Beauty Contest para Caleg

calegPemandangan di sepanjang jalanan Jakarta akhir-akhir tampak semakin semrawut. Media promosi (spanduk dan poster) caleg muncul di mana-mana. Dinding, tiang listrik, jembatan, rumah kosong, lapangan dan ruang terbuka lainnya. Jangan sekali-kali berani menurunkan spanduk ini karena alasan merusak pemandangan, kecuali berani menanggung resiko digebuki massa pendukung.

Ada poster yang direkatkan di balok jembatan layang. Pemasangan model seperti ini jelas akan sulit untuk dilepas. Selain sulit lokasinya, lem kertas murahan yang digunakan justru mampu bertahan bertahun-tahun. Terbukti dengan masih adanya sisa poster pemilu lima tahun lalu yang masih tetap menempel kuat disana.

Sempat juga terbersit pertanyaan, apa tidak ada aturan pemasangan spanduk yang baku. Apa tidak ada sanksi yang tegas untuk pelanggaran ini. Hukum larangan merokok dan publikasi pornografi sanggup untuk mengenakan denda puluhan juta sampai milyaran rupiah, kenapa untuk hal yang satu ini tidak mampu. Apa tidak berani membuat peraturan karena ada resiko berhadapan dengan massa pendukung?. “Halah, komplin melulu”.

Dari berbagai media promosi yang saya jumpai, sedikit sekali yang menjelaskan tentang program kerja. Cari di Google juga ngga ketemu. Untuk hal yang satu ini saya bisa maklum, selain karena ruang yang tersedia di media promosi sangat terbatas, ada dugaan kuat bahwa mereka memang belum merasa perlu atau belum mampu membuat rencana kerja yang jelas.

Memilih caleg mana yang cocok dan akan saya pilih, tentu membutuhkan keahlian untuk mengamati wajah. Saya merasa tidak perlu bertanya-jawab via sms atau email dengan caleg tersebut karena tidak tahu nomor HP dan email-nya. Selain itu saya juga sudah bisa menebak kira-kira apa jawaban dari seseorang yang sedang dalam masa promosi. Hmmm… monoton, klise dan gombalan mukiyo.

Benar juga yang disampaikan oleh Dr. Ir. Sri Bintang Pamungkas pada wawancara di TV-One tanggal 18 Feb 09 19:30, “Sebagian besar mereka adalah orang-orang yang tidak kita kenal. Pemilu haruslah terdiri dari orang-orang yang dikenal. Hanya sebagian kecil saja yang kita kenal memang memiliki kapasitas cukup. Sebagian besar adalah penganggur-penganggur, tidak mampu menjadi professional, dan akhirnya hanya bisa berharap mendapatkan kedudukan dan kekuasaan melalui jalur partai. Berharap menerima amplop nanti setelah mendapatkan jabatan.”

Karena tidak ada pilihan lain, maka dengan terpaksa saya harus menjadi juri beauty contest dari para caleg. Tidak ada tanya-jawab. Murni hanya mengamati wajah, gaya ber-foto dan isi motto/jargon yang ada.

Mengamati nama dan wajah para caleg yang terpampang, tercium aroma narcisme yang kuat. Sudah jelas belum terkenal, belum sekelas selebriti, fotonya mungkin baru sekali ini muncul di area publik, gaya-nya “pasfoto style”, kategori wajah “no comments”, lho koq berani-beraninya pasang foto? Apa jalanan jakarta sudah dianggap berubah menjadi FaceBook, jadi bebas memasang foto?

Selain masalah kurang populer dan kurang bisa bergaya, ada juga yang memang masalah bawaan lahir. Ada yang wajahnya lebih serem dari preman pasar. Ada yang cantik/keren dan bergaya. Mungkin sudah mengenal retouching. Ada yang melongo dan terkesan pandir, ada yang kurang pede dan membawa-bawa nama anaknya, dan ada juga yang terlalu pede dengan berpakaian dan bergaya superman seperti gambar di atas.

Dari nama-nama yang terpampang, tidak banyak nama Jawa, Bali atau Banten yang muncul. Padahal jumlah penduduk di tiga propinsi ini mencapai sekitar 70% dari penduduk Indonesia. Lebih banyak nama-nama yang berasal dari pulau Sumatera. Nama yang mirip dengan nama pejabat- pejabat di Gedung DKI, Dinas Tata Kota dan PT Aneka Tambang. Nama polisi di jajaran tengah dan bawah. Nama sebagian besar jaksa, hakim dan pengacara. Nama para penegak hukum, termasuk juga beberapa yang memanfaatkan hukum untuk kepentingan pribadi.

Pengamatan ini menimbulkan pertanyaan baru, apakah ada hubungan antara narcisme dengan kebiasaan suku tersebut? Apakah untuk menjadi anggota DPR/DPRD harus narcis? Apakah harus pintar ngomong dan berani malu? Apakah harus mengesampingkan kerendahan hati dan akal sehat? Nah, kalau baru jadi calon saja sudah tidak berakal sehat, bagaimana kalau sudah jadi anggota dewan? “Hmm… jangan sembarangan menuduh…”

Pemilu ini menghabiskan dana sekitar 50 trilliun. Seorang caleg, begitu selesai disumpah, maka dia harus melepaskan hak dan tanggung-jawabnya dari kepengurusan partai. Yang tertinggal hanya politik dagang sapi saja, “Kalau Anda terpilih, jangan lupa dengan partai kita dan kita-kita ini ya, yang telah mendukung Anda dengan sepenuh tenaga, upaya dan dana besar”.

Oleh karena itu, Dr. Ir. Sri Bintang Pamungkas juga mengatakan bahwa “Golput itu baik untuk memberikan pelajaran kepada Pemerintah agar membuat sistim Pemilu yang lebih benar. Golput itu adalah sesuatu yang pasif. Kalau mau yang aktif ya gagalkan Pemilu. Rezim Soeharto masih lebih baik dari rezim SBY ini, walaupun Soeharto juga buruk. Tetapi secara relatif Soeharto masih lebih baik dari SBY. Pemilu ini hanya main-main saja, calonnya brengsek, undang-undangnya gombal dan presidennya juga gombal”.

Salut untuk Pak Bintang. Beliau berani mengatakan kebenaran di media massa tanpa takut ditangkap, digebuki maupun dipenjara. Mungkin karena beliau sudah berpengalaman di penjara, jadi semakin berani.

Kesimpulan akhirnya sederhana saja. Saya hanya akan memilih dari nama dan gambar yang terpampang di papan tulis dekat TPS, yang gambarnya belum pernah terpampang di FaceBook jalanan, yang wajahnya jernih dan mencerminkan kerendahan hati, yang berasal dari partai favorit saya, yang berasal dari suku mayoritas. Yang melongo atau pandir juga ngga apa-apa, asalkan kelihatan jujur. Mungkin seperti wajah kebanyakan TKW kita sebelum berangkat ke Arab (bukan wajah setelah pulang, beda jauh).

Kalau ternyata ngga ketemu, ya saya coblos semua. Pemilu saya gagal. Berubah menjadi golput. Mau haram atau halal, terserah apa kata MUI aja. Toh itu masih terbatas dalam tingkatan fatwa saja. Belum punya otoritas apapun dari atas sana. Otoritas dari atas? Maaf ngga dilanjutkan, takut berpolemik musyrik.

Dikemas oleh : Lambang (https://islamabangan.wordpress.com)

One Response to Beauty Contest para Caleg

  1. problema yang menghinggapi para pemilih : lha saya pada nggak kenal orang2nya:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: