Takdir Masuk Surga atau Neraka

heaven_and_hellHanya sebagai reminder untuk yang merasa sudah dekat dengan Allah maupun untuk yang masih merasa jauh dari Allah.

Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)

Kalau membaca hadist yang seperti ini, mendadak saya menjadi apatis dalam beragama dan dalam menjalani kehidupan. Apapun usaha kita dalam mendekatkan diri kepada Allah, ternyata bisa didahului takdir yang sudah ditentukan sebelumnya.

About these ads

27 Responses to Takdir Masuk Surga atau Neraka

  1. jebluk's says:

    Sedikit tambahan mungkin bisa nambahi pebendaharaan kang lambang.
    kata orang jawa : urip iki rak koyok wayang to, terserah dalange.
    Kalo orang kebanyakan : Hidup ini kaya pertunjukan akbar tergantung sutradara yang telah mengatus skenarionya, kita tinggal njalani.

    Sarana-sarana kehidupan manusia itu, kalau diibaratkan buah mangga, maka buah mangga itu masih bergantung di pohonnya. Meski buah mangga itu sudah diperuntukkan bagi seseorang, apabila orang tersebut tidak mau berusaha mengambilnya, maka buah mangga itu tidak akan datang sendiri kepangkuannya. Demikian juga, cara mengambil buah mangga itu, karena buah itu masih tergantung di pohonnya, maka haruslah dengan ada kemauan dan kemampuan serta sarana pendukung yang memadai. Yang demikian itupun juga sunnatullah yang sejak ditetapkan tidak akan ada perubahan lagi untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan jatah2 yang sudah ditentukan bagi dirinya itu, selama hidupnya manusia harus berbuat dan berusaha. 2 Kaitan jatah ini Allah Ta’ala telah menyatakan dengan firman-Nya yang artinya: “Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan akan keutamaan(yang sudah ditentukan bagi)nya”.QS.Hud/3.

    kita diciptakan untuk menyembah kepada allah
    kita diciptakan di dunia ini sebagai kholifah bumi
    Disini udah diturunkan rambu-rambu dan yang mengajarkannya.

    Terserah kita mau ikut rambu rambu dan yang mengajar atau kemaun kita. Pada hakekatnya semua yang terjadi atas kehendak yang maha kuasa

    Ditempeku ada sedikit ulasan tentang Qoda dan Qodar kalo tertarik tuk membaca…….
    tapi ala kadarnya…
    Semuga kang lambang beserta kluarga di berikan kesehatan slalu…..

  2. Dr puguh says:

    wah
    Bingung dech sbg orang awam, but I would say yg penting doing
    best
    syariat, shg Allah Swt give rahmat to enter heaven

    • Lambang says:

      Pak Dokter, salam kenal,
      Mudah-mudahan semakin bingung. Artikel ini memang dibuat untuk menularkan kebingungan saya kepada yang lain. Makin banyak yang bingung, berarti saya ngga’ bingung sendirian. Target tercapai. Hi.. hi…
      Makin banyak belajar, makin merasa ngga’ ngerti apa-apa. Ngga belajar, malah ngga’ ngerti apa-apa. Nekat sebodo amat, takut resiko-nya. Duh, semaking bingung…..
      Memang benar yang Pak Dokter bilang, jalani saja syari’at dengan benar, dan jangan lupa bersihkan hati dari riya, takabur, ujub dan pertinggi empati terhadap sesama. Lulus yang ini saja sudah luar biasa. Saya yakin akan mendapatkan door prize dari Allah.
      Apalagi bisa lulus tingkat lanjut…. :)

      Salam.

      • kangBoed says:

        waaaaaaah.. ruuaaaar biasa mas lambaaaaang.. *manggut manggut*.. sambil duduk.. dengerin mas lambaaang.. mudah mudahan kecipratan ilmunya..
        Salam Sayang

  3. Lambang says:

    Rada deket sini Kang, biar nyipratnya lebih terasa…

    • kangBoed says:

      waaaah basaaaaaaaah maaas.. *pusing*.. hihihi.. baru makan jengkol.. campur duren.. *tutup muka*.. pulang dulu mas mau mandi..
      Salam Sayang

  4. Mas Ali says:

    Masalahnya kita tidak tahu kita ditetapkan yg mana. Kamu merasa ditetapkan di bagian yg mana? :D

  5. kangBoed says:

    yaaaaa.. entu die.. beneeer tuuh.. makanya mari kita melangkah.. mencari tahu jawabannya sampai ketemu.. tanyain sama nyang paling tahu sebenarnya jatah kita dimanaaaa.. ayo dah jangan diam saja.. ikuuut sama mas Lambaaaaaaaaaaang.. ikuuuuuuut..
    Salam Sayang

  6. b0nK says:

    baiknya kita selalu berbaik sangka pada Qadha’ dan Qadar dari Allah.. toh kita cuma makhluk, sdh sgt bagus sekali Beliau berkenan meng”ada”kan kita.. soal nanti kita mo di-apa-bagaimana-kan oleh-Nya, ya itu terserah Beliau lah sbg Sang Khaliq..

    ini bukan soal “adil” atau “tidak adil” menurut kita manusia, karena ini sdh masuk “wilayah ke-Maha-Kuasa-an” Nya atas segala sesuatu. bukankah sifat “Maha Kuasa” sekaligus juga menyiratkan makna “bisa berbuat apa saja sekehendak kemauan-Nya sendiri”??

    konsekuensi logisnya: Beliau mmg sangat berhak dan berasalan untuk bersikap “diktator”.

    cuma masalahnya kan, walaupun jelas2 Beliau “bisa/mampu” utk itu, tp apakah Beliau “mau” melakukan itu, kan kita mustahil mengetahuinya..

    ya sbg makhluk, mmg baiknya kita terus belajar utk bersabar dan bersyukur saja.. karena buit-up “pabrikan” kita sbg manusia mmg secara inheren doyan berkeluh-kesah, pendek pikir dan tak pernah cukup pintar bersyukur..

  7. Lambang says:

    Konsep bersabar dan bersyukur itu dulu pernah saya pakai, tapi sekarang sudah saya tinggalkan karena ada beberapa kejanggalan logika:
    1. Menganggap bahwa Tuhan seperti sosok manusiawi
    2. Ada kesalahan pengertian tentang Qadha dan Qadar
    3. Konsep itu mengajak saya untuk menjalankan egoisme spiritual
    4. Konsep itu mengajak saya agar selalu memerintah Tuhan (berdoa adalah perintah yang diperhalus)
    5. Konsep itu mengajak saya untuk tidak ‘struggle for life’ dan tidak mengutamakan kebahagiaan sesama dan kedamaian dunia

    Sekarang saya menjalankan konsep bagaimana menjadikan diri ini agar lebih bermanfaat bagi sesama dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini. Semua kejadian sudah diatur oleh hukum alam, hukum Illahiyah, dan inilah yang disebut dengan Qadha dan Qadar. Tidak ada konsep tentang sosok Tuhan yang bisa semaunya dan juga tidak ada konsep penghambaan karena alam beserta seluruh isinya ini adalah evolusi dari Tuhan. Semua adalah cerminan Tuhan dan semua manusia bisa menjadi ‘Tuhan kecil’ dengan berbagai sifat yang Maha Baik, Maha Penyayang dan Maha Bijaksana.

    Yah, itu hanyalah konsep menurut saya. Tidak bisa dibahas karena toh semua itu hanyalah imajinasi dan persepsi yang ada dalam pikiran kita.

  8. Wah, Brat!
    Rupanya takdir dah ada di sini.

    Walau sebagai rimainder, rasanya belum pantas kita mengidamkan Surga sebelum kita tau percis untuk apa kita dilahirkan dan mengapa kita dilahirkan?

    Kita perlu merenungkannya sendiri-sendiri telebih dahulu, kemudian memikirkannya dalam-dalam lalu mewujukan pikiran itu pelan-pelan tapi sungguh-sungguh. Dgn begitu Surga Neraka bukan lagi persoalan, kali!

    Salam Damai!

  9. Lambang says:

    Lho Brat!

    Sudah ngga ada takdir, yang ada hanyalah hukum alam ilahiyah yang oleh sebagian orang dianggap sebagai takdir (Qadha dan Qadar). Batu dilempar ke atas dan jatuh, itu bukan takdir. Kita dilahirkan juga dari proses, dari evolusi, bukan takdir murni Tuhan menciptakan si A atau si B dengan berbagai penyimpangan kelakuannya.

    Nah, soal untuk apa kita dilahirkan, itu yang sampai sekarang masih jadi pertanyaan abadi. Untuk kebaikan alam dan umat? Boleh juga. Untuk keseimbangan alam dan primata? Bisa. Untuk menuh-menuhin bumi? Bisa juga. Untuk menuh-menuhin surga dan neraka nanti? Boleh jadi.

    Yang penting bagaimana membuat diri ini menjadi bermanfaat bagi alam dan umat. Soal nanti dapat bonus atau hukuman, ngga perlu dipikirin lagi… jadinya Surga dan Neraka memang sudah bukan masalah lagi.

    Salam Damai.

  10. Akur lah!

    ======================
    :: Hehe… akur juga dah! :)
    ======================

  11. b0nK says:

    ya itulah keterbatasan kita sbg manusia, yg sering pongah hendak menakar Ke-Maha Besar-an-Nya hanya bermodal akal dan rasa.

    soal “sabar” kita bisa melihat teladan Rasulullah ketika beliau dilempari batu dan kotoran saat berdakwah di kota Tha’if, hingga memar dan berdarah.
    bahkan sang Jibril sampai2 “emosi” melihat kekasih-Nya dianiaya begitu dan bertanya: “Wahai Muhammad, apakah engkau menghendaki supaya gunung itu kutimpakan keatas mereka?”
    jawab Rasulullah: “Tidak! Sesungguhnya mereka belum mengerti. Semoga Allah memberi mereka hidayah dan rahmat-Nya.”
    kemudian Rasulullah berdo’a pada-Nya: “Ya Allah, ampunilah mereka, karena sesungguhnya mereka tidaklah mengerti. Dan mengenai diriku (yg terluka), asal Engkau tak murka padaku, maka aku berserah kepada-Mu.”

    sulit dibayangkan bagi kita utk bisa memohonkan ampunan utk org2 yg telah menyakiti kita, bukan?

    kalo utk “syukur”, sekali lagi kita kembali pada teladan Rasulullah, ketika suatu malam kaki beliau bengkak lantaran banyak sekali melakukan shalat malam.
    saat itu Aisyah RA, istri beliau, bertanya: “Ya Rasulullah, mengapa engkau sampai bersusah payah seperti itu dalam beribadah, bukankah semua dosa2 Rasulullah (yg tlh lalu maupun yg akan datang) sudah diampuni Allah dan engkau dijamin masuk surga?”
    jawab Rasulullah: “Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yg bersyukur”.

    jd sebenernya agak aneh juga kalo dikatakan bahwa sabar & syukur itu sampai menimbulkan “kejanggalan logika”.
    mungkin karena ia “baru” dijalani pd tataran “konsep” (pemikiran), dan belum pada level “laku”.
    padahal kita “dinilai” bukan berdasarkan “apa yg kita pikirkan”, melainkan atas “apa yg kita lakukan”.
    tapi ya monggo saja kalo memang diyakini seperti itu, semua toh kembali pada pribadi masing2 kan..

    Allah dan Rasul-Nya sangat “demokratis” kok..

  12. Lambang says:

    Coba direnungkan lagi kalimat saya yang ini:
    “Sekarang saya menjalankan konsep bagaimana menjadikan diri ini agar lebih bermanfaat bagi sesama dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini.”. Ini sesuai tidak dengan jalan Islam? Apakah ini hanya pikiran? Bukan suatu laku?

    Ada baiknya kita tidak usah memaksakan kepada orang lain apa yang menurut kita paling benar. Dengan cara demikian, kita bisa membina hubungan habluminannas yang baik.

    Salam.

    • b0nK says:

      waduh, mohon maaf yg sebesar-besarnya kalo komentar saya mas anggap sbg sebuah “pemaksaan”. saya disini juga cuma numpang belajar bareng2 kok.

      mungkin karena hal ini bagi mas adalah:
      “Yah, itu hanyalah konsep menurut saya. Tidak bisa dibahas karena toh semua itu hanyalah imajinasi dan persepsi yang ada dalam pikiran kita.”

      kalo menurut saya, justru karena “equipment2″ yg kita miliki (antara lain ya imajinasi dan persepsi itu td) sangat terbatas utk mengukur kedalaman rahasia-Nya lah, maka kita perlu terus belajar, mengkaji ulang dan mempertanyakan kembali konklusi2 yg tlh kita buat dgn salah satu equipment tsb.

      antara lain melalui diskusi2 spt dlm blog mas Lambang yg bagus ini, yg tentu saja salah satu tujuannya adalah membina hablum minannas yg baik spt kata mas diatas. terlebih karena kita sama2 para pembelajar yg tengah berusaha menjadi orang yg lebih baik dan lebih dekat pd kebenaran.

      diantara bentuk hablum minannas tsb, menurut pemahaman saya yg masih dangkal ini, adalah spt yg difirmankan-Nya melalui surah Al-Ashr ayat 3, yaitu: saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan menetapi kesabaran.

      jd atas semua kata2 saya yg mas anggap kurang berkenan, sekali lagi saya mohon maaf,, dan harap dimaklumi pula segala kekurangan saya dlm menyampaikan komentar.

    • Lambang says:

      Sama-sama mas. Saya juga masih banyak belajar. Belajar spiritual (atau agama) itu ngga ada habisnya. Sampai ajal tiba baru bisa dianggap selesai.

      Saya mengganti konsep Ketuhanan karena ada pemahaman baru yang saya pelajari dan dari hasil cross-check dengan scripture yang ada ternyata banyak memiliki kesamaan, walaupun arti yang tersurat mungkin bisa jauh berbeda dengan arti yang tersirat. Cross-check itu juga saya lakukan terhadap pengalaman masa lalu dan bagaimana hasil akhirnya pada waktu itu.

      Dalam pemahaman saya bersyukur itu tidak perlu diucapkan dengan kata. Harus dilakukan dengan perbuatan. Percuma baca Alhamdulillah ribuan kali atau sujud syukur tapi itu hanya untuk diri kita. Itu adalah egoisme spiritual. Lalu untuk orang lain mana? Bukankah agama Islam diturunkan untuk kebaikan umat manusia?
      Demikian juga dengan bersabar. Misalnya ada ibu yang berkata begini: ‘Yang sabar dan tawakal ya nak, ini memang sudah takdir Tuhan’. Ini adalah kalimat yang menyalahkan Tuhan. Karena itu konsep bersabar semacam ini juga sudah saya tinggalkan. Jangan diasumsikan bahwa tidak bersabar itu sama dengan tidak sabaran (emosi). Itu lain.

      Tetapi karena dua item itu tidak pernah disebutkan di Al-Qur’an maupun Hadist, bahkan terkesan melawan firman, makanya saya tidak bisa berargumentasi yang berdasarkan scripture.

      Saya juga minta maaf kalau dianggap menuduh mas b0nK terkesan memaksakan kehendak agar saya mengikuti ajaran seperti yang mas pahami. Mari kita sama sama belajar tentang agama dan ketuhanan, karena dalam agama dan keimanan apapun, pasti banyak unsur persepsi dan imajinasi yang bermain.

      Salam.

      • Menarik,

        Tetapi karena dua item itu tidak pernah disebutkan di Al-Qur’an maupun Hadist, bahkan terkesan melawan firman, makanya saya tidak bisa berargumentasi yang berdasarkan scripture.

        Walau benar tidak disebutkan bukan berarti salah. Dan yg disebutkan pun bukan berarti mutlak benar sesuai text. Sebutan yg sekitab itu adalah manual rohani. Yg rohaniah tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Maka dari itu ada sebutan “walau dua laut jadi tinta takkan cukup menuliskan sebutan-sebutan seruruhnya”.
        Jadi, dalil-dalil itu tak mungkin hanya sekitab tok. Kita perlu rajin menggali yg ada di belakang sebutan-sebutan itu dan rajin menggapai apa yang ada di depan-depannya. Jangan hanya tau yg ada padanya tok. Begitu menurutku!

        Salam Damai!

      • b0nK says:

        ya mmg gitu mas..

        pd konteks bahwa Islam dihadirkan dalam hidup kita oleh “lingkungan terdekat” kita dlm bentuknya yg “sudah jadi” atau “baku”, tak aneh kalo kemudian saat menjalani kehidupan ini “sebagaimana adanya” kadang kita “terbentur” dgn beberapa “paradoks”.

        ini umumnya terjadi pd mereka yg terlahir dlm keluarga muslim. namun saya banyak menjumpai kasus yg berkebalikan dari itu, justru pd mereka yg muallaf, yg terlebih dulu menjalani sebuah proses “menjadi muslim”.

        mungkin ada baiknya kalo kita mengikuti jejak Rasulullah di masa pra-kenabian beliau:
        berkontemplasi di keheningan “gua Hira'” kita masing2 utk mendapatkan pencerahan “Iqra'” saat proses “meng-Islam” itu tiba dipuncaknya.

        belajar menjadi “Muhammad-Muhammad” abad 21, dgn sedapat mungkin merujuk pd tuntunan yg sdh ada (karena gimanapun toh kita terlahir belakangan), tanpa kehilangan ghirah spiritual ataupun daya kritis ruhani.

        dgn begitu “missing link” dlm pemahaman kita ttg Ketuhanan (dengan begitu sekaligus juga ttg Kemanusiaan), akan terjembatani. dan secara spiritual kita jadi lebih dalam dan kaya.
        seperti kata mas Lambang: kita tdk lagi perlu terjebak semata2 oleh ritual keagamaan yg hanya di “kulit luar” dan “egoistis”.
        karena mmg betapa “tipis”nya keimanan/beragama yg sekedar beritual saja.

        tp sungguhpun kita sdh berikhtiar semampu kita, toh kita dibatasi oleh ketidaksempurnaan kita, yg utk hal ini berusaha kita redakan melalui komparasi dan referensi.
        karena kalo kita mendasarkan seluruh “pegangan” semata pd hasil olah-pikir dan olah-jiwa kita sendiri (personal secara mandiri), maka kita tidak akan pernah mendapatkan konfirmasi ataupun negasi. sementara kedua hal tsb berperan vital dlm proses “penalaran kritis” yg tak lain adalah penjamin bahwa kita mengalami progresi, spt yg diniatkan dlm ikhtiar kita sedari mula.

        akal yg Beliau anugerahkan pd manusia mmg sungguh menakjubkan, membuat manusia jadi makhluk yg exceptional. namun kita perlu berhati-hati memainkan “pisau logika” utk membedah semesta rahasia-Nya, krn pisau itu “bermata dua”, spy ia tak jd bumerang.

        gimanapun, dihadapan-Nya, kita mmg tak bisa lain kecuali takjub (shg kita jd lebih berendah hati) dan sadar diri (shg membuat kita lebih dewasa).
        jd sekalipun Beliau membebaskan kita utk berbuat “apa saja” sesuka kita (selama kita mau dan mampu menerima segala konsekuensinya), toh ada “limit” dlm jiwa kita sendiri yg “menuntut” kita agar mematuhi “etika kemakhlukan”, terutama saat face-to-face dengan-Nya, Yang Maha Sempurna.

      • Lambang says:

        Yang sedang saya lakukan saat ini adalah berkontemplasi di ‘gua Hira’ itu dengan dibantu penuntun. Pemahaman terhadap kitab saja tidak akan mencukupi. Kitab yang ada juga mengandung beberapa paradox abadi yang belum terpecahkan sampai saat ini.

        Kontemplasi ini tidak bisa berhasil secara cepat. Sangat tergantung pada individu. Bisa bulanan atau tahunan.

        Harapannya nanti, kontemplasi itu akan memberikan pemahaman yang jauh lebih lengkap dibandingkan hanya mendalami kitab dengan bimbingan guru, yang pada dasarnya beliaupun juga menggunakan persepsi yang turun termurun, atau menggunakan hasil parsial dari beberapa guru diatasnya.

        Di lingkungan kita ini banyak ditemui para penipu spiritual. Mereka menggunakan kitab yang sama, bersumber dari guru yang hapal kitab, tetapi memberikan hasil yang jauh berbeda. Ada yang suka ngebom, ada yang suka sweeping bar, ada yang senang istri banyak, dan lain-lain.

        Dari kenyataan itu, mau tidak mau akan memaksa kita untuk berpikir, dengan logika pribadi, untuk mencari kebenaran yang hakiki.

        Pilihannya hanya ada tiga, belajar pada guru, mencari sendiri atau mencari di bawah bimbingan guru. Dan sayangnya, disini pasti ada pisau logika yang bermain. Entah pisau logika gurunya atau pisau logika kita sendiri.

        Kalau kesadaran bahwa kita ini harus rendah diri kepada Tuhan, itu sudah jelas, wong kita tidak bisa menghindar dari sakit dan kematian. Penghambaan itu sendiri juga ada bermacam jenis. Ada zuhud, khauf, raja’, menekan riya’, menekan ego, menekan nafsu dan lain-lain. Semua dianjurkan di kitab. Tinggal kita mau milih yang mana. Kalau bisa semuanya malah bagus.

  13. Hai! bon!
    Aku setuju lagi dgn ini.

    sulit dibayangkan bagi kita utk bisa memohonkan ampunan utk org2 yg telah menyakiti kita, bukan?

    Itu pun suatu kebenaran Illahi, kurasa.

    Mata ganti mata, gigi ganti gigi,
    Binatang pun tau melaksanakan itu dgn bagus.

    Perlu kita menjadikan kuat utk diludahi,
    Suatu jalan meneladani karya-karya Illahi.

    Salam Damai!

    • batjoe says:

      ini kalimat canggih banget :

      “Perlu kita menjadikan kuat utk diludahi,
      Suatu jalan meneladani karya-karya Illahi”

      keren mas MK dan buat mas lambang…
      bawa diriku dalam ikhlasNYA…

      mantep bener pagi-pagi dapet ngopi disini….
      angkringan asli….

  14. batjoe says:

    surga dan nerka cm rekaan dikepalaku mas…
    ndak tahu yang mana yang bener tapi kalau surga dunia n neraka dunia banyak tuh????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 41 other followers

%d bloggers like this: