Ke lima indra membuat kita merasa bahwa dunia ini nyata. Melihat kepadatan benda-benda di sekitar kita, merasakan dampak dari indera, sulit untuk menyangkal keabsahan apa yang kita lihat. Semuanya tampak nyata dan kita tidak pernah mempertanyakan realitas ini.
Kalau kata peribahasa, dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Tubuh memiliki pengaruh terhadap pikiran dan imajinasi (oleh kelenjar pineal). Kalau beberapa kelenjar endokrin tidak berfungsi secara normal, pasti ada pengaruhnya terhadap pikiran. Sayangnya, saya belum tahu seberapa besar pengaruh itu, karena belum ketemu hasil risetnya.
“dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.”
sebenarnya ini peribahasa yg bid’ah dan menyesatkan alias kafir http://www.wahabimode dot org ini kan sebenarnya sebuah doa kalo gak salah kalimat sebelumnya “jadikanlah didalam tubuh yg sehat terdapat jiwa yg kuat” kalo cuman mengutip diatas lha preman2 yg kekar2 di amrik kalo di indo premannya ceking2 tapi punya jiwa yg ndak sehat to….si tyson itu tubuhnya sehat secara kekar dan jago tinju tapi malah nyokot kuping dan suka bikin ulah…………wakakakakakak
Salah ya peribahasanya… maap ya, lha wong saya ngasal aja koq, lagipula peribahasa ngga selalu benar. tapi kalau kitab suci tidak mungkin salah, katanya
Seperti peribahasa yang ini: Sebodoh-bodohnya keledai, dia tidak akan terantuk di batu yang sama. Ternyata malah ada manusia yang terantuk batu yang sama. Mungkin dia lebih bodoh dari keledai ya…
mohon bantuannya .. bahasa kerennya HELP ME FOR BLOG me
tetap ndak bisa-bisa dan ini komentar seusai dgn judul blognya “realitas = kenyataan”
aduh udah tengelem beneran nih mas SOS…sos… sos
Sebuah hologram tampak 3D, sedangkan itu sebenarnya datar.
_________
Salam hangat, Haniifa.
======================
:: Hihi… mungkin maksud si penulisnya yang datar itu proyeksi di retina-nya.
Maklumlah ini artikel terjemahan, jadi ngga ada yang saya ubah.
Salam kembali.
======================
Komenku sementara, pls kontraskan:
Kata peribahasa, dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Kata Plato, tidak ada kesehatan tanpa jiwa. Seolah, mana lebih penting, kesehatan badan apa kesehatan jiwa. Atau, mana lebih ngeri, sakit badan apa sakit jiwa. Cing!
Dua-duanya bisa ngeri, tergantung tingkat keparahannya. Sakit badan kalau cuma pilek sih santai. Tapi kalau strook atau liver berat, amitaba deh.
Sakit jiwa kalau cuman senyum-senyum sendiri juga aman. Tapi kalau bugil dan lari kesana-kemari, itu baru masalah besar.
Berita Yahoo kemarin ada orang mengalami koma selama 23 tahun. Ibunya tak jemu-jemu merawatnya. Ngelihatnya kasihan banget lah. Konon tubuh tak ada yg salah, otak pun demikian. Apa ini bisa disebut sakit rohani?
Mungkin itu penyakit kesambet. Di barat belum pernah ada penelitian apa penyebab kesambet itu. Di Indonesia bisa ada karena sebagian besar rakyatnya percaya bahwa itu ada. Katanya, sesuatu itu bisa mewujud kalau dipercaya secara beramai-ramai. Kalau jutaan orang Indonesia percaya demit, genderuwo, kuntilanak, dll, maka enerji2 tsb itu bener-bener akan mewujud. Mungkin ceritanya mirip buku ‘The Hidden Messages in Water’ oleh Masaru Emoto itu. Materi diberi enerji, akan berubah bentuk. Analoginya enerji diberi enerji, akan menjadi materi, mewujud.
Yah! Kesambet itu sakit rohani. Kutengok, orang iba dan rela merawat orang sakir rohani, kesurupan atau kesambet. Orang iba dan rela membesuk orang sakit tubuh, tapi orang tidak sebegitu rela atau iba kepada orang yg sakit jiwa, malah ngeri, seolah sakit gituan adalah karena ulah sendiri.
Bila dugaan ku itu benar,
Satu lagi penguat ttg jiwa,
Bahwa:
Tubuh adalah takdir nyata,
Rooh adalah takdir maya,
Jiwa bukan lah takdir.
Wah, kalau sudah mengarah ke takdir saya sendiri juga bingung apa bedanya takdir dan hukum alam.
Manusia lahir ke bumi karena ada persekutuan ayah dan ibu, itu takdir atau hukum alam.
Orang mati karena sakit parah dan sel tubuhnya sudah banyak yang rusak, masih ngga jelas juga, itu takdir atau hukum alam.
Orang hidupnya pas-pasan karena kebetulan IQ, DNA, lingkungan, orang tua, dan mertua juga pas-pasan semua, perlu dicari apakah itu takdir atau hukum alam.
Keknya saya lebih sepakat kalau semua itu hukum alam yang diciptakan Tuhan secara sangat detail, lengkap, terperinci dan canggih. Karena keterbatasan pengetahuan manusia, untuk gampangnya di scripture agama lalu disebut takdir sebagai kambing hitam, dan kambing putihnya tidak perlu disampaikan karena ngga bakalan mudeng.
Takdir yg dimaksud mungkin suatu ukuran keharusan atau ketetapan atau hukum atau apa lah namanya dari Allah bagi kita manusia master piece-Nya. Kalau emang itu yg dimaksud maka ada dua takdir waktu bagiku, satu takdir waktu utk tubuh hidup sementara, satu takdir waktu utk roh hidup selamanya. Dan ada dua juga takdir ruang bagiku, satu takdir utk tubuh hidup ke benua bawah – alamiah dan satu takdir ruang utk roh hidup ke benua atas – rohaniah.
Bukan takdir jika jiwaku yg berasal dari serapan dunia ini memutuskan berkeinginan rohaniah ke benua atas yg irrasionil. Bukan takdir juga jika jiwaku yg berasal dari serapan benua tengah ini memutuskan berkeinginan “instant” alamiah benua bawah yg rasionil. Kata kuncinya bagiku adalah “serapanku” di dunia ini. Boleh kate di dunia ini kita hanya sarapan, kali yea!
Periksalah sarapan-serapan kita itu, Brat!
Apa kah dominan yg masuk akal mulu, rasionil, takdir nyata,
Atau dominan yg spiritual wungkul, irasionil, takdir maya.
Begitu kira-kira yg kurasa-rasa,
Takdir maya dan takdir nyata itu.
Hukum rohani dan hukum alam itu.
Jadi,
Roh adalah takdir,
Tubuh adalah takdir,
Jiwa bukan takdir melainkan kesempurnaan.
Pantesan kurang iba kita membesuk orang gila …
Ngeri dilempar jerukh karena jiwa punya kebebasan.
Kebebasan memilih dan kebebasan tidak memilih, gituloh.
Roh adalah takdir. Dia ditiupkan atau tidak, kita tidak ada kuasa apapun terhadap kejadiannya.
Tubuh adalah takdir. Ini juga sama, kita tidak ada kuasa untuk memilih tubuh yang mana. Kalau aslinya buntek, biar diapain juga tetep buntek. Kecuali kalau teori reinkaranasi itu benar, mungkin kita bisa memilih.
Jiwa, keberadaanya memang takdir, tapi bagaimana hasil olahannya, itu murni tergantung kita. Mau direbus atau dijemur, tergantung pengalaman masa lalu.
Bagiku jiwa bukan lah takdir, melainkan kebebasan. Dia bebas membuat yg nyata sebagai ilusi atau yg ilusi sebagai nyata. Suka-suka dia memakai indra siapa yg dia mau pakai, indra tubuh atau indra rohani. Benar-benar bebas, dia adalah triger!
Salam kenal kembali mbak iiN.
Indera bisa dianggap sebagai sarana untuk mencapai pikiran yang damai. Mendengarkan musik lembut, menghirup aroma therapy, melihat pemandangan alam yang indah, merasakan desiran angin sejuk dan menikmati es krim Ragusa. Wuih, hidup terasa jadi lebih nyaman dan damai.
lha iki mas ku kalau yang bening2 komentarnya sejuk banget ilang deh aslinya hahahahhaaa
mas aku dah ada kirim email di email yang baru dan makasih banget atas bantuannya ndak tahu mau ngucapin apa lagi selain
TERIMA KASIH SEBANYAK-BANYAKNYA…..
kalo ngomong masalah ilusi bisa2 mumet mas…..tapi saya da pertanyaan yg gak mumet dan silahkan dipilih….”kita ada didalam jagat raya beserta isinya atau jagat raya beserta isinya ada didalam layar kesadaran kita? monggo dipilih…
Jawaban agak mumetnya gini. Secara realitas fisik, kita ada didalam jagat raya beserta isinya. Tapi secara imajinasi, jagat raya beserta isinya ada didalam layar kesadaran kita. Kalau lagi tidur, jalan-jalan astral, kumat schizophrenic-nya atau lagi kumat edane, realitas bisa tukar tempat dengan imajinasi. Ngga tahu kalau sudah mati, apakah masih ada di realitas dan imajinasi yang sama, atau sudah ganti. *belum pernah ngalamin sih*
kalo mau ngalamin yg mirip kematian ya pas tidur itulah. kita gak selalu ingat apa yg sudah kita ketahui, pelajari, pahami, jalani, dsb. ‘realitas’ yg ada hanya saat itu, di situ, begitu…
ya inilah kang jenang susahnya……biasanya kalo kita tidur mak liyep langsung lupa, sebenarnya kalo mampu ketika kita mak liyep itu kita “potret” dengan kesadaran kita dan bersaksi atas keliyepan kita maka insya Allah kita akan turu eling……………………………..katanya
Tadi tiduran sebentar malah seolah lagi ngeblog dan buat artikel.
Kletannya sudah sesuai dengan potret yang KangTono mangsut. Turu eling ngeblog… hihi…
Tapi mungkin maunya bukan yang ini.
Imajinasi yang terbawa dari realitas dan imajinasi tersebut seolah menjadi realitas.
Setelah bangun baru kaget, oooh… ternyata hanya ilusi.
Saya mau komeng terpaksa hrs ber-ulang2 baca. Agak berasep juga sih.
Tapi mungkin begini : ‘kita’ adalah kumpulan beberapa ‘aku’…
Saya coba membuat kalimat begini: Kalau ‘aku’ meletakkan/menidurkan tubuh’ku’ melintang diatas rel-kereta api, kira2 REALITAS apa yang akan terjadi?!
Apakah tidak akan ada kereta-api lewat, atau kereta-api lewat namun ‘aku’ tetap selamat sementara tubuh’ku’ hancur?!?
Kok…jadi tambah bingung ya.
Yang mana Imajinasi, yang mana Realitas?!?
Sama mas. Waktu nerjemahin saya juga berasep. Tapi isinya lumayan bagus, jadinya saya posting deh.
Kalau soal kereta api itu, begitu kesamber realitasnya tubuh fisik akan hancur, tapi ‘aku’ akan pindah ke realitas yang lain. Mungkin bisa langsung menembus langit menuju Sang Pencipta, atau mental-mental ngga karuan selama bertahun-tahun, atau langsung pindah ke jasad baru pada bayi yang baru lahir.
Tapi realitasnya nanti seperti apa ya ngga tahu, wong saya hanya bisa berandai-andai dan semuanya itu hanyalah ilusi dan persepsi…. *halah*
salam kenal bang… saat membuka artikel2 di blog ini.. hmmm.. saya menemukan ‘sesuatu’ yg kurang lebih sama dengan yang saya pegang selama ini.. siip.!! keep’n writing!
wah kang lambang… wong2 podo slulupan nok fesbuk…, lha iki malah ngajak mumet mumetan…, wis jan.. , aku malah mumet.. lha mumet iku bagian dari ilusi je.., coba mmumet ora digagas.., malah ora krasa.. , sing endi yo.. haaaaaaa….,
nuwun
salam..
Injih Romo,
tadinya saya berniat mau fesbukan, tapi malu pasang photonya. Maunya sih pasang photo jadul, waktu masih muda, keren dan gagah, sambil naik motor trail nggaya seperti Ali Topan. *haiyah, narsis puol*
Saya sebetulnya memang udah terbiasa mumet klinis, jadinya ngajak-ngajak orang lain biar ikut ngerasain mumet non-klinis, mumet imajiner.
Tapi bagus itu sarannya Romo, mbok mumet iku ora usah digagas, mengko rak malah ora kroso.
Realitas dunyaa kalo kata fisikawan adalah ilusi, panjang lintasan elektron pada kulit pertama sama dengan satu kali elektron berputar, jadi apanya yang berputar selain vortex ruang-waktu itu sendiri, sedangkan ruang-waktu dipandang dari kerangka acuan foton, tidak lebih hanyalah ilusi, sungguh menakjubkan ilusi dapat menjadi seolah nyata…
Tapi bener katanya mas SikapSamin di atas itu, kletannya si fisikawan belum pernah nyoba tiduran di rel kereta api. Entar kan dia tahu persis mana yang realitas mana yang ilusi…
waktu liat sinetron spongebob waduh ketahuan selera pilem nya kek apa disitu gary si siput mengatakan kalo tidur itu adalah suatu laboratorium yg sangat berharga……jadi kamsud saya adalah ketika kita mak liyep dan kita sadar akan keliyepan kita dan berlanjut di sadar akan ketiduran kita dan tentu saja sadar kalo ini sebuah mimpi maka rancanglah suatu great desain utk hari esok ketika bangun, maka dipastikan rencana kita akan sukses besar dan bangun dengan keadaan segar bugar, ya inilah yg saya kamsud turu eling ketika tidur….bahasa awamnya mengolah bawah sadar kita seperti di kesadaran kita sehari hari……. tapi kok susahnya minta ampun yah….pengalaman sih bisa sadar pada waktu liyep thok…selebihnya bablas lupa langsung ngorok ngiler ndomble….hihihihihi
Ass..
Waktu lihat sinetron, kehidupan dalam sinetron adalah nyata… arus listrik dirumah tidak nyata. Benarkah? bukankah sebaliknya……
Alam semesta hanyalah proyeksi holografis dari pikiran.Yang sebenarnya nyata adalah Ruh….
Oleh sebab itu, Makrokosmos adalah Manusia, mikrokosmos adalah alam semesta…
Wassalam….
Sinetron atau film, kalau kita terhanyut dengan alur ceritanya, bisa terkesan kita juga ada di sana.
Kalau listrik sudah jelas realitas, oleh karena itu kalau listrik mati, maka kita mejadi seolah terbangun dari kehanyutan dalam film tadi.
Ruh itu nyata? Makrokosmos adalah manusia dan mikrokosmos adalah alam semesta? Yayaya, silahkan berpendapat demikian mas, bebas koq.
Dicoba berhenti ngeblog, terus topo di Parang Tritis atau Gunung Kidul selama 1000 hari (seperti artikel KangTono yang dulu itu). Ngga usah ngurusi anak, istri, kerjaan, relasi, cita-cita, keinginan, kemauan dan lain-lain. Entar kan lulus… (embuh lulus opo)
o iya kang saya baru tahu kalo serat pangracutan itu laku khusus utk menyongsong kematian….konon katanya kalo 3 tahun/1000 hari menjelang ajal kita, akan ada firasat2 khusus, tapi ini khusus bagi orang yg tanggap sasmita/waskita lho….kalo buat saya yg bocor alus ya ntah modarnya gimana kesamber bledek, ngesun aspal, dijawil sepur…
Kadang realitas and imajinasi dapat melebur bersamaan.
Pada saat kita dengan nafsunya bersetubuh,dengan istri loh..!
Sampai klimaks.
Yes..yes….
Tapi buat si impoten,biarpun 1000 tahun berimajinasi.
Tidak akan mendapatkan realitasnya.
Kenikmatan imajinasi yang terbukti.
Bisa juga di katakan,kenikmatan adalah imajinasi kreatif.
Sebuah pembahasan yang menarik saying agak telat mampirnya
Dalam sabda Budha ada disebutkan seperti ini Mas :
TUBUH INI BAGAI GUMPALAN BUSA
PERASAAN BAGAIKAN GELEMBUNG UDARA
PERSEPSI BAGAIKAN FATA MORGANA
BENTUK MENTAL BAGAIKAN TANDAN PISANG
DAN KESADARAN BAGAIKAN TIPU MUSLIHAT
Bener mas.
Kalau sudah ngomongin hal yang ghaib itu, kadang saya bingung dengan orang-orang yang cerita bahwa dia melihatnya dengan nyata (walaupun sebenarnya hanya penglihatan di alam setengah sadar).
Kecuali gambar tuyul yang bisa direkam dengan HP itu.
Lha terus akhirnya saya harus ambil kesimpulan, saya yang ngga bisa berimajinasi, atau dia yang imajinasinya ketinggian…
What is The Matrix
The Matrix sebetulnya virtual reality yang masuk dalam pikiran. Sang lakon sampai bingung membedakan mana yang realitas mana yang ilusi…
trus bagaimana dengan tubuh mas adakah pengaruhnya dengan pikiran dan imajinasi ????
Kalau kata peribahasa, dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Tubuh memiliki pengaruh terhadap pikiran dan imajinasi (oleh kelenjar pineal). Kalau beberapa kelenjar endokrin tidak berfungsi secara normal, pasti ada pengaruhnya terhadap pikiran. Sayangnya, saya belum tahu seberapa besar pengaruh itu, karena belum ketemu hasil risetnya.
“dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.”
sebenarnya ini peribahasa yg bid’ah dan menyesatkan alias kafir http://www.wahabimode dot org
ini kan sebenarnya sebuah doa kalo gak salah kalimat sebelumnya “jadikanlah didalam tubuh yg sehat terdapat jiwa yg kuat” kalo cuman mengutip diatas lha preman2 yg kekar2 di amrik
kalo di indo premannya ceking2tapi punya jiwa yg ndak sehat to….si tyson itu tubuhnya sehat secara kekar dan jago tinju tapi malah nyokot kuping dan suka bikin ulah…………wakakakakakakSalah ya peribahasanya… maap ya, lha wong saya ngasal aja koq, lagipula peribahasa ngga selalu benar.
tapi kalau kitab suci tidak mungkin salah, katanyaSeperti peribahasa yang ini: Sebodoh-bodohnya keledai, dia tidak akan terantuk di batu yang sama. Ternyata malah ada manusia yang terantuk batu yang sama. Mungkin dia lebih bodoh dari keledai ya…
mantep mas ilusi dan persepsinya…
sementara no komeng dulu….mungkin dibawah saya punya komeng yg lebih ciamik VV
Di dunia kita sekarang Persepsi sangat penting
diriku ada kirim email suhu….
mohon bantuannya .. bahasa kerennya HELP ME FOR BLOG me
tetap ndak bisa-bisa dan ini komentar seusai dgn judul blognya “realitas = kenyataan”
aduh udah tengelem beneran nih mas SOS…sos… sos
Waduh, tenggelem kenapa? Soal isian sidebar di blog itu? Tenang aja mas… entar lagi nyari ide dulu…
Sebuah hologram tampak 3D, sedangkan itu sebenarnya datar.
_________
Salam hangat, Haniifa.
Sorry belum sempat baca semua!
Komenku sementara, pls kontraskan:
Kata peribahasa, dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Kata Plato, tidak ada kesehatan tanpa jiwa. Seolah, mana lebih penting, kesehatan badan apa kesehatan jiwa. Atau, mana lebih ngeri, sakit badan apa sakit jiwa. Cing!
Salam Damai!
Dua-duanya bisa ngeri, tergantung tingkat keparahannya. Sakit badan kalau cuma pilek sih santai. Tapi kalau strook atau liver berat, amitaba deh.
Sakit jiwa kalau cuman senyum-senyum sendiri juga aman. Tapi kalau bugil dan lari kesana-kemari, itu baru masalah besar.
Salam Santai!
Utk dibayangin aja, Brat!
Orang sakit tubuh dibesuk.
Kadang dikasih jerukh.
Orang sakit jiwa kita lari,
Khawatir dikasih gebugh
Coba!
Bayangin aja!
Salam!
Kletannya memang begitu.
Orang sakit tubuh umumnya dikunjungi.
Orang sakit jiwa umumnya dijauhi.
Tapi ada kasus baba-likan.
Orang sakit AIDS ngga ada yang ngunjungi.
Orang setengah edan ditamuin minta nomor.
Salam Bayang-Bayang!
Berita Yahoo kemarin ada orang mengalami koma selama 23 tahun. Ibunya tak jemu-jemu merawatnya. Ngelihatnya kasihan banget lah. Konon tubuh tak ada yg salah, otak pun demikian. Apa ini bisa disebut sakit rohani?
Salam Koma!
Mungkin itu penyakit kesambet. Di barat belum pernah ada penelitian apa penyebab kesambet itu. Di Indonesia bisa ada karena sebagian besar rakyatnya percaya bahwa itu ada. Katanya, sesuatu itu bisa mewujud kalau dipercaya secara beramai-ramai. Kalau jutaan orang Indonesia percaya demit, genderuwo, kuntilanak, dll, maka enerji2 tsb itu bener-bener akan mewujud. Mungkin ceritanya mirip buku ‘The Hidden Messages in Water’ oleh Masaru Emoto itu. Materi diberi enerji, akan berubah bentuk. Analoginya enerji diberi enerji, akan menjadi materi, mewujud.
Salam.
Yah! Kesambet itu sakit rohani. Kutengok, orang iba dan rela merawat orang sakir rohani, kesurupan atau kesambet. Orang iba dan rela membesuk orang sakit tubuh, tapi orang tidak sebegitu rela atau iba kepada orang yg sakit jiwa, malah ngeri, seolah sakit gituan adalah karena ulah sendiri.
Bila dugaan ku itu benar,
Satu lagi penguat ttg jiwa,
Bahwa:
Tubuh adalah takdir nyata,
Rooh adalah takdir maya,
Jiwa bukan lah takdir.
Itu saja!
Salam Pikir Tiga!
Wah, kalau sudah mengarah ke takdir saya sendiri juga bingung apa bedanya takdir dan hukum alam.
Manusia lahir ke bumi karena ada persekutuan ayah dan ibu, itu takdir atau hukum alam.
Orang mati karena sakit parah dan sel tubuhnya sudah banyak yang rusak, masih ngga jelas juga, itu takdir atau hukum alam.
Orang hidupnya pas-pasan karena kebetulan IQ, DNA, lingkungan, orang tua, dan mertua juga pas-pasan semua, perlu dicari apakah itu takdir atau hukum alam.
Keknya saya lebih sepakat kalau semua itu hukum alam yang diciptakan Tuhan secara sangat detail, lengkap, terperinci dan canggih. Karena keterbatasan pengetahuan manusia, untuk gampangnya di scripture agama lalu disebut takdir sebagai kambing hitam, dan kambing putihnya tidak perlu disampaikan karena ngga bakalan mudeng.
Salam Alam!
Gini, Brat!
Takdir yg dimaksud mungkin suatu ukuran keharusan atau ketetapan atau hukum atau apa lah namanya dari Allah bagi kita manusia master piece-Nya. Kalau emang itu yg dimaksud maka ada dua takdir waktu bagiku, satu takdir waktu utk tubuh hidup sementara, satu takdir waktu utk roh hidup selamanya. Dan ada dua juga takdir ruang bagiku, satu takdir utk tubuh hidup ke benua bawah – alamiah dan satu takdir ruang utk roh hidup ke benua atas – rohaniah.
Bukan takdir jika jiwaku yg berasal dari serapan dunia ini memutuskan berkeinginan rohaniah ke benua atas yg irrasionil. Bukan takdir juga jika jiwaku yg berasal dari serapan benua tengah ini memutuskan berkeinginan “instant” alamiah benua bawah yg rasionil. Kata kuncinya bagiku adalah “serapanku” di dunia ini. Boleh kate di dunia ini kita hanya sarapan, kali yea!
Periksalah sarapan-serapan kita itu, Brat!
Apa kah dominan yg masuk akal mulu, rasionil, takdir nyata,
Atau dominan yg spiritual wungkul, irasionil, takdir maya.
Begitu kira-kira yg kurasa-rasa,
Takdir maya dan takdir nyata itu.
Hukum rohani dan hukum alam itu.
Jadi,
Roh adalah takdir,
Tubuh adalah takdir,
Jiwa bukan takdir melainkan kesempurnaan.
Pantesan kurang iba kita membesuk orang gila …
Ngeri dilempar jerukh karena jiwa punya kebebasan.
Kebebasan memilih dan kebebasan tidak memilih, gituloh.
Salam Damai!
NB:
Periksa “Pada apa aku ada”:
http://tertiga.wordpress.com/2009/03/07/tertiga-pada-apa-aku-ada/
Agak nyambung dikit kurasa.
Roh adalah takdir. Dia ditiupkan atau tidak, kita tidak ada kuasa apapun terhadap kejadiannya.
Tubuh adalah takdir. Ini juga sama, kita tidak ada kuasa untuk memilih tubuh yang mana. Kalau aslinya buntek, biar diapain juga tetep buntek. Kecuali kalau teori reinkaranasi itu benar, mungkin kita bisa memilih.
Jiwa, keberadaanya memang takdir, tapi bagaimana hasil olahannya, itu murni tergantung kita. Mau direbus atau dijemur, tergantung pengalaman masa lalu.
Sudah kubaca soal ‘Pada apa aku ada’. Bagus ituh.
Salam.
Bagiku jiwa bukan lah takdir, melainkan kebebasan. Dia bebas membuat yg nyata sebagai ilusi atau yg ilusi sebagai nyata. Suka-suka dia memakai indra siapa yg dia mau pakai, indra tubuh atau indra rohani. Benar-benar bebas, dia adalah triger!
Salam Merdeka!
—- bisa kah disebut kalau indera kita berperan sbg kendaraan u/ mencapai pikiran yang damai…
-salam kenal mas-
Salam kenal kembali mbak iiN.
Indera bisa dianggap sebagai sarana untuk mencapai pikiran yang damai. Mendengarkan musik lembut, menghirup aroma therapy, melihat pemandangan alam yang indah, merasakan desiran angin sejuk dan menikmati es krim Ragusa. Wuih, hidup terasa jadi lebih nyaman dan damai.
lha iki mas ku kalau yang bening2 komentarnya sejuk banget ilang deh aslinya hahahahhaaa
mas aku dah ada kirim email di email yang baru dan makasih banget atas bantuannya ndak tahu mau ngucapin apa lagi selain
TERIMA KASIH SEBANYAK-BANYAKNYA…..
Hihihi… biasalah… kaum pria suka bermulut manis (kebanyakan makan gula batu) kalau lihat yang manis-manis.
Oh iya, emailnya sudah saya balas.
Salam.
kalo ngomong masalah ilusi bisa2 mumet mas…..tapi saya da pertanyaan yg gak mumet dan silahkan dipilih….”kita ada didalam jagat raya beserta isinya atau jagat raya beserta isinya ada didalam layar kesadaran kita? monggo dipilih…
Jawaban agak mumetnya gini. Secara realitas fisik, kita ada didalam jagat raya beserta isinya. Tapi secara imajinasi, jagat raya beserta isinya ada didalam layar kesadaran kita. Kalau lagi tidur, jalan-jalan astral, kumat schizophrenic-nya atau lagi kumat edane, realitas bisa tukar tempat dengan imajinasi. Ngga tahu kalau sudah mati, apakah masih ada di realitas dan imajinasi yang sama, atau sudah ganti. *belum pernah ngalamin sih*
kalo mau ngalamin yg mirip kematian ya pas tidur itulah. kita gak selalu ingat apa yg sudah kita ketahui, pelajari, pahami, jalani, dsb. ‘realitas’ yg ada hanya saat itu, di situ, begitu…
ya inilah kang jenang susahnya……biasanya kalo kita tidur mak liyep langsung lupa, sebenarnya kalo mampu ketika kita mak liyep itu kita “potret” dengan kesadaran kita dan bersaksi atas keliyepan kita
maka insya Allah kita akan turu eling……………………………..katanya
Tadi tiduran sebentar malah seolah lagi ngeblog dan buat artikel.
Kletannya sudah sesuai dengan potret yang KangTono mangsut. Turu eling ngeblog… hihi…
Tapi mungkin maunya bukan yang ini.
Imajinasi yang terbawa dari realitas dan imajinasi tersebut seolah menjadi realitas.
Setelah bangun baru kaget, oooh… ternyata hanya ilusi.
Saya mau komeng terpaksa hrs ber-ulang2 baca. Agak berasep juga sih.
Tapi mungkin begini : ‘kita’ adalah kumpulan beberapa ‘aku’…
Saya coba membuat kalimat begini: Kalau ‘aku’ meletakkan/menidurkan tubuh’ku’ melintang diatas rel-kereta api, kira2 REALITAS apa yang akan terjadi?!
Apakah tidak akan ada kereta-api lewat, atau kereta-api lewat namun ‘aku’ tetap selamat sementara tubuh’ku’ hancur?!?
Kok…jadi tambah bingung ya.
Yang mana Imajinasi, yang mana Realitas?!?
Maaf kalau nggak nyambung atau salah2 tulis.
Salam…Real-Image
Sama mas. Waktu nerjemahin saya juga berasep. Tapi isinya lumayan bagus, jadinya saya posting deh.
Kalau soal kereta api itu, begitu kesamber realitasnya tubuh fisik akan hancur, tapi ‘aku’ akan pindah ke realitas yang lain. Mungkin bisa langsung menembus langit menuju Sang Pencipta, atau mental-mental ngga karuan selama bertahun-tahun, atau langsung pindah ke jasad baru pada bayi yang baru lahir.
Tapi realitasnya nanti seperti apa ya ngga tahu, wong saya hanya bisa berandai-andai dan semuanya itu hanyalah ilusi dan persepsi…. *halah*
salam kenal bang… saat membuka artikel2 di blog ini.. hmmm.. saya menemukan ‘sesuatu’ yg kurang lebih sama dengan yang saya pegang selama ini.. siip.!! keep’n writing!
Salam kenal kembali mas.
Mudah-mudahan sesuatu itu bisa membawa kepada kebaikan lahir bathin, dunia wal akhirat.
Terimakasih atas kunjungannya.
pamuji rahayu..,
wah kang lambang… wong2 podo slulupan nok fesbuk…, lha iki malah ngajak mumet mumetan…, wis jan.. , aku malah mumet.. lha mumet iku bagian dari ilusi je.., coba mmumet ora digagas.., malah ora krasa.. , sing endi yo.. haaaaaaa….,
nuwun
salam..
Injih Romo,
tadinya saya berniat mau fesbukan, tapi malu pasang photonya. Maunya sih pasang photo jadul, waktu masih muda, keren dan gagah, sambil naik motor trail nggaya seperti Ali Topan. *haiyah, narsis puol*
Saya sebetulnya memang udah terbiasa mumet klinis, jadinya ngajak-ngajak orang lain biar ikut ngerasain mumet non-klinis, mumet imajiner.
Tapi bagus itu sarannya Romo, mbok mumet iku ora usah digagas, mengko rak malah ora kroso.
Makasih Romo sudah mampir.
Realitas dunyaa kalo kata fisikawan adalah ilusi, panjang lintasan elektron pada kulit pertama sama dengan satu kali elektron berputar, jadi apanya yang berputar selain vortex ruang-waktu itu sendiri, sedangkan ruang-waktu dipandang dari kerangka acuan foton, tidak lebih hanyalah ilusi, sungguh menakjubkan ilusi dapat menjadi seolah nyata…
Salam bocor alus
Tapi bener katanya mas SikapSamin di atas itu, kletannya si fisikawan belum pernah nyoba tiduran di rel kereta api. Entar kan dia tahu persis mana yang realitas mana yang ilusi…
waktu liat sinetron spongebob
tapi kok susahnya minta ampun yah….pengalaman sih bisa sadar pada waktu liyep thok…selebihnya bablas lupa langsung ngorok ngiler ndomble….hihihihihi
waduh ketahuan selera pilem nya kek apa
disitu gary si siput mengatakan kalo tidur itu adalah suatu laboratorium yg sangat berharga……jadi kamsud saya adalah ketika kita mak liyep dan kita sadar akan keliyepan kita dan berlanjut di sadar akan ketiduran kita dan tentu saja sadar kalo ini sebuah mimpi maka rancanglah suatu great desain utk hari esok ketika bangun, maka dipastikan rencana kita akan sukses besar dan bangun dengan keadaan segar bugar, ya inilah yg saya kamsud turu eling ketika tidur….bahasa awamnya mengolah bawah sadar kita seperti di kesadaran kita sehari hari…….posisinya jangan tiduran (katanya)… apalagi kasur empuk trus sampingnya ada kanca wingking… ya sudah bablas…
Ass..
Waktu lihat sinetron, kehidupan dalam sinetron adalah nyata… arus listrik dirumah tidak nyata. Benarkah? bukankah sebaliknya……
Alam semesta hanyalah proyeksi holografis dari pikiran.Yang sebenarnya nyata adalah Ruh….
Oleh sebab itu, Makrokosmos adalah Manusia, mikrokosmos adalah alam semesta…
Wassalam….
Sinetron atau film, kalau kita terhanyut dengan alur ceritanya, bisa terkesan kita juga ada di sana.
Kalau listrik sudah jelas realitas, oleh karena itu kalau listrik mati, maka kita mejadi seolah terbangun dari kehanyutan dalam film tadi.
Ruh itu nyata? Makrokosmos adalah manusia dan mikrokosmos adalah alam semesta? Yayaya, silahkan berpendapat demikian mas, bebas koq.
Salam.
Dicoba berhenti ngeblog, terus topo di Parang Tritis atau Gunung Kidul selama 1000 hari (seperti artikel KangTono yang dulu itu). Ngga usah ngurusi anak, istri, kerjaan, relasi, cita-cita, keinginan, kemauan dan lain-lain. Entar kan lulus… (embuh lulus opo)
o iya kang saya baru tahu kalo serat pangracutan itu laku khusus utk menyongsong kematian….konon katanya kalo 3 tahun/1000 hari menjelang ajal kita, akan ada firasat2 khusus, tapi ini khusus bagi orang yg tanggap sasmita/waskita lho….kalo buat saya yg bocor alus ya ntah modarnya gimana
kesamber bledek, ngesun aspal, dijawil sepur…saya pernah dengar ada orang yang mengatakan bahwa eksistensi manusia itu ada di tiga alam
.
salam tiga jari metaaaaalll
nyindir saya nih? muahahahahahaha…
Kalau ada yang berpendapat manusia hanya ada di satu alam, salamnya satu jari dunk… ngeres ah…
Kadang realitas and imajinasi dapat melebur bersamaan.
Pada saat kita dengan nafsunya bersetubuh,dengan istri loh..!
Sampai klimaks.
Yes..yes….
Tapi buat si impoten,biarpun 1000 tahun berimajinasi.
Tidak akan mendapatkan realitasnya.
Kenikmatan imajinasi yang terbukti.
Bisa juga di katakan,kenikmatan adalah imajinasi kreatif.
Sebuah pembahasan yang menarik saying agak telat mampirnya
Dalam sabda Budha ada disebutkan seperti ini Mas :
TUBUH INI BAGAI GUMPALAN BUSA
PERASAAN BAGAIKAN GELEMBUNG UDARA
PERSEPSI BAGAIKAN FATA MORGANA
BENTUK MENTAL BAGAIKAN TANDAN PISANG
DAN KESADARAN BAGAIKAN TIPU MUSLIHAT
Bener mas.
Kalau sudah ngomongin hal yang ghaib itu, kadang saya bingung dengan orang-orang yang cerita bahwa dia melihatnya dengan nyata (walaupun sebenarnya hanya penglihatan di alam setengah sadar).
Kecuali gambar tuyul yang bisa direkam dengan HP itu.
Lha terus akhirnya saya harus ambil kesimpulan, saya yang ngga bisa berimajinasi, atau dia yang imajinasinya ketinggian…