Jiwa dan Ruh Manusia

bird_paintingKetahuilah bahwa Allah menciptakan manusia dari dua unsur yang berbeda. Pertama, jasad yang gelap dan tebal, di bawah struktur alam, tersusun dari tanah, dan tidak bisa sempurna kecuali dengan kehadiran unsur lain. Kedua, jiwa yang bersifat individual, menyinari, mengetahui, melaksanakan, menggerakkan, dan menyempurnakan tubuh. Allah menciptakan tubuh dari sari-sari makanan, merawatnya dengan unsur-unsur debu, meratakan dasar dasarnya, menyempurnakan pilar-pilarnya, menentukan ujung-ujungnya, dan menampakkan permata jiwa dari Yang Satu, Yang Sempurna, Yang Menyempurnakan, dan memberi faidah. Saya tidak mengartikan jiwa yang kuaf adalah kuat mencari makanan, juga bukan kuat menggerakkan syahwat dan nafsu amarah, juga bukan kuat yang diam dalam hati yang melahirkan kehidupan dan menggerakkan indra.

Gerakan berasal dari hati, kemudian mengalir ke seluruh organ tubuh. Kekuatan yang melahirkan gerakan ini dinamakan ruh hewan. Indra, gerak, syahwat, dan amarah adalah tentaranya. Sedangkan kekuatan yang membutuhkan makanan dan tersimpan dalam jantung dinamakan ruh alam. Mengunyah dan menolak adalah bagian dari sifat-sifatnya. Kekuatan yang membentuk, melahirkan, menumbuhkan, dan kekuatan-kekuatan lain yang lahir dari kekuatan ini adalah pelayan tubuh. Tubuh atau jasad itu sendiri adalah pelayan ruh hewan karena ia menerima kekuatan dari ruh itu dan bekerja sesuai dorongan gerakannya. Jiwa yang saya maksudkan sebagai permata individual yang sempurna memiliki ciri-ciri mengingat, menghapal, berpikir, memilah-milah, dan meriwayatkan. Ia juga menerima semua ilmu. Karena itu, ia disebut kepala ruh dan pemimpin kekuatan. Semua organ tubuh dan jiwa-jiwa yang lain melayaninya dan melaksanakan perintahnya. Jiwa yang demikian ini punya kemampuan bicara, yang setiap kelompok memberinya nama sendiri-sendiri. Para ahli hikmah menamakannya kemampuan bicara ini) ruh Al Nathiqah. Al Quran menamakannya Al Nafs Al Muthma’innah (jiwa yang tenang) dan ruh amr. Para sufi menamakannya qalb atau hati. Perbedaan hanya dalam nama dan maknanya satu.

Qalb, ruh, dan nafsu muthma’inaah (hati, ruh dan jiwa yang tenang) menurut kami semuanya adalah nama-nama untuk nafsu nathiqah (jiwa yang berbicara). Nafsu Nathiqah adalah permata yang selalu hidup, aktif dan mengetahui. Jika kita mengucapkan ruh atau hati secara mutlak, maka yang kami maksud adalah permata yang mulia ini. Sedang para sufi menamakan ruh hewan dengan istilah nafsu. Allah menamakannya nafsu, bahkan memperkuatnya dengan keterangan: “Nafsumu yang terletak diantara dua lambungmu.” Yang dimaksud dengan dua lambung adalah kekuatan syahwat dan kekuatan nafsu amarah. Dua kekuatan ini dibangkitkan dari hati yang terletak diantara dua lambung. Jika kamu mengetahui perbedaan-perbedaan penamaan, maka ketahuilah bahwa para pengkaji hanya sekedar mengungkapkannya dengan ungkapan yang berbeda-beda. Dalam hal ini mereka melihat berbagai pikiran yang berbeda-beda. Para ahli kalam yang hanya mengetahui ilmu debat mengategorikan jiwa sebagai tuhuh. Mereka berkata, “Nafsu adalah tubuh yang halus yang ditutupi tubuh yang tebal.” Mereka tidak mampu melihat perbedaan antara ruh dan jasad kecuali dengan kehalusan dan ketebalan. Sebagian mereka mengategorikan ruh sebagai jiwa, dan sebagian dokter condong pada pendapat ini. Ada pula yang memandang darah adalah ruh. Mereka puas dengan keterbatasan pendapat mereka yang sebenarnya hanya berpijak pada khayalan, dan tidak mau mencari bagian yang ketiga.

Ketahuilah, bagian-bagian yang membentuk manusia ada tiga, yaitu jasad, jiwa, dan permata tunggal yang berharga. Ruh hewan adalah badan halus yang seakan-akan merupakan sebuah lampu bernyala yang diletakkan dalam piala hati,yang saya mengartikannya sanubari yang bergantung di dada. Sedangkan kehidupan adalah cahaya lampu dan darah adalah makanannya Indra dan gerakan adalah cahayanya. Syahwat adalah panasnya. Marah adalah minyaknya. Kekuatan pencari makanan yang tersimpan dalam jantung adalah pelayan, penjaga dan wakilnya. Ruh yang demikian terdapat dalam semua hewan. Manusia adalah badan dan jejak-jejaknya adalah jiwa. Ruh ini tidak menunjukkan pada ilmu, juga tidak mengetahui jalan makhluk, dan tidakjuga Sang Maha Pencipta. Ruh ini juga menjadi pelayan yang tertawan yang akan mati dengan kematian badan. Seandainya darah bertambah, lampu itu tetap akan padam disebabkan tambahnya panas. Seandainya darah berkurang, lampu itu juga akan padam dikarenakan bertambahnya dingin. Padamnya lampu (ruh) adalah sebab matinya badan. Tidak ada perintah agama dan beban hukum Tuhan pada ruh ini karena seluruh hewan tidak terkena hukum taklifi (aturan-aturan Tuhan yang diberlakukan kepada mereka).

Manusia yang dikenai hukum taklifi disebabkan makna lain yang memang hanya dikhususkan kepada manusia sebagai bekal khusus. Makna itu adalah nafsu nathiqah dan ruh muthma’inna. Ruh ini tidak bersama badan, juga tidak dengan ruh hewan, karena ruh ini dari perkara Allah atau amr Allah.

“Katakan, ‘ruh itu termasuk urusanKu.” (QS. Al Isra':85)

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya.” (QS. Al Fajr: 27-28).

Urusan atau amr Tuhan bukanlah badan juga bukan jiwa, tapi kekuatan keTuhanan, seperti akal pertama, Lauhil Mahfuzh, dan Al Qalam (pena Allah). Semua itu adalah permata tunggal yang terpisah dari benda-benda. Bahkan, ia adalah cahaya murni yang bisa diketahui akal, tetapi tidak bisa diindra. Ruh dan qalb atau hati adalah istilah kita untuk menyebut permata tunggal yang berharga itu. Ruh ini tidak bisa rusak, tidak bisa lenyap, tidak punah, tidak mati, bahkan terpisah dari badan. Ia menunggu saat kembali kepada Tuhan pada hari kiamat sebagaimana yang dijanjikan dalam syara’.

llmu-ilmu hikmah yang ditopang dengan hujjah-hujjah yang kuat dan beberapa dalil lain menjelaskan bahwa ruh nathiqah bukanlah badan juga bukan jiwa, tetapi permata berharga yang sifatnya tetap, tidak berubah dan tidak rusak. Kami tidak perlu mengulang-ulang argumen karena sudah disebutkan berkali-kali. Siapa saja yang menginginkan penjelasan lebih luas bisa melihat buku-buku saya di bab tentang ruh.

Cara kami menjelaskan masalah ini tidak dengan kekuatan hujjah, tetapi dengan kekuatan mata batin dan berpedoman pada penglihatan iman. Allah swt.terkadang mengaitkan ruh ini dengan amr atau urusanNya dan kadang pula dengan keagungan kemuliaanNya.

“Dan Aku meniupkan ke dalamnya dari ruhKu.” (QS. Al Hijr: 29).

“Katakan, ‘Ruh itu termasuk urusanKu.”‘(QS. Al Isra: 85).

“Maka Kami meniupkan ke dalamnya (pada diri Maryam) dari ruh Kami.” (QS. Al Tahrim: 12).

Allah swt. adalah Dzat Yang Maha Agung yang mustahil mensifati diriNya dengan jasad atau ruh hewan karena keduanya memiliki sifat rusak, berubah dan cepat hilang. Nabi saw. bersabda:

“Ruh-ruh adalah tentara-tentara yang dipersenjatai.”

Sabda beliau yang lain:

“Ruh-ruh orang-orang yang mati syahid dalam rongga burung hijau.”

Jiwa atau ruh hewan tidak tetap ada setelah lenyapnya ruh Tuhan karena ruh ini tidak menetap pada zatnya. Sedangkan badan menerima untuk dipilah-pilah, sebagaimana dikatakan di atas bahwa badan tersusun dari materi dan bentuk. Setelah kita menemukan ayat-ayat di atas, beberapa hadis, dan hujjah-hujjah akal, kita tahu bahwa ruh merupakan permata tunggal yang sempurna dan hidup dengan zatnya sendiri. Dari ruh ini lahirlah baik buruknya agama. Ruh alam dan ruh hewan serta seluruh kekuatan badan adalah tentaranya. Ruh tunggal ini menerima berbagai macam informasi dan hakikat makhluk dengan tanpa badan kasar yang membungkusnva. Jiwa atau ruh tunggal ini mampu mengetahui hakikat kemanusiaan dengan tanpa melihat manusianya sebagaimana ia juga mengetahui malaikat dan setan tanpa harus mengetahui wujudnya. Jiwa ini untuk mengetahui hakikat-hakikat tersebut tidak perlu melihat sosok wujud yang menjadi kerangka hakikat-hakikat di atas, karena memang panca indra tidak mampu menjangkaunya.

Seorang sufi berkata, “Hati memiliki mata sebagaimana tubuh manusia. Badan kasar melihat dengan mata kacar, seangkan objek yang hakiki atau esensiil hanya bisa dilihat degan mata akal.”

Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah seorang hamba kecuali hatinya memiliki dua mata.”

Dengan dua mata batin itu, manusia bisa mengetahui sesuatu yang gaib. Jika Allah swt. menghendaki kebaikan pada seorang hamba. maka kedua mata batinnya dibukakan untuk melihat apa yang tidak bisa dilihat mata zahirnya. Itulah ruh tunggal atau jiwa murni yang tidak akan mati dengan matinya badan karena Allah swt. mengajaknya ke pintuNya:

“Kembalilah [hai jiwa yang tenang] kepada Tuhanmu. (QS. Al Fajr: 28).

Ruh pasti berpisah dengan badannya. Di antara tabiat ruh adalah ketika kekuatan tubuh atau energi hewaniah dan alam tidak berfungsi, maka kekuatan penggeraknya diam. Diamnya kekuatan penggerak ini dinamakan maut. Karena keterbatasan kekuatan tubuh, maka ahli tarekat, yakni pengamal tasawuf, lebih memilih bersandar pada kekuatan ruh dan hati daripada kekuatan badan kasar.

Apabila ruh dikategorikan sebagai “urusan” yang berasal dari Tuhan, maka ruh di tubuh manusia seperti makhluk asing. Visinya berorientasi kepada yang asal dan tempat kembalinya. Manfaat yang diperoleh dari sisi asal (esensi) lebih banyak daripada yang diperoleh dari sisi tubuh kasar apabila yang asal itu kuat dan tidak dikotori oleh kotoran tabiat. Jika engkau mengetahui bahwa ruh adalah permata tunggal yang berharga dan engkau juga mengetahui bahwa tubuh merupakan tempat ruh, maka sudah pasti jiwa tidak menampak kecuali dengan permata tunggal atau ruh.

Ketahuilah bahwa permata atau ruh ini tidak bersemayam di suatu tempat atau menempati suatu tempat, dan badan bukanlah tempat ruh juga bukan tempat semayam hati. Badan adalah alat ruh dan hati, di samping sebagai kendaraan jiwa. Zat ruh itu sendiri tidak ada hubungannya dengan unsur-unsur badan, juga tidak terpisah darinya, tetapi ruh merangkul badan, memberi faidah, mengaktifkan fungsi gerak, dan mengalirkan cahaya kehidupan. Cahaya kehidupan yang pertama muncul di otak karena otak adalah penampakan kehidupan yang teristimewa. Di depan otak berfungsi sebagai perisai, di tengah berfungsi sebagai menteri dan unit-unit menejer, dan di akhir herfungsi sebagai gudang simpanan berharga.

Unsur-unsur yang terdapat dalam diri manusia ada yang berjalan ada pula yang berkendaraan. Ruh hewan adalah pelayan. Ruh alam adalah wakil. Badan adalah kendaraan. Dunia adalah medan. Kehidupan adalah bekal. Gerakan adalah perdagangan. Ilmu adalah keuntungan. Akhirat adalah tujuan atau tempat kembali. Syari’at adalah jalan. Nafsu ammarah adalah penjaga. Nafsu lawwamah adalah tukang mengingatkan. Panca indra adalah para pengawas dan pembantu. Agama adalah baju besi. Akal adalah gutu. Rasa adalah murid. Sementara Allah selalu mengawasi di balik semua itu. Jiwa dengan sifat dan alat-alat yang tersebut di atas tidak menempati tubuh vang tebal, juga tidak berhubungan dengan zat tubuh, tetapi memberinya faidah. Jiwa menghadapkan dirinya ke hadapan Allah, dan Allah memerintahkan jiwa untuk mencari faidah sampai ajal tiba. Selama perjalanan ini, ruh tidak memiliki kesibukan kecuali mencari ilmu karena ilmu menjadi perhiasannya di kampung akhirat. Mengapa ilmu menjadi perhiasan ruh atau jiwa diakhirat? Karena perhiasan harta dan anak keturunan adalah perhiasan kehidupan dunia. Mata disibukkan dengan aneka ragam pemandangan. Telinga disibukkan dengan suara-suara. Lidah sibuk menyusun kata-kata. Ruh hewan menyenangi kenikmatan marah. Ruh alam menyukai kelezatan makan dan minum. Sedangkan ruh muthmainnah, yakni hati, tidak menginginkan apa-apa kecuali ilmu, tidak ridha kecuali dengan ilmu dan speanjang umurnya dipakai untuk belajar. Seluruh harinya dihiasi dengan ilmu sampai waktu memisahkannya. Seandainya tuh muthmainnah, jiwa atau hati menerima sesuatu yang lain yang bukan ilmu, sesungguhnya ia menerimanya hanya karena untuk kemaslahatan badan, bukan untuk memenuhi keinginan zat jiwa itu sendiri, juga bukan karena dorongan karakter asliya. Jika kamu mengetahui keadaan ruh, sifatnya yang langgeng, dan kerinduannya pada ilmu maka kamu harus mengetahui klasifikasi ilmu, karena ilmu itu banyak dan kami akan mengelompokkannya secara ringkas.

Klasifikasi llmu

Ketahuilah bahwa ilmu terbagi menjadi dua: pertama adalah (1) ilmu syar’i dan (2) ilmu akal. Kebanyakan ilmu syar’i bersifat rasional bagi yang ahli ilmu, dan kebanyakan ilmu rasional juga bersifat syar’i bagi orang yang ahli ma’rifat.

“Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka ia tidak mempunyai cahaya [sedikitpun].” (QS. Al Nur: 40).

1. Ilmu Syar’i

llmu ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu ilmu ppkok dan ilmu cabang. llmu pokok atau ilmu dasar adalah ilmu tauhid. Ilmu ini memandang Dzat Allah, sifat-sifatNya yang qadim, sifat-sifat perbuatan Nya, dan sifat-sifat DzatNya dengan nama-nama yang telah diperkenalkan olehNya. Ilmu ini juga merenungkan keadaan para Nabi, para pemimpin dan para sahabat, di samping juga memikirkan keadaan maut, kehidupan, kiamat, hari kebangkitan, padang mahsyar, dan perhitungan akhir. Orang yang “melihat” Allah dan ahli ilmu syar’i pertama kali berpedoman ayat-ayat Al Quran, kemudian hadis-hadis Rasulullah saw. dan terakhir dalil-dalil aqli dan argumen-argumen analog. Mereka juga mengambil dalil-dalil yang digunakan dalam ilmu mantiq dan filsafat. Kelompok yang menggunakan dalil-dalil yang terakhir ini sering kali meletakkan kata-kata bukan pada tempatnya, kemudian mereka mengutarakan berbagai pernyataan dengan permata tunggal, jiwa, dalil penalaran, logika dan hujjah. Karena logika, maka tidak jarang satu kata memiliki makna yang beragam sesuai dengan siapa yang mengatakannya. Para filsuf mengartikan jiwaa atau ruh dengan makna tertentu, kaum sufi memaknainya dengan makna lain, dan ahli kalam atau kaum teolog juga punya makna sendiri. Dalam bahasan ini, penulis tidak perlu mengutarakan makna-makna yang herbeda-beda ini menurut pikiran kelompok-kelompok mazhab. Mereka ini adalah kaum vang ahli ilmu kalam, ilmu tauhid dan mereka diberi julukan ulama kalam. Nama ilmu kalam masyhur untuk sebutan ilmu tauhid.

Di antara ilmu yang bisa dikategorikan ilmu pokok adalah tafsir karena Al Quran adalah sesuatu yang paling agung, paling mulia, dan paling benar. Dalam Al Quran terdapat berbagai persoalan yang tidak bisa dijangkau oleh akal kecuali orang yang telah diberi Allah pemahaman. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah satu ayatpun di antara ayat-ayat Al Quran kecuali merniliki bentuk zahir dan bentuk batin, dan satu batinnya mempunyai satu batin hingga tujuh batin.”

Dalam riwayat lain disebutkan hingga memiliki sembilan batin. Rasulullah saw. juga bersabda:

“Setiap huruf di antara huruf-huruf Al Quran mempunyai batasan dan setiap batasan ada tempat terbitnya.”

Dalam Al Quran terhimpun berbagai ilmu pengetahuan. Allah swt. mengabarkan bahwa seluruh ilmu dan segala yang ada, baik yang tampak, samar, kecll, besar, bisa dihitung, bisa di nalar maupun yang tidak bisa dinalar terdapat dalam Al Quran.

“Tidak ada yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS.Al Anam: 59).

“Supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya memperoleh pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29).

Apabila Al Quran dihitung sebagai perkara yang terbesar, maka siapakah mufassir (ahli tafsir) yang telah memenuhi hak Al Quran dan siapa pula ulama yang keluar dari batas-batasnya. Memang benar, setiap mufassir diwajibkan menjelaskan tafsirannya sesuai dengan kemampuannya, menurut ukuran kekuatan akalnya, dan sebanding dengan inti ilmunya. Ilmu Al Quran menunjukkan ilmu pokok. ilmu cabang, ilmu syar’i, dan ilmu rasional. Seorang mufassir atau ulama tafsir harus memahami Al Quran dari berbagai sisi. mulai dari sisi bahasa, arti kiasan, struktur kalimat, tingkatan-tingkatan gramatika, kebiasaan orang Arab, filosofis, hingga pendapat-pendapat kaum sufi sampai penafsirannva mendekati kenyataan (hakiki). Seandainya pemahamannya dalam satu sisi terbatas, tetapi dengan ilmu tertentu ia mendapatkan kepuasan, berarti ia belum keluar dari batas-batas penafsiran. Pada posisi ini, ia berpedoman pada hujjah iman dan kekuatan argumen.

Hadis juga termasuh ilmu pokok. Nabi saw. adalah orang yang paling fasih di antara bangsa Arab dan non-Arab, Beliau seorang mahaguru yang senantiasa mendapatkan wahyu dari Allah swt. Akalnya meliputi dan menjangkau semua yang berada di atas dan yang di bawah. Setiap kata dari kata-katanya, bahkan setiap huruf di antara huruf-huruf yang disabdakannya di bawahnya pasti ditemukan lautan rahasia dan simpanan yang berharga. Karena itu, ilmu hadis dan mengetahui hadis-hadisnya adalah perkara yang agung. Tidak seorang pun yang mampu mengetahui dan memahami sabda Nabi saw. kecuali jiwanya telah terdidik dengan senantiasa mengikuti Allah (dengan meneladani Rasul) dan menghilangkan kebengkokan-kebengkokan dari hatinya dengan menegakkan Sunnah Nabi saw.

Barangsiapa ingin berbicara tentang tafsir Al Quran, menafsiri hadis-hadis Rasul, dan benar dalam berbicara, maka wajib atasnya, yang pertama, menguasai ilmu bahasa dan paham ilmu nahwu, i’rab, dan sharaf. Ilmu bahasa adalah tangga dan jembatan yang mengantarkan kepada semua ilmu. Barangsiapa tidak mengetahui ilmu bahasa, maka tidak ada jalan baginya untuk mrenguasai macam-macam ilmu. Barang siapa ingin mendaki suatu hamparan yang berada di atas, maka wajib baginya menyiapkan tangga, kemudian mendaki. Ilmu bahasa dalam hal ini ibarat sarana, jembatan, dan tangga. Karena itu, pencari ilmu membutuhkan hukum-hukum bahasa. Dengan demikian, ilmu bahasa adalah dasar dari semua dasar. Hal pertama yang hanus diketahui dari ilmu bahasa adalah ilmu alat. Selain itu, pengkaji juga harus memperhatikan syair-syair Arab, terutama yang disusun di zaman Jahili. Karena syair Jahili kekuatan bahasanya sangat tajam, daya imajinasi dan emosinya kuat. Iimu nahwu atau gramatika Arab yang diibaratkan timbangan juga harus dikuasai. Setiap ilmu memiliki kekhasannya sendiri-sendiri, seperti mantik atau ilmu logika adalah untuk ilmu hikmah, ilmu ‘arudl untuk syair, dan timbangan untuk menakar biji-bijian. Setiap apa saja yang tidak ditimbang dengan timbangan, maka tidak diketahui hakikat tambahan dan pengurangan. Itulah sebabnya ilmu bahasa diibaratkan jalan yang menghubungkan pada ilmu tafsir dan hadis. Ilmu Al Quran dan hadis adalah dalil yang menunjukkan pada ilmu tauhid. Ilmu tauhid adalah ilmu yang tidak satu pun jiwa bisa selamat kecuali berpedoman dengannva, dan ia juga tidak terbebas dari ancaman hari akhir kecuali dengan mengilmuinya.

Bagian kedua dari ilmu syar’i adalah ilmu cabang. Ilmu jenis ini ada halnya bersifat ilmu semata dan ada pula yang berupa amalan atau perbuatan. Ilmu pokok adalah pengetahuan murni, yakni ilmiah. Sedangkan ilmu cabang adalah perbuatan. Ilmu amaliah (perbuatan) ini mencakup tiga hak, yaitu hak Allah, hak hamba atau ibadah, dan hak jiwa.

Hak Allah dalam perspektif ini adalah rukun-rukun ibadah, seperti bersuci, shalat, zakat, haji, jihad, dzikir, berhari raya, shalat jumat, dan ibadah-ibadah sunnah. Sedangkan hak hamba adalah pintu-pintu adat atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Dalam hal ini, hak hamba terbagi menjadi dua. Pertama, mu’amalah, seperti jual-beli, syirkah atau perkongsian, hibah, investasi modal, pinjaman, dan berbagai jenis piutang. Kedua adalah akad perjanjian, seperti nikah, talak, memerdekakan budak, dan faraid. Ilmu fiqih mencakup dua sisi hak hamba ini. Karena itu, ilmu fiqih adalah ilmu yang mulia, memberi manfaat umum, dibutuhkan, dan semua manusia membutuhkannya.

Hak yang ketiga adalah hak jiwa, yaih ilmu akhlak. Akhlak adakalanya tercela dan wajib dibuang. Akhlak ada juga yang baik dan wajib dimiliki. Akhlak jenis ini harus menjadi hiasan jiwa. Akhlak yang tercela dan yang terpuji sama-sama dijelaskan dalam Al Quran dan Al Sunnah. Barangsiapa berakhlak dengan salah satu akhlak yang baik, ia masuk surga.

2. Ilmu Akal

Ini adalah jenis ilmu yang sulit dan membingungkan, kadang-kadang benar dan kadang pula salah. Jika diklasifikasikan, ilmu akal tersusun dalam tiga tingkatan, yaitu tingkatan pertama, tingkatan kedua, dan tingkatan ketiga.

Tingkatan yang pertama adalah tingkatan yang tertinggi, yaitu ilmu pasti dan ilmu logika. Di antara ilmu-ilmu yang bisa dikelompokkan ilmu alam adalah ilmu hitung, ilmu teknik atau arsitektur, ilmu alam yang mencakup ilmu perbintangan, ilmu bumi, dan ilmu cuaca. Sedangkan ilmu logika adalah ilmu yang mengajarkan cara membuat batasan, definisi, dan rumusan tentang sesuatu yang bisa diketahui dengan logika atau bayangan. Di samping itu, ilmu ini juga mengajarkan cara membuat perbandingan dan argumen-argumen berbagai ilmu yang diperoleh dengan cara yang benar. Ilmu logika berputar mengikuti kaidah-kaidah berikut ini, yaitu diawali dengan satuan-satuan tunggal, kemudian dengan susunan dari satuan-satuan tunggal, kemudian berhipotesa, kemudian membandingkan. kemudian membagi-bagi perbandingan, dan diakhiri mencari hujjah atau argumen.

Tingkatan kedua. yakni tingkatan tengah-tengah adalah ilmu alam. Orang yang menggeluti ilmu ini memandang tubuh secara mutlak, memperhatikan unsur-unsur alam, benda-benda langit, benda-benda padat, esensi benda, gerak dan diamnya sesuatu, keadaan langit dan segala apa saja yang bergerak atau yang memberi aksi dan reaksi. Dari ilmu ini maka lahirlah ilmu yang mengamati keadaan susunan benda-benda yang ada, nyawa dan jenis-jenisnya, alat-alat indra dan bagaimana indra mengetahui objeknya, kemudian berkembang menjadi ilmu kedokteran. Ilmu kedokteran adalah ilmu badan, anatomi tubuh, penyakit, obat-obatan, penyembuhan dan apa-apa yang berkaitan dengannya. Cabang-cabang ilmu yang berkembang dari ilmu kedokteran adalah ilmu yang mampu mendeteksi pengaruh obat atau penyakTt, itmu pertambangan, dan ilmu yang mengetahui rahasia di balik benda-benda. Ilmu ini bisa berkembang hingga ke puncaknya sampai menghasilkan ilmu kimia, yang di antara fungsinya bisa untuk mengobati tubuh yang sakit yang terdapat dalam rongga tubuh.

Tingkatan ketiga adalah ilmu yang tertinggi, yaih ilmu yang mampu memandang sesuatu yang ada. Ilmu ini dibagi menjadi ilmu yang wajib dan ilmu yang mungkin. Kemudian ilmu ini memandang Pencipta sesuatu yang ada, DzatNya, semua sifatNya, perbuatanNya, perintah dan hukumNya, qadla’Nya, dan urutan penampakan sesuatu yang ada. Bertolak dari sini, ilmu menguak sesuatu yang luhur, sangat bernilai, yaitu, jiwa, akal, nafsu yang sempurna, kemudian merenungkan keadaan malaikat dan setan, yang akhirnya mengantarkan kepada ilmu kenabian, kemukjizatan, karomah, keadaan jiwa yang suci, keadaan jiwa yang tidur, tersadar, bangun, dan maqam-maqam ru’yah. Dari ilmu ini, maka lahirlah ilmu jimat, mantra-mantra. tumbal, dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengannya. Ilmu-ilmu yang dipaparkan di atas memiliki pasal-pasal, urut-urutan, dan tingkatan-tingkatannya yang masing-masing membutuhkan penjelasan tersendiri. Akan tetapi, kami cukup meringkasnya sampai di sini saja.

IlmU Tasawuf

Ketahuilah bahwa ilmu akal pada mulanya bersifat tunggal, satu, kemudian darinya lahir ilmu yang tersusun dari yang tunggal. Dalam ilmu yang tersusun ini diketahui seluruh keadaan alam secara satuan-satuan. Di antara ilmu yang tersusun itu terdapat ilmu sufi dan cara-cara pengamalnya membina pribadi. Para sufi memiliki ilmu khusus dengan cara yang jelas dan ilmu mereka meliputi ilmu hal, waktu, pendengaran, wijd, syauq, sakr, shahwu, itsbat, muhu, faqr, fana’, wilayah, iradah, syekh, murid, dan apa saja yang berkaitan dengan keadaan spiritual mereka dan sifat-sifat serta maqamat. Insyaallah kami akan membahas tiga macam ilmu ini dalam kitab khusus, dan sekarang kami tidak mempunyai tujuan selain menjabarkan klasifikasi ilmu dan jenis-jenisnya dalam risalah ini. Semua ini kami jelaskan secara ringkas. Barangsiapa menginginkan keterangan tambahan, maka dipersilakan menelaah kitab-kitab tasawuf Yang lain. Setelah penjelasan tentang klasifikasi dan jenis-jenis ilmu dipaparkan, maka ketahuilah dengan yakin bahwa setiap cabang ilmu menuntut beberapa syarat untuk mengukirnya di dalam jiwa para pencarinya. Sesudah memahami macam-macam ilmu, Anda wajib mengetahui cara-cara menghasilkannya. Setiap ilmu mempunyai cara tertentu untuk mendapatkannya.

Di OCR & retype (tanpa seijin penulis) oleh: Lambang (http://islamabangan.wordpress.com)
Sumber: Kitab Majmu’ah Rasa’il, Imam Al Ghazali.

About these ads

40 Responses to Jiwa dan Ruh Manusia

  1. kangBoed says:

    huuuuuuwaaaaaaakaakakak.. pertamaaaaax lagi.. comment nya menyusul mas.. dah ngantuk nih mau bobo duluuuu.. hehehe…..
    Salam Sayang

  2. S™J says:

    Possibly related posts: (automatically generated)

    OOT: itu nongolinnya dari mana, ya? blom nemu2 nih… :cool:

    • Lambang says:

      Pakai Dashboard, Appearance, Extra. ;)

      • S™J says:

        teteup gak bisa… *ada posting baru tuh* :cool:

        ==========================
        Lambang:
        Berarti harus pilih theme lain yg bisa nongolin itu. ;)
        ==========================

  3. tomy says:

    ilmu angele yen wis ketemu
    manungsa mesti semaya

    ==========================
    Lambang:
    Kadang-kadang begitu sudah ketemu, malah jadi ragu…. apa iya ya? :roll:
    ==========================

  4. kangBoed says:

    hmm.. ngelirik keatas.. *manggut manggut*.. jalan gontaaai.. *muka nunduk*.. yayaya.. susahnya cari ilmu.. apalagi prekteknya..
    Salam Sayang

  5. Lambang says:

    Lha ilmunya sudah sundul langit gitu koq masih nyari ilmu lagi. Jangan kebanyakan ilmu ntar jadi botak markotak :)

  6. kangBoed says:

    hmm.. pernah denger tuh ilmu sundul langit mbaaaah.. ajarin dunk buat peleeet yaa..
    Salam Sayang

  7. m4stono says:

    salam kenal,
    puanjaaang bgt tapi bagus sekali…hmmm pada dasrnya semua ilmu kalau pada tingkatan tertinggi akan mencapai muara yg satu(filsafat) untuk mencapai kesadaran illahi

    ==========================
    Lambang:
    Salam kenal kembali Mas.
    Iya nih, emang kepanjangan… jarinya ampe pegel… ;)

    ==========================

  8. kangBoed says:

    hihihi… sini jarinya tak pijetin.. hmm.. kok bau.. habis toal toel apaan..
    Salam Sayang

  9. Lambang says:

    Jadi inget lagunya Naif, Towal Towel (Najis Version)

    http://lagu.gadiss.com/2009/05/download-lagu-mp3-indonesia_01.html

    Ditowal-towel jangan marah-marah
    Ditowal-towel jangan marah-marah
    Kalau ditowel hati sebelah bisa jadi marah
    Towal-towel … towal-towel
    Towal-towel … towal-towel
    Towal-towel … towal-towel

  10. kangBoed says:

    mbaaaaaaaaaaaaah… pantat kambiiiiiiiiing itu.. jangan di towel toweeeeeeeeeel.. bauuuu.. *geleng2*.. hmm.. waaaaaaaaah.. si mBaaah.. diseruduk kambiiiing betinaaaaaaaaaaa.. tolong.. toloooong.. lontooooong.. *muka sedih*.. eee.. malah kesenengan si mBaaaah.. enaaaak mBaaah..
    Salam Sayang

  11. yang-kung says:

    jiwa dan roh manusia….akan selalu mempengaruhi tindakan kita dalam bermasyarakat terhadap sesama,oleh sebab itulah…JANGAN BERPEGANG KEPADA APAPUN KECUALI KEPADA ALLAH.

    salam sejati

  12. Lambang says:

    Betul yangkung. Yang jadi masalah adalah ada yang belum memahami cara berpegang yang benar.

    • S™J says:

      jangankan cara berpegang, wong yg mo dipegang aja belum tentu sudah kenal.

      ==========================
      Lambang:
      Ya kenalan dulu kali ya… Halouw, pakabar? ;)
      ==========================

  13. kangBoed says:

    Halloooo juga oom.. apa khabar semuanya.. ???.. kenalan dulu dunk.. :mrgreen:
    Salam Sayang

  14. mujahidahwanita says:

    Ilmu Allah Ta’ala sangatlah luas sekali apabila lautan menjadi tinta untuk menuliskan ilmu Allah SWT belum cukup lagi untuk menuliskannya. Walaupun di tammbah lagi air lautan menjadi 7 lautan juga belum cukup untuk menuliskannya.

    Salam

    ======================
    Lambang:
    Setuju sekali mbak dengan pandangan seperti itu.
    Salam.

    ======================

  15. elfan says:

    Manusia terdiri dari tiga kekuatan yang saling keterkaitannya, yakni:
    Roh adalah potensi yang dianugerahi dan dimasukkan Tuhan, Allah SWT pada jasad, tubuh manusia.
    Jasad adalah potensi fisik, materi nyata yang berasal dari saripati tanah.
    Jiwa atau nafs adalah akibat adanya pertemuan kedua unsur di atas menjadi suatu potensi yang menghidupkan semua organ tubuh manusia. Sifat jiwa atau nafs ini netral diantara kedua unsur roh dan jasad tadi, sehingga jiwa ini bisa positif dan bisa negatif. Jiwa positif jika dia (jiwa) cendrung ke unsur roh itulah jiwa yang muthmainah. Tapi, jika dia (jiwa) cendrung yang manusiawi berarti jiwa agak dipengaruhi ke jasad maka jadilah dia jiwa yang lawwamah. Dan, yang parah bila jiwa cendrung ke jasad yang berlebihan, maka jadilah jiwa amarah.(QS. 89:27, 75:2 dan 12:53)

    ==========================
    Lambang:
    Kalau menurut Iman Ghazali, tiga kekuatan itu adalah jasad, ruh (yang akan mati bersama jasad) dan mutiara terpendam (Nurullah atau Nur Muhammad).
    Entahlah, belum tahu mana yang benar karena saya masih dalam tahap pencarian kebenaran.

    Salam.
    ==========================

  16. zal says:

    ::memang kalau pengalaman tanpa kata dibicarakan menjadi sangat rumit, padahal pada saat dirasakan dan dipandangkan segalanya sangat simple, hanya saja disana gak ada namanya, yg mana nafsu, jiwa, apalagi ruh.., kalau dikatakan sebagai jiwa yang berbicara, sepertinya bukan sekedar itu, sebab dianya berkuasa memerintah, nah saya juga gak tahu tuh siapa dianya, hanya saja ada yang memahamkan dia itu anu…, lha sigoblog ini hanya bengong koh…mengo-mati…
    kalau dikatakan mengalir dari hati, lek awakmu diketemukan, gak kiro awakmu ngomong itu hati.., lha hati iku singendi..mboh…pokoke kuilah…yah…
    seandanya gak usah keakehan moco, dan langsung ngelakoni po’o yo…opo kiro-kiro sesat ya…,

    ==========================
    Lambang:
    Yang bagus sih jalani dua-duanya.
    Kalau pakai jalan mendaki, mesti belajar dulu, mendalami pemahaman, baru nglakoni.
    Kalau pakai jalan menurun, langsung nglakoni, belajar belakangan.
    Pembelajaran tetep perlu, paling ngga untuk referensi dan mengajarkan logika kalau ada murid baru yang mohon pencerahan. *haiyah, nggaya*
    Atau bisa juga untuk bahan debat saya biar dikagumi, padahal modalnya cuman Google dan Wikipedia. *oon tapi narsis puooool*

    Berhubung media yang dipakai hanya blog, yah terpaksa kakehan ngomong yang genah maupun yang ngga genah. Mau bener atau sesat ya sudah nasibnya sing moco. Hehehe… :mrgreen:
    ==========================

    • lor muria says:

      Salam kenal mas lAMbANG,mas zAL dan lainnya

      “aku” setuju sampean mas zAL, aku pusing sekali kalau banyak membaca ilmu, tambah ilmu malah tambah pusing dan malah tambah jauh dari TUHAN, kenapa.??????

      Ya.ya.. karena ilmu-ilmu itu dak ada yang sama, malah ada yang saling menyalahkan, menghujat, merasa paling benar sendiri. he.he.he…

      Eeeeee…. ternyata benar Ilmu itu bisa menjadi “hijab”(kata orang arab)/tabir/penghalang/ apalah…. antara mahluk dan TUHANnya…………

      Eeeeeee…..dan ternyata jawabannya ada di “TKP” meluncur aja kesana..maksud’e langsung nglakoni seperti kata mas ZAL.
      jadi tidak mumet en pusing. dan eeeeee…..ternyata jawaban di “TKP” lebih dari yang kita bayangkan..

      ternyata………
      definisi RUH,JASAD,NAFSU,NUR,Hati,Qolbu,Batin dll berbeda antara satu orang dengan yang lain antara imam Gazali/imam yang lain.
      Tapi ternyata “barangnya” sama, tinggal kita melihat/ menjumpainya pada sisi sebelah mana,pada tahapan apa/ pada zat,sifat,asma,af’alnya dari definisi/istilah diatas….

      he.he.he…
      itu hanya comment “aku” yang masih bodoh dan fakir

      salam abangan
      jadi biru
      jadi kuning
      jadi putih
      jadi tidak berwarna

      jadi tidak ada apa-apa
      yang ada yang dibalik tidak apa-apa

  17. @Bung Lambang!

    Satu kata dulu,
    “KEREN”
    Dah!

    Salam Sayang!

    ==========================
    Lambang:
    Akh, jadi malu.
    Sssstt, sebetulnya modal saya cuman Google, Wikipedia, Google Translate dan OCR, tapi jangan bilang-bilang yah… ;)

    ==========================

    • kangBoed says:

      woooooow.. dah sembuh yaaaaa.. atiiiiitnya.. dah bisa nongkrong agieee depan komputer.. yayaya.. dah cuci kaki sono.. mimi cucu.. teluuuus boboo..
      Salam Sayang
      Salam Rindu.. untuk mu..

      *siyul siyul juga* :lol:

    • Semua kita emang begitu,
      Sampai kapan pun begtu,
      Hingga kepada Allah.

      Jepang juga begitu,
      Ngoprek-oprek Kodak,
      Dapetnya Nikon.

      Salam Sayang!

  18. Salam kenal!

    Bagaimana halnya dengan CIPTA, RASA, dan KARSA, itu termasuk bagian mana?

    Dan apakah yang dimaksud dengan pengertian sukma?

  19. Lambang says:

    Salam kenal mas/mbak,
    Cipta, Rasa dan Karsa itu adanya di jalur kejawen, bukan di jalur Imam Ghazali ini. Bisa tanya Kang Jenang (sitijenang.wordpress.com) atau Mas Sabdo (sabdalangit.wordpress.com) yang lebih expert dalam hal ini.
    Menurut saya, cipta, rasa dan karsa itu identik dengan melakukan pemikiran, dilanjutkan dengan pemahaman dan diakhiri dengan kehendak. Urutan universalnya ya harus seperti itu, hanya saja urutan itu kemudian dibakukan dengan istilah yang berbeda untuk masing-masing jalur pemahaman.

    Tentang sukma, sama dengan yang disebut jiwa pada artikel di atas. Bukan mutiara mulia yang terpendam itu. Dalam kajian lain mutiara mulia ini disebut juga dengan Nur Muhammad, Nurullah, atau dzat Allah.

    Mudah-mudahan uraian ini bisa menjawab pertanyaan mas/mbak.

    Salam.

  20. Metropolitan says:

    Salam Damai

    Bikin bingung ya !! ada yg bilang Jiwa dan Ruh,,,ada juga yg bilang Jiwa, Raga dan Ruh…. ada yg bilang 2 , ada yg bilang 3….. jadi ?? so !!

    Untuk Kang boed…. bahasanya kog ketika komentar gak dewasa, jauh berbeda ketika didalam web press pribadinya. Ada fenomena apa gerangan ??

    • Lambang says:

      Mengenai jumlah sih suka-suka saja mau 2 atau 3. Hanya ilusi dan persepsi saja koq, tidak bisa dibuktikan… :mrgreen:

      Tentang KangBoed, biar dijawab sendiri oleh beliau kalau lagi mampir di sini.

      • Metropolitan says:

        Salam Damai

        Perlu bukti ?
        Sini sini……..saya kasih tau …
        Ketika kematian hadir
        Raga masuk ke liang lahat
        Ruh kembali dgn selamat (jk tak disiksa kubur)
        dan Jiwa akan ada di taman eden (jk tak disiksa kubur )

        masih perlu bukti ?
        hm…….no coment

        Salam Damai utk kita semua
        Damai Dibumi, Damai Dihati, Damai Disurga

        ==========================
        Lambang:
        Yayaya… katanya simbah… :mrgreen:
        Hehehe… no coment juga…

        Salam.
        ==========================

  21. @Lambang
    Terima kasih atas infonya!

    @KangBoed
    Ada yang nyariin nih!

  22. KangBoed says:

    hehehe.. ada nyang nyari yaaa.. hehehe.. namanya gendeng bin sableng.. kadang dewasa.. kadang kanak2.. kadang riang.. kadang nangis.. *narsis*.. begitu booos metropolitan..
    mengenai perjalanan berikutnya kayanya bang metropolitan tahu banyak yaaa.. *bingung*.. kalau tiga alam yang pernah saya dengar.. menurut teman saya ada alam kefasikan.. alam kamulyan.. dan alam kaheningan dimana yaaa mas.. tolong jelaskan dunk.. biar saya bisa terangkan ke dia.. *wah ngerepotin*.. maaf.. :mrgreen:
    Salam Sayang
    Salam Rindu untukmu :lol:

  23. Metropolitan says:

    Salam Damai

    Ada di Al Kitab dan Al Quran.
    Semua itu adalah semesta alam.

    Salam Damai dihati utk kita semua

    ==========================

    Siip lah. ;)

    Salam Damai.

    ==========================

  24. kanaNYA says:

    E=MC 2

    ==========================
    Lambang:
    Mirip rumus teori relativitas. Tapi kurang tanda pangkat. (E=MC^2) ;)
    ==========================

  25. Yudi says:

    Sekosong apa jiwa seseorang yang enggan bersyukur itu ya mas Lambang. Beberapa tahun silam ada pemain film parno pemula yang mengalami kecelakaan mobil dan mr.p nya kegencet ban hingga nyaris putus. Ee setelah mr.p nya berhasil direparasi, bukannya dia bertobat malah sekali maen dia minta melahap lima sparring partner, he.he. hingga ia menjadi yang the best versi Majalah Playboy.

    ==========================
    Lambang:
    Mungkin mirip orang yang mau curhat, tapi bingung mau curhat ke siapa dan bagaimana caranya. Akhirnya terpaksa curhat dengan cara yang lain, sesuai dengan hobby-nya masing-masing. Masih untung dia ngga seperti seniman stress, melihat langit sambil komat-kamit… hehehe… :)
    ==========================

  26. Yudi says:

    Betul juga yah, yudi si mau nyurhatin seorang kakek yang mati sebelum waktunya, kalo ndak salah asal jawa barat dan pernah diberitain di koran. Setelah lebih 4 puluh hari mendekam di dalam kubur kakek itu berhasil bangkit dengan sekujur tubuhnya rada ancur kemakan blatung, bahkan caping mr.p nyaris tak tersisa. Bisa kebayang ndak sih rasa bersyukurnya sang kakek karena masih diberi kesempatan bertobat. Bayangan saya ia pasti takkan lepasin sajadah untuk minta ampun. Tapi faktanya menurut koran itu..hehehe ia malah jadi dukun nomor togel. Maaf mas lho Lambang nama korannya saya sudah lupa, hehe….

    ==========================
    Lambang:
    Ada kemungkinan waktu di alam kubur dia satu kapling dengan jin yang suka togel. Dia terus curhat sama jin itu dan akhirnya diberilah ilmu menerawang togel. Lupa dengan hakikat kehidupannya sendiri. :)
    ==========================

  27. Intan says:

    Caping mr.p itu apa bung Yudi, Intan search di google kok ndak ketemu, apa helm mr.p maksudnya?Pakai istilah yang populer aja bung, biar kita-kita langsung kebayang barangnya. Bukan begitu Pak Lambang…..

    ==============================
    Lambang:
    Caping itu mungkin maksudnya topi yang biasa dipakai petani itu. :mrgreen:
    ==============================

  28. Sak_sak e lah…..Ayo monggo podo njupuk pelem nang wite.Pilih dw,d rasake dw2.Yn ws lg entuk coment.Yn legi,bosok,gemadung utowo kecut yo kw bagianmu.D rasake dw2-aq gak melu2.Hihi

    ==========================
    Lambang:
    Yah, memang begitulah kehidupan. Hidup ini adalah pilihan. Legi, bosok utawa kecut ya tergantung doa, usaha dan keberuntungan saja.

    Salam Sejati.
    ==========================

  29. bemby rudiansyah says:

    Great artikel… satu hal yang saya yakin kebenarannya… Allah lah yang punya hak prerogatif untuk memilih hamba2 yang akan diberi kemengertian hidup yang sebenarnya… Mudah2an kita smua termasuk diantaranya…

  30. Maulana Ishak says:

    kupasan/tulisan yg bagus…penjelasan tentang ruh/nafsul mutmainah dan semuanya memang “bisa” di terima akal..namun yg masuk akal belum tentu benar..aku meyakini tapi belum mengetahui..bagiku yang penting prakteknya..bukan cerita atau teorinya..ibarat pengen tau rasa manis,asin,kecut langsung saja makan gak usah nunggu cerita atau teori orang…kita sama-sama punya lidah,sama-sama punya indra, kita sama-sama punya ruh….

    • Lambang MH says:

      Tidak ada kebenaran mutlak dalam hidup ini. Kebenaran yang diperoleh saat ini, bisa berubah pada saat mendatang.

      Ada hal-hal tertentu yang bisa dipercepat dengan belajar pada orang lain atau dari referensi, dan ada hal tertentu yang tidak perlu belajar tapi langsung praktek. Bernafas atau bersuara, itu tidak perlu dipelajari. Kalau nyetir mobil, bisa dibuat langsung praktek, tentunya dengan resiko dan tingkat keberhasilan yang berbeda. Kepribadian seseorang sangat menentukan pilihan mana yang akan diambil.

  31. Bener yang Eyang Lambang katakan…teori atau referensi orang/ulama, buku/kitab memang perlu buat dasar bagi kita..untuk melakukan prakteknya..baik dzahir maupun batin..amal/ilmu bagi saya adalah praktek/perbuatan dan yang akan kita bawa adalah hasil dari perbuatan..secara teori banyak hal yang kita ketahui namun untuk melakukannya sangatlah sulit..sholat,puasa,zakat….secara teori..banyak yang tahu namun dlm pelaksanaannya ??kita tahu sendiri..
    menurutku kita tidak perlu menunggu secara teori benar 100% baru mau melaksanakan..dapat teori 50%,60% kita lakukan juga tidak apa-apa jangan takut salah untuk beribadah atau mencari ilmu,dalam ilmu keduniaan juga banyak ilmu yang didapat atas dasar coca-coba /eksperiment dan tentunya dengan “resiko” tertentu.
    Kembali ke bahasan Ruh…mohon bagi eyang dan sedulur2 yang memahami ilmu ruh dapat memberikan wedaranya yang dapat dipraktekan..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 40 other followers

%d bloggers like this: