Sate Sandal atau Sate Kelabang

Kalau Anda diberikan dua pilihan, ditraktir Sate Sandal atau Sate Kelabang, pasti jawabannya: Ugh, gila loe! Masak suruh makan sandal ato kelabang!

Tapi masalahnya akan jadi lain kalau Anda “diwajibkan” makan salah satu, dengan resiko jauh lebih besar dan lebih berat kalau menolak. Misalnya di bawah todongan pistol di kepala.

Sel abu-abu di kepala Anda langsung bekerja. Kalau sandal, jelas ngga ada rasanya. Sudah pasti alot. Tapi ini akan jauh lebih aman daripada makan kelabang. Kelabang kan biasa di tempat lembab, comberan, WC. Hiidiih, nggilani.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Anda akan memilih sandal saja, walaupun alot toh nanti di perut tidak mempan diolah dan pasti akan keluar lagi dengan aman. Ngga mungkin jadi sakit perut atau mual-mual. Resiko terbesar paling–paling saluran pembuangannya yang lecet-lecet. Ngga masalah, bisa diatasi dengan Anusol.

Pilihan akan berbeda kalau yang ditawari orang Jepang. Dia pasti akan segera mengambil sate kelabang, karena mereka senang makan berbagai serangga dan ulat seperti yang ada pada gambar di bawah ini.

sate_kelabang.jpg

sate_ulat.jpg

Uraian di atas hanyalah sebuah analogi seandainya dalam kehidupan yang beragam ini, Anda mendadak disodori dua pilihan yang harus Anda ambil salah satu. Misalnya tetap kerja di Jakarta atau pindah ke pedalaman? Mau menikah dengan si A atau si B? Berobat ke dokter atau paranormal? Mendalami syari’at atau mengikuti tarekat? Mengikuti metode dzikiran atau meditasi?

Pilihan yang selalu sulit untuk dianalisa karena umumnya hanya satu yang pernah dirasakan, sedangkan pilihan yang lain belum pernah dicoba tapi terlihat berkilauan dari kejauhan. penalaran yang dilakukan akan lebih sulit lagi kalau pilihan yang ada adalah menyangkut masalah spiritual.

Buat orang-orang yang nekat sih sederhana saja, ambil salah satu yang kira-kira baik, ngga usah dinalar berkepanjangan lagi, lalu jalankan. Kalau gagal, jalankan plan B. Hmm… masih beruntung punya plan B. Kalau ngga punya gimana? Terpaksa merancang strategi lagi dari awal, dan mencari opsi-opsi pilihan yang tersedia.

Jadi kesimpulan atau sarannya apa hah.. apa…? Ngga ada kesimpulan dan ngga ada saran. Silahkan buat kesimpulan dan saran sendiri. Hidup ini kan pilihan. Bebas memilih. Mau pilih no 5 atau 15 atau 25 ya terserah aja. Hasilnya kan baru bisa dilihat beberapa tahun kemudian. Kalau salah ya trial and error lagi. Mulai dari awal lagi. Lingkaran kehidupan.

Maaf, jadi nggedabrus ngga karuan… berhubung tadi malam online sama teman2 seperjuangan (* halah *) sampai jam 4.30. Alkibatnya sekarang kepala jadi agak goyang. Mungkin karena isinya udah ngga penuh lagi. Bocor kali ya.
Bocor alus…..

cat_and_headphone.gif

16 Responses to Sate Sandal atau Sate Kelabang

  1. ami says:

    hayah, sekalinya masuk sini yg muncul gambar kelabang disundhuki, waduh onok uret sisan. untuuung gambar paling bawah lutu sekali, kucing joged. iya mas, hidup adalah pilihan, yg lebih penting, selesai memilih, jadilah itu tanggungjawabmu untuk menjalaninya.sing parah, wani milih tapi wayahe nglakoni sing gak enake, hlah nyalahke rono rene. gitu apa ya?

  2. Lambang says:

    He.. he…
    Sekali-kali ngeliat jenis masakan yang lain.
    Siapa tahu cocok, bisa jadi menu harian…🙂

  3. kangBoed says:

    hihihihihi……………….
    mudah mudahan tambah bocor ya maaaaaas biar siip hahahaha sandal atau kelabang weleh weleeeeeh mas mas saya pilih atau aja dah alias di antara eh eh eh antara berarti masih ada alam ruang dan waktu ya dibalik antara saja lah eh di bolak balik saja yayayaya,,…… biar peyan tambah bingung,.. hehe laaaaaaari..
    Salam Sayang

  4. antokoe™ says:

    kalo kelabang, belalang dan konco-konconya ditusuk jadi sate, tapi kalo nomor-nomor itu dicontreng
    tapi kalo suruh milih aku milih sate ayam plus sate embek.

  5. Lumiere says:

    astaghfirulloh…

  6. Lambang says:

    @Kang Boed:
    Tambalannya udah banyak nih. Mungkin udah waktunya ganti yang tubeless atau brainless. 🙂

    @Antokoe:
    Nomornya cuman asal nyebut aja. Kelipatan 5. Ngga ada afiliasi sama sekali.

    @Lumiere:
    Wolo-wolo kuwato….:mrgreen:

  7. sitijenang says:

    kan tergantung niat. mo dapet apa dari makan?:mrgreen:

    Yang jelas dapet sandal atau kelabang…. atau dapet kenyang?😯

  8. SufiMuda says:

    mmm… keren nich tulisannya🙂
    Kalau boleh saya buat satu pilihan lagi,
    Mau jumpa Allah atau masuk sorga-Nya?😀

    Untuk level dasar cukup masuk makhluq surga dulu, sesuai anjuran kitab. Nanti kalau sudah tingkat lanjut, nafsu spiritualnya juga akan meningkat, pingin ketemu Sang Pencipta…🙂

  9. Aku pilih no. 234 saja atuh Kang,
    gak pilih Sandhal ato Klabangnya…

    KRETEK getoh loh….kebul…kebul….
    karo ndilati bumbune Sate….

    Gimana kalau kelompen gendruwo yang kemarin itu? Waks…😆

  10. ahgentole says:

    Bumbu sate sandalnya enak enggak? Yang penting rasa dulu. Substansi belakangan.

    *taklidmasjenang*

  11. Lambang says:

    Setuju sekali, substansi belakangan. Yang bikin penasaran kan trial and error-nya itu..😀

  12. quantumillahi says:

    Ya benar mas Lambang, kadang2 kita diberi pelajaran oleh Allah SWT selalu dipersimpangan. Kalau kami yg bekecimpung dalam riset, kasus spt ini adalah pengkayaan literatur yang memang harus dipilih agar semakin jelas riset kita. Memang memilih yg sulit untuk dipilih tidak mudah. Insya allah jika niat kita senantiasa untukNYA, walau milihnya salah tetap ada hikmah yg luar biasa dari salah tersebut. Mhn maaf jika tdk berkenan dalam komennya. trims ya mas idenya, akan sgera saya tulis ide ini di quantum illahi.

    Monggo mas, silahkan…🙂

  13. frozen says:

    Itu… gambarnya… >_< ukkh!
    *saya ultra phobia semua jenis ulat!*

    Kelihatannya sekarang sedang ultra phobia juga dengan segala macam mawar….. 😥

  14. wah memang ada isu-isu sih menyarankan sumber protein manusia sebaiknya diganti dari serangga, alasannya: jumlah lebih banyak, lebih cepat dibiakkan, ga butuh tempat dan sumber daya alam banyak (buat makan serangga) dibanding sumber protein yang ada sekarang.

    saya dulu sempat mikir mau coba ikutan tarikat (plan A), atau tetep stick around dengan Siddharta (plan B). Setelah cari-cari info, ah dasar saya pemalas, ikutan plan B aja, minimal ga usah ngerjain ritual macem-macem:mrgreen:

  15. sitijenang says:

    @ Lambang
    saya kira tidak tepat menyamakan “pilihan biologis” dengan “pilihan ideologis” *haiyah nggaya*. orang makan itu yg dicari bukan kenyang, melainkan pemenuhan kebutuhan gizi untuk tubuh. sandal tidak bisa disejajarkan dengan serangga dong…😎

    @ Ahgentole
    rasa itu kan gak cuma bumbunya aja. secara lengkap, apa yg diinginkan dari makanan adalah wujud yg enak, baunya juga enak, sensai rasa di lidah enak, di perut juga enak, dan paling penting apakah hasilnya bagi tubuh mengenakkan. dalam batin pun bisa timbul rasa senang. lha kalo bisa lengkap gini kan emang enak…:mrgreen:

  16. Lambang says:

    Mangsudnya kalau hanya ada dua pilihan yang harus diambil, sedangkan dua-duanya ngga ada yang enak, ya jelas rasio harus pegang peranan. *ikutan nggaya*.
    Sandal sama serangga kan sama, sama-sama ngga enak. Sama-sama bisa terbang juga. Tapi kalau sandal terbangnya karena dilempar.😀

    *saya dilempar sandal juga nih*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: