Di Jawa ini sudah menjadi tradisi penduduk dari semua agama dan aliran kepercayaan untuk mendoakan para leluhur secara berkala pada hari-hari tertentu. Di agama Islam, disebutkan ajaran yang menghimbau untuk mendoakan ayah bin pulan binti pulan dan ibu bin pulan binti pulan. Tidak ada himbauan agar mendoakan juga kakek, nenek, buyut, cicit, canggah, gantung siwur dan leluhur di atasnya. Selain doa kepada almarhum ayah dan ibu, ada juga doa Qunut untuk mendoakan umat secara umum, dan dibatasi hanya kepada kaum muslim dan mukmin, artinya hanya untuk orang Islam saja.
Artikel selengkapnya bisa baca di sini:
Mendoakan Leluhur
Related Article: Mendoakan Orang Lain
Advertisement










PERTAMAXX
wah kalo ini agak nyangkut2 klenik di trit forum sebelah
padahal saya juga salah satu aktivisnyajujur saja ini bukan aliran saya dalam arti sering meminta tolong dgn leluhur, kalo mendoakan ya secukupnya…..kalo saya lebih berpendapat bahwa org yg mati itu sudah “sinempa ing angin” yg artinya sudah terputus hubungan dgn yg masih hidup…..tapi apakah bisa yg sudah meninggal menemui yg hidup? ya tentu saja bisa tapi kalau hanya kondisi sangat mendesak, tidak bisa setiap saat kita mintai bantuan
apalagi utk praktek perdukunantoh juga mosok para leluhur mau ngajarin kita utk tidak mandiri to?lalu siapakah yg suka nyaru menjadi arwah leluhur? kalo jawaban mudahnya ya jin
kafirkalau jawaban yg agak rumit ya “hasil rekaman” dari aktivitas leluhur dahulu yg terekam oleh alam semesta yg kemudian berinteraksi dgn alam bawah sadar kita yang bisa jadi kita anggap sebagai arwah leluhur betulan…..kalo berurusan dgn yg gaib2 memang rumit dan pelik, bisa jadi yg kita aku2 itu justru cerminan dari nafsu kita bukan sesuatu yg kita tuju
ngomong dawa2 ben dikira pinter, asline gur isone teori thokWoiya Kang, targetnya memang bukan untuk minta tolong, tetapi berbuat kebaikan termasuk kepada yang sudah meninggal dan para leluhurnya. Yah mirip dengan kalau kita menolong orang yang sama sekali tidak kita kenal. Sepintas kan ngga ada manfaatnya bagi kita. Lagian kan ngga pantes kalau kita itung-itungan dagang pahala dengan Tuhan.
Tapi kalau saya terawang dari sisi enerji *halah kemaki*, semua perbuatan baik atau perbuatan jahat kita itu akan berakumulasi dan suatu saat akan berbalik pada diri kita. Na, supaya ngga ada efek balikan yang bisa berbahaya itu, maka marilah kita minggirkan sedikit egoisme karena tiap hari berdoa hanya kepada diri sendiri dan keluarga, dan kita coba untuk mendoakan orang lain termasuk mendoakan arwah siapapun yang sudah meninggal, karena ruh yang masih dalam status “keleleran keronto-keronto” sangat memerlukan doa dari yang masih hidup.
Ngga ada repotnya juga kalau mencoba, paling hanya lima menit.
Sama seperti ngga ada salahnya mencoba membuat Orgonite itu.ya kalau mendoakan sih harus mas
walaupun sekarang2 ini jarangtapi ada juga kan yg mengharapkan imbalan utk mengakses ilmu atau kelebihan beliau2kek org yg kemarin2 kita rasani itu lho…hihiya saya kira memang kalo arwah yg keranta ranta itu biasanya disebabkan oleh dirinya sendiri pas hidup, misalnya mati dgn tidak tenang
kroncalankarena masih ada dendam, maka alam pun merspon ketidak tenangannya dan menjadi energi yg mirip2 dgn arwah si yg mati itu….kalo menurut mbah albert
lambangeinstein, ketika org itu meninggal maka energi yg tersisa akan menyatu dgn tanah dan sekitarnya tempat dia dikubur, maka dari itu tanah kuburan menjadi keramat…jadi intinya ketika org itu mati maka ruhnya akan menempati tubuh baru berupa jasad halus, yg mana tubuh baru itu adalah perwujudan perbuatannya didunia, kalau jelek ya jadi buto pocong dsb dan gentayangan didunia, kalau cukup baik ya ke langit dan ketemu bidadari2
kalo bagi para bocor aluser ya kembali ke ilusi persepsi dan imajinasi masing2Kalau yang itu bener Kang. Banyak yang ziarah berbekal pamrih. Biar hidupnya mulyo, biar waras dan lain-lain.
Yang masih jadi pertanyaan saya, kalau orang itu hidupnya santai, ngga pernah berbuat jahat, ngga pernah dendam, ngga pernah iri dan lain-lain, tapi ngga punya anak, lha kan kasihan ngga ada yang mendoakan dia untuk membantu jalan menuju halte berikutnya. Kan ngga bisa menyalahkan perbuatan masa lalunya karena terkesan normal dan wajar.
Kecuali sering nonton 3gp Miyabi.wah saya kira doa yg masih idup gak penting2 amat gan, sebab gak semua org punya anak atau pengikut….yg penting hepi2 aja….hihi
Iya Gan. Lagi visualisasi dewasa berfoya-foya, tua berbahagia dan setelah mati masuk sorga naik Bouraq.
…karena ruh yang masih dalam status “keleleran keronto-ronto” sangat memerlukan doa dari yang masih hidup…
__________________________________
lha iya…perasaan saya ini belum jadi ruh, tapi kok “keleleran keronto-ronto”…terus mengharapkan doa dari siapaaa…ya?
Beginilah nasib blogger kelas PKL, ‘hrs ikhlas’ menerima TAK-DIR (mangsute TAK-DIRèwès) oleh blogger kelas atas.
Kalau begitu saya bikin Orgonite digenggam dg kedua telapak-tangan, dan berdoa : “Semoga TAK-DIR yang menimpaku segera kembali kesumbernya”…
*hihihi…dendam dot com…mbulayuuu*
Hihi.. kelas PKL koq pakai MacBook…
Blogger kelas atas tu apa maksudnya isnaini atau priyadi itu? Ya jelas ngga direwes wong mereka ngga membahas nasionalisme, leluhur atau Tuhan. Yang dibahas software, template atau cara cari uang di internet…
Uuassem’ik…balik maring MacBook.
Kok jadi boomerang ya?
Nasionalisme?
Jadi inget Reformasi-1998. Nggak lama muncul istilah Repotnasi… Lha sekarang banyak yang makan Nasiaking…
Ini hasil produk software jenis apa, terus yg mencipta siapa, mas?
@mas Ngabehi,
Soal mendoakan arwah yg sdh meninggal, saya ya begitu mudheng. Jelasnya ya cuma ikut saran2 ‘para pakar’.
Tapi inget nonton berita-TV, di Thailand pacsa tsunami-2004 yl, pada kesempatan pertama masyarakat melakukan doa massal bagi arwah para korban tsunami…
Soal mas Ngabehi sering mimpi didatangi arwah2, mungkin bukan karena sering melakukan doa mas.
Menurut ‘terawangan’ saya, arwah2 tsb senang gravatar mas Ngabehi.
*lho…seneng guyonan gak yo? Mati aku…mbulayu aaahhh*
Kulonuwun kang Lambang.Baca tulisan ini kok saya jadi inget pak modin di kampung saya.Dulu saya suka cekikikan kalau pak modin sedang ngekrar-ake doa.Contohnya begini;”dumateng para leluwur ugi para arwah sedaya kemawon, ingkang kampir ing prapatan, ingkang kerimatan mboten kerimatan, lan ugi ingkang mapan wonten keblat sekawan,lsp-ipun, sedaya menika wau mugi2 tansah dipun paringi pangapunten dening Gusti Ingkang Moho Agung”.Lha saya baru nyadari, ternyata doanya pak modin yang sekilas lucu menggelikan itu, sebetulnya amat mulia sekali.
Monggo mas Ngabehi.
Iya mas, kita itu kadang saking sibuknya ngurusi diri sendiri dan keluarga, sampai lupa ngurusi ruh orang lain yang keleleran keronto-ronto itu. Jangan-jangan yang keleleran itu masih satu gantung siwur dengan kita.
Saya punya pengalaman lucu kang, terlepas itu hanya ilusi, tersugesti atau apalah, yang jelas itu terjadi pada diri saya.Dulu kalau pas saya lagi nyantai terus inget temen atau orang lain yang sudah meninggal, saya suka berkirim alafatihah.Lha hasilnya, saya suka bermimpi didatangi arwah2 orang yang sudah meninggal, dalam mimpi itu lain-lain yang mereka sampaikan. Ada yang berkeluh kesah(curhat), ada yang sambat sebut, ada yang sekedar pamer kalu hidupnya enak dsb.Lucunya lagi makin kita sering kirim doa, yang nemuin juga makin nambah. Wah kalau terus2an kok makin lama mengganggu privacy juga ya he he he.
@sikapsamin
Soal mas Ngabehi sering mimpi didatangi arwah2, mungkin bukan karena sering melakukan doa mas.
Menurut ‘terawangan’ saya, arwah2 tsb senang gravatar mas Ngabehi
========================================
ahaiii, menurut saya kok bukan masalah itu mas Samin, saya malah jadi narsis, jangan2 orang kaya saya ini, yang notabene sering dicap cuma wong abangan, doanya malah selalu manjur ha ha ha, lha buktinya orang yang sudah mati saja pada ngantri minta didoain ha ha.Herannya kok belum ada artis atau politikus yang datang minta di doain ya….(promosi):mrgreen:
Ya itulah mas, repotnya jadi selebritis di kalangan para arwah… hehe..
@mas Ngabehi,
Wah…ayem aku,
Maklum mas, idola saya itu para punokawan terutama Bagong, dan tokoh ‘pandir’ Nasruddin, jadi saya ikut gak-karuan begini ini.
Soal ingin didatangi artis atau politikus, saya doakan dalam 35-hari(selapan) terhitung mulai nanti malam ini, kayaknya bakal keturutan…
*hihihi…kemlinthi dot com*
Mas Samin kalau menjaga situs Sangiran ya harus sering-sering kirim doa ke leluhurnya yang ada di situ. Sapa tu namanya, Phitecantropus Erectus apa ya…
*ben ayeme ilang*
Lho…mas Lambang, saya patuh dhawuhe simbah.
Berdoa apapun itu, tidak usah pakai hitungan 7X, 40X dst, sedapat mungkin tiap isapan dan hembusan napas, adalah doa. Sampai akhirnya tidak lagi merasa berdoa atau tidak…
Btw…hati2 lho kalau menyinggung ungkapan2 yg menggunakan kata ‘Erectus’, apalagi menyangkut Sangiran, nanti kena ‘walat’…nggak bisa erectus…bhlai tenan…hihihi
Wah hiyo, blaik tenan.
Lha bisa thela-thelo ra karuan…
Yo wis nitip ngapunten untuk simbah “Homo Erectus”.
*duh, simbah bikin nama koq ya pakai homo segala*
Soal nama ‘homo erectus, phitecantropus lsp’…mingturut literatur kan dari bahasa Yunani.
Kalo aslinya ya…TANPO-ARAN atau tanpa-nama…
@Lambang
Yen konco smpyan penginjil gereja Pantekosta, melarang acara beginian,….
kalo koncon sampyan wahabi yo ora doyan mocone fatihah gawe leluhur (la padahal Ibn Taimiyah mbahne wahabi iku memperbolehkan!!! hihihihi…)
Repot juga memang kalo agama copot kitab suci yg dibaca abad 21, mengabaikan fakta bahwa agama adalah tradisi yg ribuan taun da ada!
Mas ASK,
Pancen repot nek ngikuti imajinasine dhewe-dhewe.
mendoakan leluhur ada beberapa pemaknaan yg saya tahu selain memohonken ampunan. ada yg mengirim doa sebagai rasa syukur karena berkat para pendahulu itulah seseorang bisa lahir di dunia. ada juga lantaran faktor genetika tertentu dari leluhur itulah orang bisa
pintar bikin prakarya membuat orgonitehidup dengan sejumlah kelebihan. atau mungkin bersyukur terlahir dari keluarga yg punya tradisi mendidik anak-anak dgn penuh kasih sayang… saya pernah dengar itu orang meminta leluhurnya di makam lalu ditemui dan komentarnya semacam begini: “kamu kok malah minta ke saya? bermohonlah kepada Tuhan. buat kami cukup mintakan ampunan…” kira-kira gitu.. tapi ya gak tau apakah itu yg ditemui leluhur yg asli atauoplosanpalsu atau imaginasinya sendiri…Untung leluhurnya masih nyuruh minta ke Tuhan. Kalau ketemu leluhur yang atheis kan repot. Ngga mau pakai kembang tapi maunya aroma therapy.
kalo ateis ya jawabannya mungkin “tidak ada alam kematian, tidak ada tuhan, ini bukan aku…” lha trus sopo
dulu pernah punya pengalaman ditemuin simbah putri yg nangis2 di mimpi, setelah di cek ternyata kuburannya gak terurus oleh keluarga yg deket2 situ, padahal saya jarang2 mendoakan simbah
hiks
memang sih yg sudah mati bisa melihat dan berhub dgn yg masih hidup, tapi kan tidak semua dan tidak sering2 juga, cilakanya kalo yg datang itu gendruwo yg mirip2 dan ngaku2 simbah kita ujung2nya minta rokok dan sajen….nah lo mosok udah mati masih aja nggragas
…nah lo mosok udah mati masih aja nggragas…
__________________________________
hihihi…bingung to?
kalau menurut imajinasiku, nggragas itu kan sifat, sedangkan sifat adalah salah satu cabang dari energi. Nha…akhirnya ketemu rumus mbah Einstein to?!
Jadi energi itu abadi…jaréné
ngalaming lelembut… hiiiiii
@KangTon: Konon untuk membedakan itu ruh asli atau jin yang ngaku-ngaku, cukup dibacakan syahadat jin.
@Mas Samin: Mungkin entar ada energy drink yang bermerek “Nggragas Drink”, khusus untuk orang-orang yang pingin gemuk dan meningkatkan sifat ngabis-abisin makanan.
@Mas Gen: Alam AKU sopo INGSUN.
*Suryomentaraman Fans Club*
Hihihi…”Nggragas Drink”…
Sangat innopatip, sangat innopatip…
Keknya perlu segera di’patent’kan, terus buka “GENDRUWO-CAFE”…
Josss tenan…
kulonuwun…
nderek mampir sederek2…nyuwun perso nggih
saya ikut gabung boleh to mas…ngangsu kawruh dateng ingkang pakar. lhah kulo bingung je, membedakan roh ama jin trus dibacain syahadat jin. mbok nyuwun perso kayak apa syahadat jin, biar saya g kepeleset.
matur suwun sederek2
Lha kok ujungnya bisnis lagi…
Bagusnya memang begitu mas. Ngobrol ra nggenah terus ujung-ujungnya ada inspirasi bisnis…
Betul juga…tuh, hayo Mas Sikapsamin ilmu ekonominya ditularke to…hhehhe #nyekel sabak plus merang*
Kalau mas Samin itu udah mapan tujuh turunan. Tinggal thenguk-thenguk tiap hari setoran jalan terus…
ngobrolin “kematian” memang werno-werno, sy sempet dibuat “gendhadhapan”…mikirin hal tersebut…sempet 2 kali ngalamin sesuatu yg mungkin berhubungan dgn hal tersebut tp yg pertama sy ndak inget karena orang tua sy yg cerita “sy ni nyowo balen” jd ndak pati dipikirin…lha nda inget..
Biasanya orang yang “hidup lagi” itu kemampuan spiritualnya sangat tinggi. Bisa meguru nih sama mas Sumego…
Pilih jd murid Njenengan aja Mas Lambang…#%#mekso kudu gelem%$
Wuah kalau belajar sama saya malah katut jadi bocor alus dan bisa diberi stempel musyrikin dan laknatullah.
Kan cuma stempel Mas…dicuci pake aseton ilang kok…hehehe
Wah hiya ya. Lha koq seperti membersihkan cipratan Orgonite ya…
piye kabare mas lambang?
sy jarang ngedoain leluhur…
Apik dik Mina. Yo wis kalau jarang mendoakan leluhur, paling entar malem didatengin dan diberi petuah.
jadi teringat kalau kita mendoakan nabi muhammad
katanyaakan mendapat syafaat…….lha nyatanya yg suka sholawatan pake teriak teriak juga yg pernah ditemuin nabi muhammad paling2 satu banding seribu….jangan2 database solawat nabi di alam sana sampai error dgn tingkah polah umatnya yg suka teriak2, jadi data2 umat yg dijadwal utk ditemuin jadi kacaungawur ndot comKalau ngikuti cerita syahadat dan syafa’at itu ya ada yang aneh juga bagi saya. Yang pertama fakta bahwa Nabi sendiri ngga yakin masuk surga dan minta didoakan oleh umatnya. Yang kedua, Nabi minta imbalan sholawat untuk mendapatkan syafa’atnya. Bukankah Nabi mengajarkan agar kita lebih banyak memberi daripada meminta?
*kafiiirun – musyrikin – murtadin*
Tapi yah kembali lagi ke pendapat yang menyatakan bahwa agama tidak boleh dinalar dengan akal. Ini memang pendapat yang sangat paradoks. Kalau memang Tuhan tidak mengijinkan manusia menggunakan akalnya untuk menilai agama, kenapa manusia dilahirkan dengan memiliki akal? Bantahan untuk pertanyaan ini juga sudah ada. Tinggal cari di Google dan beriman pada jawaban yang mana.
Mudah-mudahan nantinya banyak ilmuwan yang bisa lolos masuk surga. Minimal sebagai penyeimbang jumlah penduduk surga yang tidak mau menggunakan akalnya.
…Mudah-mudahan nantinya banyak ilmuwan yang bisa lolos masuk surga. …
_______________________________
kalo nggak salah ‘terawang’, data hasil fit & proper, memang sdh banyak ilmuwan yang sebenarnya lolos masuk surga. Hanya pelaksanaannya terpaksa ditunda, menunggu fit & proper calon2 bidadari utk menambah stock di surga, jadi para ilmuwan diimbau utk bersabar…dan sementara dibagi gambar2 poster para selebriti dulu…
Kelihatannya ada laboratorium pembibitan baru di Surga Indah II gan. Mungkin banyak yang lolos timbangan, jadinya stock menipis.
Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku :
http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx
Kok tumben sepi ya Mas Lambang…apa ladi pada sibuk mendoakan para leluhurnya ya…?? ato lg persiapan WeekEnd…ya
Sssttt…tenang dulu mas Mego,
Mas Lambang sedang menyiapkan artikel kejutan…
Gempar pokoké…
Pamuji Rahayu Mas Sikapsamin…
O gitu ya, pantesan kok adem ayem kerto raharjo…#bisik2 mode on#
Sedang mempersiapkan artikel baru, Lomba Memasak.
Hiyaaa.. keknya belum pernah blog agama bocor alus gini yang buat artikel tentang memasak. Biasanya ada di blog emak-emak…
Tu kan dirasani akhirnya mak bedunduk…
Mendoakan leluhur adalah menunjukkan rasa terima kasih kita akan kebajikan yg mereka tanamkan pada kita. Di luar mereka banyak alpa terhadap kita. lalu bagaimana cara kita berterimakasih pada mereka? dikirim parsel?
Lha udah bener itu mas. Mendoakan leluhur sebagai ucapan terima kasih. Yang jadi masalah adalah leluhur yang tidak didoakan oleh keturunannya, atau yang tidak mempunyai keturunan. Makanya akan lebih baik kalau kita juga mendoakan semua leluhur, apapun SARA-nya, bukan hanya mendoakan leluhur kita saja.
Setujuuu..
Of course, what a great site and informative posts, I will add backlink – bookmark this site? Regards,
Reader.
doa ketika nyebar kembang di perempatan :
Duh Gusti saya tidak sekedar menyebar kembang, namun menyebar kebaikan kepada seluruh titah Paduka yang meleawti perempatan ini. semoga kebaikan, keselamatan dan kebahagiaan menyertai seluruh titah Paduka
itu salah satu contoh kesadaran kesemestaan Jawa, tak hanya berdoa untuk leluhur atau sesama manusia namun seluruh titah yang ada.. Mantap!!!
l like bang LM…
hallo BOSS…
Dalam ‘agama’ Blogging…kiranya perlu ditradisikan Mendo’akan Sahabat (terutama yang suka berantem komen) sesama Blogger, semoga masih ingat dan bisa pulang keBlognya masing2…dalam keadaan bugar kewarasan…
sugeng kenal mas Lambang, mas samin, Mas Ngabehi lsp pun
lah niki informasi sing tak golek2i je…Subhanallah, kulo diparingi kesempatan mengembangkan wawasan kejawen. Joss tenan…setuju mas2, pokoke kalo kita doain para leluhur kinasih tanpa pamrih aja. bener2 minta ama Allah agar diampuni dosa dan diberi tempat yg baik. Imam thabrani*nek g salah ya* bilang kalo dewe2 meniko ndongakke sing apik karo sopo wae, maksude sing tasih sugeng utawa pun kondur, pahalane nggih balik teng dewe2 juga mas. pokoke dewe positif thingking mawon tanpo embel2 njaluk sing neko2 mas. wong yen dewe ikhlas lan sabar energi kosmik dalam tubuh kuwi nambah je…wuis kemlinthi tenan…ngapunten gih mas2
Mukamad yg bukan leluhur kita tiap hari 5X didoakan, giliran orangtua kandung kita lantaran lain agama eh doa kita gak nyampe. Begitupula doa dari orang lain karena bukan anak kandung juga gak nyampe. Malang nian jadi orangnya Mukamad tukang perang ke mana2 bawa pedang.
orang gereja pantekosta taqiyah pake nama nasionalis indo padahal ga’ pantekosta sama wahabi sama saja
kulo nuwun dulur….
podho tindak ngendi yo do’an kok sepi….
salam kenal kagem om lambang, om sumego om samin lan liyo liyane….
di tunggu gojekane yo om…
(tergantung sng moco gelem mikir po ora)
hehehe…
pingin ndherek ngangsu dulur….
berita terbaru 2011…
[...]Mendoakan Leluhur « Islam Abangan[...]…