Sang Guru

Seorang pemuka agama – kita sebut saja si Guru – terbang ke Afrika untuk membawa misi agamanya. Kulitnya putih dan pakaiannya rapi. Di Afrika itu ia mengajarkan hal-hal yang positif sesuai dengan jaman sekarang. Misalnya, ia berulang kali berkhotbah “mandilah dua kali sehari”, “jangan berbohong”, “jangan berzinah”, “jangan bermain ‘kuda-kudaan’ dengan yang bukan istrinya”. Dan seterusnya. Karena penampilannya yang bersih dan rapi, ajarannya pun diterima oleh kaum afrika keriting hitam itu.

Setelah dua tahun menjalankan misinya, terjadi kegemparan. Seorang wanita yang tinggal di sebelah rumah pak Guru melahirkan anak dengan kulit yang putih mirip kulit si Guru. Kejadian rumpi dan gosip ria ternyata tidak monopoli orang Jakarta, di Afrika hitam sana pun hal itu terjadi. Ibu-ibu terlihat banyak bergerombol ngegosip bayi kulit putih. Kata-katanya kurang lebih begini: “Cuma dia satu-satunya orang kulit putih, itu pasti karena dia pernah numpang parkir!” Pendapat itu kemudian ditimpalin: “Iya…. itu sudah pasti! Ia yang mengajarkan kita untuk tidak main-main…. eh ternyata dia juga yang melanggarnya.” Dan masih banyak lagi komentar miring tentang itu. Hasil akhirnya, mereka mengadukan masalah ini kepada kepala suku.

Sebenarnya kepala suku tidak ingin menegor pak Guru itu, tetapi karena desakan arus bawah, dengan terpaksa ia mendatangi rumah pak Guru lengkap dengan pengawalnya.

Dengan wibawa ia mulai mengetuk pintu. Dan setelah dipersilakan masuk, kepala suku mulai berkata:
“Kami menghadapi masalah yang cukup rumit. Kau mengajarkan kami untuk tidak main dengan isteri orang, tetapi ternyata isteri tetanggamu hamil dan melahirkan bayi berkulit putih. Kau tahu kan di sini tidak ada orang lain yang berkulit putih. Ini pasti hasil kerjaanmu! Mengakulah!”

Si guru gemetar ketakutan. Ia membayangkan hukuman apa yang akan menimpanya bila ia mengaku. Maka ia mencoba berargumen. Sambil menunjuk ke kawanan domba di seberang jalan ia berkata: “Lihat domba-domba itu. Semua bulunya putih. Lalu mengapa itu ada anaknya yang hitam? Itu artinya alam bisa saja mengubah warna!”

Dan….

Belum sempat pak Guru melanjutkan pembicaraannya, kepala suku langsung berteriak: “Ayo pulang! Balik saja! Apa saya bilang…. dia mau menyinggung aku!”

9 Responses to Sang Guru

  1. Lumiere says:

    😯
    padahal saya sudah serius…😆

  2. Lambang says:

    Lumayan, dapat satu yang ketipu….😆

  3. kangBoed says:

    hiiiiiiiiii tukang tipu ketipu hehehehe nyang nipu tukang apa yaaaa ????? waaaaah kabuuuuuuuuuuuuuur

    Ada

  4. Diampuuuuuuuuuuttt….

    Serius banget mocone rek..rek…JEBULE
    WEDHUS IRENG….
    Dasar si Bule Jowo ( Kang Lambang ) kulite IRENG…

    Kabuuuuuuuuuurrrrr….ngejar Kang Boed…
    Kang tunggguuuuuuuuuuuuu…..

  5. Lambang says:

    Dapet satu lagi. Total udah dua yang kena…🙂

  6. meguru jebul isa saka ngendi-ngendi, kalebu saka si wedhus ireng:mrgreen:

  7. Lambang says:

    bagus juga kalau judulnya diganti “meguru saka wedhus gimbal”.. he..he.. 🙂

  8. wa kak kak.. ternyata ada juga humor disini😀😀😀

  9. umiaceh says:

    asem tenan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: