Bawa Muhayyaddin

globe and mouse Atmosfir metafisis –- yang ke dalam atmosfer ini shalat ditempatkan –- berada di luar peliknya pertumbuhan sejarah. Ia merupakah sebuah tempat, di tempat ini Islam bukan berarti agama atau budaya, bahkan juga bukan sistem keyakinan, melainkan sebuah kondisi yang memancarkan kecemerlangan yang universalitas mobilitas temperamennya terlalu sulit ditangkap dan terlalu tinggi untuk dimiliki siapapun. “Segalanya adalah Islam. Islam adalah kesucian sempurna hati. Islam adalah samudra yang maha luas. Jika ada ajaran Tuhan, itulah Islam. Menerjemahkan kualitas-kualitas kebenaran ke dalam bentuk tindakan, dan menerima dengan antusias cinta sejati, maka itulah Islam. Hati yang letih, hati yang terluka, kalau dengan antusias menerima hati-hati ini dengan cinta, dan memberi hati-hati ini susu cinta, menerima hati-hati ini langsung, dari hati ke hati, dalam harmoni, persaudaraan, dan simpati, maka itulah Islam.

Baru kemudian kami tahu bahwa Bawa hanya mengulang bagaimana kata-kata Islam dan Muslim pertama kali dikatakan oleh Nabi Muhammad. Orisinal dari dimensi-dimensi mistis, kedua kata itu berarti “ketundukan diri manusia kepada Tuhan” dan “orang yang pasrah diri kepada Tuhan,” dan tampaknya area keduanya tidak terbatas pada komunitas tertentu. Dalam surah ketiga Al-Qur’an, misalnya, Ibrahim disebut-sebut telah “pasrah atau tunduk patuh kepada Tuhan” (kaana muslim), dan kemudian murid-murid Isa mengatakan, “Bersaksilah bahwa kami tunduk patuh kepada Tuhan” (bi-annaa muslimuun).

Ketika suatu hari seorang anak bertanya kepada Bawa, apa yang mesti dikatakan bila ditanya bagaimana keyakinannya, Bawa secara tidak langsung menyebut-nyebut tentang bagaimana kaumnya dapat memahaminya sendiri:

Anda seorang Nasrani, karena Anda beriman kepada Yesus. Anda seorang Yahudi, karena Anda mempercayai semua nabi, termasuk di dalamnya Musa. Anda seorang Muslim, karena Anda beriman kepada kenabian Muhammad. Anda seorang sufi, karena Anda mempercayai ajaran universal cinta Tuhan. Anda sungguh bukan semua itu, namun Anda adalah semua itu, karena Anda beriman kepada Tuhan. Dan begitu Anda beriman kepada Tuhan, maka tak ada agama. Begitu Anda memilah-milah diri berdasarkan agama, maka Anda berpisah dari sesama manusia.

Bahasa asli Bawa, yaitu bahasa Tamil, adalah bahasa penduduk India Selatan seribu tahun sebelum Weda ditulis, dan ada kecenderungan untuk menganggap dia sebagai representasi dari tradisi-tradisi lisan zaman itu. Bahasanya formal, penuh dengan pengulangan yang dramatis sifatnya dan banyak lapis pemikirannya, sebuah gaya pengajaran di bawah pohon banyan. Bahasa seperti ini mengalir dari mulutnya, siang dan malam, ketika berbicara serius tentang sesuatu, dan dalam kidung yang dilantunkan karena dorongan yang natural sifatnya.

Terjemahan kata demi kata sulit sekali memberikan hasil yang diharapkan. Bahasanya adalah bahasa Shakespeare versi Tamil. Bawa memang orang kuno. Kalau bicara dia seperti Shakespeare. Karena itu kami mengambil keputusan untuk memadatkan atau meringkaskan bahasanya agar ketinggian dan keindahan puisinya tetap terasa. Ini memang berisiko. Jadi hati-hatilah! Ini merupakan bergelas-gelas air yang diambil dari aliran kecil air, sesuatu yang membuat hidup terasa lebih enak meski tak dapat menangkap holisme yang terdapat dalam bahasa aslinya. Kata-kata yang meluncur dari mulut seseorang yang benar-benar tercerahkan, gaung atau gemanya luar biasa, bentuk dan alirannya halus dan indah. Kita tak boleh amatiran dalam menerjemahkannya. Barangkali syair-syair Bawa dalam buku ini lebih merupakan penyampaian informasi dan pesan ketimbang penerjemahan.

Shalat adalah anugerah terbesar dari Allah yang bila dilaksanakan dengan penuh kepatuhan dan kesetiaan, akan melahirkan kekuatan psikologis yang mampu membantu kita mempertahankan dan mengungkapkan keselarasan batin yang mendalam.

Buku ini menyelami shalat lebih dalam melalui “mata” kearifan seorang syaikh sufi kontemporer. Bawa Muhayyaddin, yang membentangkan jalan menuju berbagai realitas dan hakikat yang universal dan terdalam, dan juga melalui “mata” kebijakan sang maestro sufi par excellence abad ketiga belas, Jalaluddin Rumi.

Amalan shalat yang sederhana, mudah dan mendasar. Bacaan dan gerakan yang melibatkan segenap keberadaan seseorang. Makna batin dari azan, wudhu, dan pelukan spiritual yang penuh kedamaian. Diungkap dalam bahasa tulisan dan gambar-gambar simbolis yang sangat kuat.

Detail selanjutnya dapat dilihat dalam buku “Shalat di Mata Sufi: Anugerah terbesar dari Allah, Coleman Barks & Michael Green, Penerbit Pustaka Hidayah Bandung, 2003, 155 halaman.” Harga Rp. 23.000,- di Purwokerto pada tahun 2005.

Dikemas oleh : Lambang (https://islamabangan.wordpress.com)

10 Responses to Bawa Muhayyaddin

  1. senada dengan pemikiran Bawa, Tuhan adalah Urip Kang Nunggal Ing Sakabehing Sipat dengan begitu agama adalah ageming aji sekedar atribut bukan diri yang sejati

  2. kangBoed says:

    yayaya… hati adalah cermin… seberapa lama kita lupa akan hati kita… jika cermin itu terlanjur kotor dan berjamur… mari kita bersihkan dalam doa pertobatan dan permohonan ampun… dan majulah dalam tiket laa hwalla walla quwata… hmm… cermin yang mengkilat, hati yang bersih… itulah islam / mu’min
    Salam Sayang

  3. Lambang says:

    KangBoed,
    Dalam persaudaraan dan persahabatan, terkadang kita tidak menyadari bahwa sebetulnya ada kaitan hati yang tidak kasat mata. Kaitan yang selalu menyatukan diri, yang jauh lebih kuat dari ego yang tersimpan dalam dada. Kaitan ini juga akan memunculkan empati yang terkesan samar dimata orang lain, tetapi terasa bergelora bagi yang terkait. Persahabatan sejati ini baru akan terbukti setelah diuji oleh teriknya matahari, dan derasnya air hujan.
    Semoga hati ini selalu dipenuhi oleh cinta kepada Tuhan dan simpati kepada sesama.

    Salam Sayang Selalu.

  4. kangBoed says:

    hmm… indahnya persahabatan jika ada pertemuan RASA.. meninggalkan semua fikir.. Rasa adalah unity sedangkan fikir adalah untung dan rugi… itulah luar biasanya hati nurani manusia yang bangkit…
    Salam Sayang

  5. Enak-enak baca, eh endingnya ada promosi buku.
    Lagi jualan buku, ya Kang?

    Salam Brrrrr

  6. mromi says:

    Wah saya belum ngerti sepenuhnya tulisan ini…, lagi ngeblank .. atau emang blank teruss yaa…

    ==============================
    Lambang:
    Ngga papa mas, dibaca aja bolak-balik sambil komat-kamit… mudah-mudahan udah ngga ngeblank lagi…:mrgreen:
    ==============================

  7. KangBoed says:

    Hehehe.. komat kamit.. pake sajen sepiring nasi goreng kambing sama ice juice avocado.. rokok djarum sebungkus.. hehehe..
    Salam Sayang
    Salam Rindu untukmu😆

    ==============================
    Lambang:
    Yayaya… komat-kamit kepedesen… Cabenya lima…
    Salam my brathaaar
    :mrgreen:
    ==============================

  8. lor MURIA says:

    🙂🙂😡 🙂 🙂

    ======================
    Lambang:
    😆😆
    ======================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: