Menghilangkan Pikiran Negatif

Semua keinginan Anda, yang baik, yang buruk ataupun yang acuh tak acuh, akan memprogram otak Anda. Oleh karena itu, mengapa tidak mencoba memikirkan keinginan atau memikirkan sesuatu yang akan membuat Anda menjadi senang dan bersuka-cita? Ini tidak berarti bahwa semua yang indah-indah, yang asik-asik, yang Anda inginkan akan segera menjadi kenyataan.

Artikel selengkapnya bisa baca di sini:
Menghilangkan Pikiran Negatif

About these ads

25 Responses to Menghilangkan Pikiran Negatif

  1. m4stono says:

    hihi mulai nulis artikel sendiri neh, keknya udah mulai pede :mrgreen:

  2. Lambang says:

    Hehe… jadi malu. :oops:
    Entar tak buat artikel “Bagaimana mengemas tulisan orang lain agar terkesan menjadi tulisan sendiri dan orang tersebut tidak mengetahui bahwa tulisannya dikemas ulang (dengan plastik kresek).” :mrgreen:

  3. batjoe says:

    wah makin bersinar nih kelihatannya..
    apa kabar mas lambang…. jadi ya ke jogja???

  4. batjoe says:

    aku ambil artikel ini ya mas untuk reume kantor…

    makasih walaupun belum di ijinkan hahahahaa..

    salam kangen je…

  5. Lambang says:

    Hallo Mas Batjoe.
    Rencana ke Cilacap 3 bulan mas, terus lanjut ke kota lain, kalau jadi. Kalau ngga jadi ya udah, ngeblog aja. :mrgreen:

    Silahkan dikopas mas, makin banyak yang baca berarti semakin bermanfaat.

    Salam kangen kembali mas. :D

  6. Ngabehi says:

    Bagus sekali kang, tulisanya terlihat simpel sekali tapi maknanya daleeeem banget, seperti palung laut.Gaya seperti ini perlu di tiru, karena tak ada kesan menggurui atau lebih tau, pokoknya lugas dan sederhana tapi mak nyuuuus.

    • m4stono says:

      terang aja sekarang kan mas lambang sedang belajar jadi trainer/motivator….lambang teguh thukul waringin…. :mrgreen:

    • Lambang says:

      Makasih mas Ngabehi atas apresiasinya.
      KangTono bener, saya lagi belajar jadi Internet Marketing dengan personality sejenis Mario Teguh dan Tung Desem Waringin itu… tapi bukan niru Thukul yang pecicilan lan biyayakan itu… :D

  7. lovepassword says:

    Emangnya pikiran negatif itu apa bisa dihilangkan iya ? :)

    • Lambang says:

      Keknya sih bisa. Siddharta, Bunda Theresa dan Nabi Muhammad ngga pernah mengeluarkan statement bernada negatif. Tapi ngga tahu ya apa yang ada dalam pikirannya… jangan-jangan ngeres juga… :mrgreen:

      Kalau saya belum bisa, wong lihat cover majalah FHM aja langsung ngeres. :)

  8. eMina says:

    kata Arvan pradiansyah, kunci kebahagiaan juga adalah dengan cara memanage pikiran. salah satunya ya, dengan meminimalisir pikiran negatif. tapi klo menghilangkan agak berat kayakknya, walau bisa diusahakan. kadang kita ya tetep aja suka berpikiran negatif kan?

    • Lambang says:

      Nah itu dia, meminimalisir pikiran negatif itu harus dilakukan terus menerus. Kalau sudah terbiasa, bisa menjadi sangat minimal mendekati nol, dan semua pikiran negatif akan hilang.

      Oom Arvan mungkin sedikit keliru. Me-manage pikiran belum tentu berhasil. Jadi kunci kebahagiaan bukan di aktivitas me-managenya, tetapi pikiran yang sudah terkendali dengan baik bisa menjadi kunci kebahagiaan.

  9. @Lambang
    Saya tidak tau , sampeyan fokus ke pikiran negatif atau meremehkan orang lain trus jadi bertindak negatif.
    Kalau yang pertama, saya pikir justru dengan adanya pikiran negatif kita lebih memacu untuk hidup bener atau enake, apa sing sampeyan maksudke berpikir negati itu???
    kalau berpikir ngeres itu negatif gak??? nah bagaimana kalo ngelamun jorok??? atau ngelamun golput dan haramnya rokok dan foto prewedding???

    • Lambang says:

      Hallo Cak Ahmed,

      Soal meremehkan orang lain itu, hanyalah contoh dari salah satu pikiran negatif. Harusnya, bisa diubah menjadi positif dengan berpikir bahwa kita bisa melakukan dengan lebih baik apa yang bisa dilakukan orang lain itu, tanpa meremehkan sama sekali.

      Soal pikiran negatif kita lebih memacu untuk hidup bener, keknya ngga gitu. Ada sebagian orang yang ngga tahu pikirannya negatif atau positif. Misalnya ada orang ngebut. Pinginnya orang itu dicegat terus dihajar. Dia pikir itu adalah pikiran positif dan merupakan solusi terbaik untuk orang ngebut. Semua orang pasti setuju. Itu jelas pikiran negatif, dan sudah dilakukan secara massal. Kalau mau positif, pikirannya diubah. misalnya, “Oooo… orang itu mungkin lagi buru-buru karena istrinya sedang sakit. Yo wis biar aja dia seperti itu. Yang penting saya harus hati-hati kalau jalan atau menyeberang.” Kita ngga mungkin bisa mengubah dunia. Yang bisa kita lakukan hanya menyesuaikan diri dengan dunia.

      Kalau pikiran ngeres itu ada dua jawaban. Kalau dari sisi Islam jelas itu mendekati perbuatan haram, jadinya ya ikutan haram. Tapi kalau dari sisi pengembangan pikiran positif, itu sangat bagus karena melatih berpikir bebas dan menghilangkan semua batasan.

      Oleh karena itu saya selalu mencoba tidak mencampuradukkan hal-hal semacam itu dengan larangan agama. Biasanya saya mencoba menganalisa, kenapa ada suatu hal yang diharamkan. Apakah itu hanya ujian untuk mentaati perintah Tuhan? Apakah Tuhan itu sosok otoriter atau sosok Maha Pengasih dan Penyayang? Apakah tidak mungkin ada penjelasan ilmiah ataupun rasional yang ada dibalik larangan itu, baik yang sudah diketahui maupun yang sampai saat ini masih belum diketahui oleh manusia? Kalau sudah ketemu jawabannya, ya sudah, itu yang saya jadikan pegangan hidup saya. Bukan kata orang atau kata kitab. :D

      • ahmed shahi kusuma says:

        @Lambang
        ya..ya. Cak Lambang.
        maksud saya, malah justru dari hayalan ngeres model Freudian muncul ide enaknya surga yg berlimpah susu susu dan madu. Nah jadinya negatif yg jadi
        positif gicu kan?
        Kalo segalanya memerlukan penjelasan rasio-nal
        nal, malah saya pikir itu gaya Leibniz ya?
        malah gak rasional model Freud kan juga
        Ok, toh mas?

      • Lambang says:

        Emang susah koq membahas agama dan ketuhanan itu. Kalau dijelasin secara rasional, dijawab belajar agama jangan terlalu mengandalkan akal, cukup menggunakan iman. Kalau dijelasin secara irrasional, malah dituduh kapir dan siap dibacok. :)

      • m4stono says:

        belajar agama menggunakan iman, lha iman itu apa sih? kalo pengertian iman itu yakin maka dibutuhkan kesaksian utk bisa mencapai taraf yakin, lha kalo cuman membaca kitab sama katanya pak ustadz ya masih tahapan percaya atau percaya yg diyakin yakinkan :mrgreen: beragama masih sebatas “katanya”

        kalo belajar hanya pake nalar kita sendiri juga mumet ujung2nya, ketika ditanya “pak kyai, gusti Allah bisa nggak menciptakan batu yg sangat besar sehingga gusti Allah sendiri tidak bisa mengangkatnya?” jawab kyai “&#*&$*$*$$*….dasar santri kapir!!!” :mrgreen:

      • KangBoed says:

        Naaaaaah.. ini die.. degradasi moral.. eee.. salah.. mengsrute.. degradasi nilai keimanan.. baru katanya.. kata anu.. kata buku.. kata kitab.. kata si mbah.. katanya katanya katanya katanya.. katanya katanya katanya katanya.. katanya katanya katanya katanya.. katanya katanya katanya katanya.. katanya katanya katanya katanya.. dah bilang berIMAN.. xixixi.. percaya dan IMAN.. percaya masih bagian dari Nalar.. sedangkan IMIN eee.. IMAN.. ini adalah satu frekwensi HATI.. demikian juga kehidupan ini sejujurnya hanyalah sebuah permainan dari FREKWENSI HATI.. mo masuk frekwensi mana asal bisa.. bahkan alam semestapun mempunyai frekwensi masing masing..

  10. Lambang says:

    Tuh KangTono,
    Kata KangBoed hati ada frekwensinya. Tinggal cari gelombang Prambors atau Elshinta. Kek radio… :)

  11. sikapsamin says:

    Puasa2…bingung, saya gentayangan kesana-kemari akhirnya nyangkut disini…
    Setelah baca-baca antara ngerti dan nggak malah tambah bingung(mungkin karena referensinya confuse-sious kali ya?), tapi malah terlintas cerita ‘humor-sufi’, begini :

    “suatu hari terlihat nasruddin terlihat sedih duduk dibawah pohon dekat padang rumput.
    kawan2nya memperhatikan akhirnya menanyakan ada apa kok terlihat sedih.
    nasruddin menjawab sepedanya hilang sementara ditinggal cari rumput”.
    singkat cerita semua kawan2nya menyalahkan nasruddin, -kenapa sepeda disandarkan dibawah pohon, -kenapa tidak dikunci, -kenapa tidak dititipkan pada salah seorang dari mereka, apa tidak percaya dst. dst…semua menyalahkan nasruddin…
    hal tersebut diterima dg tabah oleh nasruddin, tapi dalam batinnya huueerrannn…
    semua menyalahkan saya yang sudah kehilangan sepeda…
    tapi tak satupun menyalahkan sipencuri sepeda..

    saya sendiri…ya ikut hhhuuueeerrraaannn

    • Lambang says:

      Sebetulnya saya heran juga kenapa ngga ada yang menyalahkan rumput itu. Seandainya dia ngga tumbuh di sana, mestinya Nasrudin ngga jadi cari rumput tapi cari bayem di pasar yang ada titipan sepedanya. Kan aman to. :)
      *biar besok makin mumet*

      • sikapsamin says:

        Lha…maksud Nasruddin cari rumput utk dijual, uangnya utk beli bayem dipasar plus bayar titipan sepeda…

        *pasti mumeté nganti lebaran*

    • Kurasa,
      Menyalahkan apa dan siapa pun,
      Kita memerlukan pikiran negatif,
      Bukankah itu sedang kita coba hindari?

      Salam Damai!

  12. **is natta says:

    hmm,,,
    kata” yg simpel tp mempunyai banyak arti……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 41 other followers

%d bloggers like this: