versi Jawa, ya mungkin maksudnya Kejawen Part Two ini.

      Referensi Pararaton ada di http://bharatayudha.multiply.com/recipes/item/45/Kitab_Pararaton.

      Salam Persaudaraan
      *dari orang awam juga*

  10. KangBoed says:

    *ngelirik atas*.. enggak jadi pergi yaaaa.. mbaaaah.. syukuuuuuur..
    Salam Sayang :mrgreen:

  11. Yudi says:

    Menurut terawangan Yudi ke masa lampau, ada sifat yang buruk yang dimiliki oleh Nenek Moyang orang Jawa, yang sifat itu kemudian ditularkan turun temurun hingga ke Anak Cucunya masa kini, hehe. Konon dulunya Jawa dihuni oleh Gerombolan Pythecantropus yang kepala sukunya dipilih diantara mereka yang temperamental terhadap segala sesuatu, terutama yang dipandang dapat menjamin kelestarian hidup mereka. Kepala suku yang paling karismatik bernama Pythecantropus Erecsiantus, yang menurunkan garis keturunan HRI dan SP, serta AG. Ini dulu pengantar dari saya, ntar kalau lolos sensor Yudi lanjutin kronologi ceritanya, bagaimana?

    ==============================
    Lambang:
    Ok, dilanjut… Kayanya bakalan saru nih, ada ereksi… Siap-siap kena semprit…
    ==============================

  12. Yudi says:

    Jangan suudhon dulu, masyak erecsiantus mas Lambang hubung-hubungkan dengan ereksi. Ok dilanjut? Lazimnya para pemimpin Parpol dalam meraih simpati para konstituennya, sang erecsiantus senantiasa menanamkan falsafah “Dimana Bumi Dipijak Disitu Bumi Dijunjung”.

    ==============================
    Lambang:
    Bukannya “Langit dijunjung” ? :mrgreen:
    ==============================

  13. Yudi says:

    Maksudnya Manusia Purba Nenek Moyang orang Jawa itu hidup menyatu dengan Alam. Mereka belum mengenal cara bercocok tanam, tetapi pemenuhan kebutuhan perutnya tidak menjadi soal, karena lingkungan alam tempat dimana mereka yang subur nan Gemah Ripah Loh Jinawi menyediakan kebutuhan hidupnya. Buah pepaya dada dan pisang p*l*r, tinggal mereka petik. Demikian pula dengan persoalan pemenuhan hajat seksualnya. Meskipun sama sekali tidak mengenakan busana, tetapi pythecantropus laki-perempuan berpapasan dengan nyantai, Mereka umumnya berbegituan ramai-ramai 2 hari sekali dikali, dan kala itu sama sekali tidak pernah terjadi tindak pemerkosaan, apalagi cuman sekedar colak colek buah d*d* atau senggal senggol tongkat, karena Ericsiantus pemimpin mereka bakal segera mengenakan sanksi bagi si pembuat rusuh. Pythecantropus laki dikenakan hukuman ber push-up persis dengan yang diperintahkan pak taka di sinetron OB, sedang yang wanita cukup diminta untuk berkayang dihadapannya, Kali-kali pythecantropus wanitanya sedari dulu sudah bahenol, he..he..Jadi kayang merupakan olah raga asli Komunitas Kejawen. Benar begitu mas Lambang?

    ==============================
    Lambang:
    Tuh kan, ternyata su’udzon saya bener. Sarung bin ngeres. Ngawur itu soal olahraga kejawen. Kayang apa pamer onderdil? Harus ganti komen, ga nyambung… :mrgreen:
    ==============================

  14. Intan says:

    Jadi begitu toh bung Yudi jalan ceritanya. Ajaran Dharmogandul itu untuk mengenang sang Erecsiantus yang tidak pakai cawat. Kalau Gotholoco itu pasti mengenang hobi Pythecantropus lakik yang ndak laku kawin. Intan jadi percaya dech kalau Pengikut Kejawen kuat bersemidi, lha wong olahraganya Kayang. Trim ya bung Yudi atas pencerahannya. Buat Pak Lambang sukses selalu ya, ma kasih.

    ==============================
    Lambang:
    Wis… jan… Podo ngerese sama mas Yudi. Mosok g*ndule mbah Dharmo ikut dibawa-bawa… :)
    Salam kembali mbak Intan, titip juga buat mbah g*ndul…

    ==============================

  15. Yudi says:

    Kawan-kawan, diawal saya katakan ada satu sifat buruk yang diturunkan nenek moyang penganut ajaran Dharmogandul, Gotholoco, dan sejenisnya, apa itu? Begini. Terlihat dari falsafah yang dianut kawanan dimana Bumi dipijak disitu Langit dijunjung. Falsafah itu nunjukin kalau hanya bumi yang dipijaknya hanya sebatas hamparan kebun yang mereka pandang, sehingga wajarlah kalau kawanan merekalah satu-satunya penghuni di muka bumi ini. Dan para Pythecantropus itu percaya Erecsiantus sang pemimpin mereka adalah yang terhebat. Tapi, siapa nyana suatu ketika datanglah gerombolan kawanan Pythecantropus lain yang postur tubuhnya lebih pendek dari kawanan mereka. Sama sekali tidak ada peperangan saat itu, namun Pythecantropus pendatang itu dapat dengan mudah menguasai daerah itu. Mengapa perampasan kawasan jawa saat itu terjadi dengan mudah? Ternyata penyebabnya sepele, walaupun ukuran tubuh pendatang itu lebih pendek namun ukuran Mr.p Pemimpinnya jauh lebih gagah dan kekar, sehingga disamping Erecsiantus minder takut ditantang adu Panco antar Mr.p, para Pythecantropus wanitanya banyak yang berpolah menarik perhatian Pythecantropus lakik pendatang. Itu terlihat dari kayang yang mereka pertontonkan padahal mereka sedang tidak dikenakan hukuman.

    ==========================
    Lambang:
    Pythecantropus yang pendek itu dulu dikenal dengan nama Pythecantropus Bantetus. :cool:

    ==========================

  16. Intan says:

    Susah ngebayanginnya panco antar mr.p itu bung Yudi, apalagi dihelat antar Pythecantropus, gimana gaduhnya sorak sorai supporternya yah, hehehe….Jangan-jangan ada benernya juga sifat buruk yang mereka turunkan itu. Kita kan umumnya cepat wellcome terhadap pengaruh luar, terlepas karena terkesima dan/atau takjub akan kekekaran mr.p orang-orang asing yang bung Yudi ilustrasikan itu. Intan jadi teringat waktu Indonesia dijajah jepang, mereka yang berbadan pendek saja dapat memperdaya nenek-nenek kita, apalagi Pemuda Arab ya kan om Lambang. Ianfu itu? Intan yakin kalau sebenarnya pemerkosaan yang isunya sama-sama menguntungkan kedua belak pihak itu sebenarnya diawali oleh rasa penasaran nenek-nenek kita terhadap mr.p nya orang jepang, koq imut-imut sih?

    =============================
    Lambang:
    Panconya Mas Yudi itu agak aneh. Kalau panco kan saling berusaha menekan ke bawah. Lha kalau Mr P sifat dasarnya kebalikannya.

    “… yang isunya sama-sama menguntungkan kedua belak pihak …”

    Nah, kalau isu yang ini saya belum pernah denger. Apa bener sama-sama menguntungkan kedua belak pihak? :mrgreen:
    =============================

  17. paijo says:

    sing penting slamet mas

    ======================
    :: Bener mas :)
    ======================

  18. nozz says:

    SEJARAH IMPERIALISME ISLAM DAN DAMPAKNYA PADA PERADABAN
    1. Imperium Islam dibawah Muhammad dan generasi penerusnya sejak abad 7 hingga sekarang (selama 14 abad) melakukan penaklukan sebagian besar wilayah dimuka bumi ini dg alasan siar agama perintah Tuhan dalam kitab Al-Quran. Pada kenyetaannya siar agama oleh Muhammad dan kalifah dilakukan dg jalan pedang (perang). Siar Islam dg perang telah menelan banyak korban nyawa, harta benda, penghancuran peradaban budaya, penghancuran agama2 yg ada ditiap Negara, penghancuran ketataprajaan negara2, pendudukan/penjajahan bangsa lain atas nama siar agama Islam, pemanfaatan sumberdaya ekonomi didaerah siar agama. Sepak terjang imperium Islam menyiarkan agama Islam memiliki maksud yg terselubung menguasai hajat martabat kedaulatan bangsa lain. Kemenangan imperium Islam menguasai Asia dan Eropa menimbulkan perlawanan bangsa2 didunia untuk mempertahankan wilayah dan budayanya. Dominasi imperialisme Islam telah menyulut adanya Perang Salib (perang antar agama) hingga ratusan tahun dan jatuh korban yg luar biasa.
    2. Imperialisme Islam, Katolik dan Kristen menjadi radikal dimuka bumi karena ajaran kitab2 nya masing2. Padahal mereka mengaku membawa siar agama dari langit (agama samawi). Masing2 kitab suci mereka mengatakan memerangi kafir adalah “Perang Suci (Jihad Fisabillillah)” jika mati menjadi “sahid/suhada” diampuni dosa2 nya dan dikehidupan berikutnya (reinkarnasi) akan masuk sorga. Semua doktrin agama saling mengkafirkan agama lainnya, membunuh kafir mendapat ganjaran sorga. Jika demikian maka perang antar agama dimuka bumi tidak pernah berkesudahan. Apakah Tuhan mengajarkan manusia untuk saling bunuh, apakah Tuhan mereka berbeda atau satu?. Jika demikian apakah kitab2 suci mereka semua palsu (rekayasa manusia yg mengaku nabi/utusan Tuhan) demi kepentingan kelompok/agama masing2? karena pada kenyataan sepanjang sejarah berabad-abad lamanya mengajarkan membolehkan saling bunuh semua kafir (tidak seagama)?. Bagi manusia yg berakal dan beriman percaya adanya Tuhan YME tentunya tindakan saling bunuh mencelakai mahluk ciptaan NYA tidak diperkenankan. Renungkanlah secara bijaksana dg segenap keimanan kepada Tuhan YME.
    3. Sesuai kemajuan jaman dan kesadaran hidup berkelompok/bernegara maka manusia dibelahan bumi lainnya menghindari “Perang Salib/Jihad Fisabillillah” telah bermunculan beberapa paham duniawi guna mensejahterakan kelompok/bangsanya yaitu “Komunisme Sosialisme” dan “Kapitalisme”. Mereka sudah cerdas dapat membedakan hidup berbangsa-bernegara (hablu minannas) sebagai mahluk Tuhan yg hidup rukun saling gotong-royong simbiose mutualistis dan hidup ber ke-Tuhanan (habluminallah) sebagai kehidupan pribadi masing2. Dua paham duniawi ini berkembang di beberapa Negara2 Asia, Eropa da Amerika seiring dengan kemajuan teknologi adanya “Revolusi Industri”. Dua paham duniawi ini menimbulkan kelompok negara2 Blok Timur (SEATO) dan Blok Barat (NATO), dua kelompok duniawi ini pernah berseteru menciptakan “Perang Dunia” 1 dan 2 serta “Perang Dingin” (operasi intelijen). Bubarnya Blok Timur tanda berakhirnya perang dingin, tiap2 negara didunia menjadi terbuka bersahabat guna memikirkan kesejahteraan rakyatnya masing2 dengan iptek dan sumberdaya masing2.
    4. Kapitalisme sebagai pemenang Perang Dunia 1, 2 & Perang Dingin memiliki kekuatan modal, iptek, senjata, militer , intelijen, politik hak veto di PBB saat ini merasa diatas angin menjadi polisi dunia mengintervensi beberapa Negara berdaulat dengan alasan penyelamatan bangsa dan kawasan/wilayah dari kezaliman rejim yg berkuasa pada Negara ybs. Namun dibalik itu ada maksud lain mengamankan dan menguasai bangsa tsb dg dalih sebagai Negara sahabat kerjasama menguras sumberdaya alam Negara ybs sebagai imbalan pengamanan. Pada kondisi jaman sekarang jangan coba2 suatu bangsa/Negara terjadi kekacauan bencana kemanusaan pemberontakan bersenjata, akan dating tiba2 polisi dunia mengamankan dan mencaplok sumberdaya yg ada. Pemerintah suatu Negara yg melakukan “Pembiaran” negaranya dikuras oleh kapitalis dapat berdampak timbul semangat gerakan nasionalisme baru suatu bangsa yg kembali terjajah, rakyat yg tidak puas biasanya melakukan aksi protes. Dampak “pembiaran” tsb memiliki potensi ketidakpuasan public yg memiliki pandangan nasionalisme bagi bangsa dan negaranya, serta paham internasionalisme karena terjadi penjajahan atas bangsa lain yg melanggar nilai2 humanisme kesetaraan hidup bangsa2 di planet bumi ini. Kapitalisme saat ini akan berhadapan dengan kelompok Nasionalis & kelompok internasionalis.
    5. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang secara terbuka diterapkan guna kemudahan dan kesejahteraan hidup manusia. Tumbuh kesadaran manusia untuk hidup berlompok/bernegara yg baik yaitu tumbuh memiliki budaya Nasionalisme dan internasionalisme dengan bangsa2 di dunia memiliki hak martabat kedaulatan kesejahteraan untuk bangsa-negaranya masing2 tanpa intervensi dijajah bangsa-negara lain.
    6. Ada dimana saat ini para imperialis agama yg belasan abad lalu mengajarkan sepak terjang sadis saling bunuh?. Mereka sudah tidak mendapat tempat , jika ada orang yg berambisi menghidupkan kejayaan budaya saling bunuh imperium/kerajaan agama2 masa lalu untuk masa kini maka jiwa mereka masih hidup di jaman kebodohan barbar penjajahan berkedok agama (ketinggalan jaman katenye). Manusia dunia jaman kini sudah berilmu berakal budi pekerti cipta rasa karsa merdeka, dapat memisahkan makna keimanan ber-Tuhan secara pribadi masing2 (habluminallah) dan kesadaran hidup rukun bersama berbangsa-bernegara (habluminannas). Ketidak puasan radikalis saat ini umumnya karena kebodohan-kekalahan diri sendiri (malas/tertinggal mencari ilmu duniawi dan ilmu ke-Tuhanan yg benar) tidak memiliki iptek dan imtaq guna nikmat hidup menyesuaikan perkembangan budaya manusia yg saling toleran gotong royong berbangsa bernegara dengan tenang damai di dunia dan akherat.
    7. Masyarakat dunia ini akan dapat tenang damai sejahtera lahir batin jika semua Pemimpin dan semua masyarakat bangsa-negara memiliki kesadaran nasionalisme dan internasionalisme dengan implementasi nyata konsisten mengamalkan sendi kehidupan bangsa-negara dengan berke-Tuhanan YME, berprikemanusiaan yg adil beradab, menjaga keutuhan persatuan bangsa-negara, memutuskan masalah bangsa-negara secara demokratis menyeluruh, berkeadilan social kesejahteraan bagi segenap seluruh bangsa-negara.

  19. Sugab ilakes BOSS.. B)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 41 other followers

%d bloggers like this: