Tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan dalam eksistensi kehidupan ini. Kita bukanlah muncul secara tidak disengaja dalam proses kehidupan ini. Sebaliknya, kita adalah bagian dari hidup ini, bagian yang dinamis, yang menyambut dan merayakan kehidupan ini. Seperti dalam Upanishad , disebutkan: “Even if a blade of grass is missing, the whole existence will thirst for it” (Bahkan jika ada rumput yang hilang, seluruh eksitensi akan mencarinya)
Artikel selengkapnya ada di sini:
Perubahan Muncul Dari Dalam Diri










pertamaxxxxx….
lagi2 ilusi persepsi dan imajinasi….lha realitasnya kapaaannn
udah gajian mas tinggal tunggu PHK
wahakakakakakakakaka
keduaxx…. salam kenal ya sob
Salam kenal kembali sob
ehm postingan yang cukup bisa mengeritkan dahi…
nuduh siapa lagi nih mas???
jangan orang balikpapan ya.. udah baikan sekarang mas udah jadi bapak yang lebih bijak..
wah kena deh pada point 1 sd 5
bobo dulu ya mas lamabng heheheheheh
Enda nuduh siapa-siapa.
Hanya sekedar catatan harian seseorang yang sedang mencari jalan kebenaran.. *halah*
Kalau ada yang tersentuh, ya berarti kita sedang naik angkot yang sama, walaupun mungkin beda terminal tujuan.
Hihi.. komen saya jaim banget ya..
Yes! A good articel!
Baik dan benar itu tidak cukup.
Ada niat baik dan mencoba untuk memaksakan, itu berbahaya. Ada gagasan yg diyakini baik dan benar, maka kita telah kehilangan pilihan yang lain. Kita perlu ke luar dari pagar yang membatasi pikiran kita, jangan hanya menyadari apa yang ditunjukkan oleh pikiran kita, tetapi biarkanlah diri kita melihat bagaimana kehidupan ini ditayangkan.
Baik dan benar emang tidak cukup,
Harus lah juga memerdekakan!!!
Dengan jarak batin ini, kita memiliki pilihan untuk mengikuti atau tidak mengikuti reaksi-reaksi ini. Itu memberikan kebebasan kepada kita. … dan kpd org itu.
Salam Damai Brat!
Jika mengubah orang lain itu sulit. Mengubah diri sendiri juga sulit. Lalu kita perlu melakukan apa mas Lambang ?
Mengubah diri sendiri itu harusnya ngga boleh sulit.
Minimal berusaha memahami bahwa semua hal tidak selalu sesuai dengan apa maunya kita.
setuju. bukan maunya kita, melainkan apakah kita cukup jeli melihat peran apakah yg disiapkan dan mampu kita lakoni… halah…
Setuju lagi dgn SJ!
“bukan maunya kita”
Seolah,
Kita itu dilahirkan utk orang lain, bukan utk diri sendiri pribadi mandiri. Dan, tak usah tuntuk orang lain itu dilahirkan apa tidak … hehe!
Salam Damai!
tulisan yang berbobot bang….
berapa kilo ya, heheheheh
*ngaciirrr*
kunjungan perdana.. salam kenal aja deh..
pamuji rahayu mas lambang ingkang winasis waskitha, mugi2 tansah pinaringan kanugrahan saking Gusti
leres sanget bilih panjenengan serat dumatheng griyo niki, dari point satu sampai 5 saya setuju sepenuhnya, kalau boleh saya yg cubluk ini mau menambahi sedikit kemawon….
didalam hidup itu harus berpegang pada sikap tawadu’, syukur, ikhlas, sabar dan amanah…
tawadu’ terhadap segala ciptaanNya tanpa peduli apakah itu anjing buduk atau orang2 alim yg soleh, bahkan terhadap yg kita benci sekalipun kita harus merendah walopun kenyataannya itu sulit sekali
syukur itu adalah cara pandang yg surgawi, apabila bersyukur maka nikmatKu akan ditambah, apabila kufur maka adzabKu sangat pedih, itu adalah prinsip dasar didalam syukur, kalau cara pandang kita orientasinya yg serba khusnudzon maka inilah cara pandang surgawi yg selalu indah, tapi apabila cara pandangnya yg suudzon maka inilah cara pandang neraka yg selalu curiga, was was, tidak tenteram dan semua dianggap salah, maka dalil yg menyatakan keutamaan bersyukur itu adalah dalil yg shahih dan bisa dibuktikan….
ikhlas itu karena allah, dalam arti kualitas sujudnya sempurna atau nol nilai kepemilikan pribadinya, kalau rasa milik saja ndak punya maka itulah ikhlas yg sebenarnya karena memandang semua itu hanya milik Allah, harta atau duit atau bilangan berapapun kalau dibagi nol maka hasilnya menjadi tak terhingga, tak terhingga itulah hadiah bagi yg ikhlas
sabar itu adalah salah satu kunci utama didalam beramal sholeh, menanam biji jambu lalu beramal sholeh dengan memupuk dan merawatnya maka bersabarlah didalam menunggu hasilnya, yakin bahwa biji jambu itu ya tumbuhnya pohon jambu, bukannya malah wiridan jambu, jambu, jambu dst
amanah itu menjadi krisis didalam republik buto ini, memang sebelum menjabat disumpah dahulu yg diawali dgn kata2 “bertakwa thd tuhan….” tapi nyatanya pejabat2 korup itu harus diketak kepalanya biar sadar, amanah itu sungguh berat songgone, maka ndak boleh menjanjikan tidak2 ketika kampanye, secara kampanye itu tidak islami, wong jabatan kok diperebutkan……
nah dari kelima point itu maka seharusnya dimulai dari diri sendiri, transformasi diri itu penting, looking inside for looking outside harus dikedepankan, iso ngrumongso bukannya malah rumongso iso, nuruting kareping rasa bukannya malah nuruting rasaning karep, mulat sarira sarirasa tunggal hangrasa wani……
salam karaharjan
ketoke komeng dowo2 ben ketok pinter padahal yo asline koyo butoKeren, Kang!
Ini pasti abangnya, Noto.
Bukan Tono yg slalu bocor alus.
Salam Damai!
Kita sering merasa tidak berdaya di hadapan penderitaan.Tidak jarang pula kita protes terhadap Allah atas penderitaan yang kita alami.Kita sering bertanya”mengapa penderitaan ini menimpa saya?”
Agar hidup tidak menjadi percuma dan sia2,hendaknya kita menghayati pengetahuan iman yg baru dng menggunakan cara hidup yg baru pula.Sehingga segalanya akan menjadi lebih baik,dng memunculkan buah-buah iman yg baru pula.
“kita tidak bisa menghentikan gelombang,tetapi kita bisa belajar berselancar”
salam rahayu.
Benar YangKung,
Manusia ini sukanya memang menyalahkan Tuhan. Sering berkata, “ya sudahlah, memang sudah nasibnya begini, memang sudah takdirnya begini, dll…”
Quotenya bagus YangKung, “Janganlah berusaha melawan gelombang, belajarlah berselancar…”.
Terima kasih atas kunjungannya.
Berhubung sejak tadi siang ada masalah teknis di jaringan, terpaksa off 1-2 hari.
Mudah2an besok atau lusa sudah beres.
Salam.
Ternyata jam 02:50 jaringan sudah beres.
Sip lah…
kalo ditempatku mule error sekitar jam 11 an malem….waras lagi sekitar jam 1.30 ….maklum pake smart yg ndak smart