Wawancara Eksklusif: Buddha Bar!

Pagi ini saya harus melakukan wawancara dengan mbak EQ selaku kuasa pemilik Buddha Bar yang akhir-akhir ini sedang menjadi berita besar. Jadwal wawancara sudah disepakati kemarin, antara saya sebagai wartawan dari Tabloid Sunan Kuning dengan Mbak EQ selaku kuasa dari pemilik Buddha Bar.

Jam tujuh pagi saya sudah berangkat menuju lokasi wawancara, di Buddha Bar Jakarta Pusat. Saya tiba sepuluh menit sebelum jadwal. Ternyata mbak EQ sudah sampai lebih dulu.

“Selamat pagi mbak, udah nunggu lama mbak?’ sapa saya. “Selamat pagi juga Mas. Ngga apa-apa koq, saya baru nunggu sebentar aja”, sahut mbak EQ. Mbak EQ dengan senyumnya yang khas segera menambahkan, “Oke mas, silahkan langsung saja wawancaranya.”

“Baik mbak. Saya hanya ada tiga pertanyaan untuk mbak. Mudah-mudahan jawaban atas pertanyaan saya ini bisa mengobati rasa keingintahuan para pembaca tabloid kami.”

“Pertanyaan yang pertama, kenapa pemilik bar memilih franchise Buddha Bar ini, padahal kan masih banyak franchise lain yang tidak mengundang kontroversi?” tanya saya kemudian.

Mbak EQ merenung sejenak, dan kemudian menyahut, “Yah memang banyak pilihan franchise di luar sana. Tapi waktu kami masuk ke Buddha Bar yang ada di Paris, terkesan ada sesuatu yang lain dalam design interior dan menu makanannya. Meskipun ini hanya bar biasa, tapi design interiornya, termasuk juga adanya patung-patung Buddha itu, memberikan nuansa spiritual yang kental. Para pengunjung merasa sangat tenang dan damai di sana.”

“Ngga ada suasana hura-hura dan hingar bingar gitu mbak?” tanya saya. “Nggak, sama sekali ngga ada itu”, sahut mbak EQ.

Pertanyaan pertama sudah terjawab. “Boleh saya lanjutkan ke pertanyaan ke dua mbak?”, lanjut saya. “Silahkan mas”, jawab mbak EQ.

“Pada awal kontroversi tentang hal ini, pernah disebut-sebut nama mbak PN yang putri mantan petinggi itu sebagai pemilik saham Buddha Bar ini. Kenapa nama itu sekarang tidak pernah disebut lagi? Apakah karena mbak PN sudah menarik diri dari kepemilikan saham?” tanya saya kemudian.

Mbak EQ langsung menjawab, “Oh soal yang itu. Mbak PN bukan pemilik saham. Karena pemilik bar ini cukup akrab dengan dia, jadinya mereka kemana-mana sering terlihat berdua. Para wartawan kemudian menangkapnya lain, sehingga muncul berita-berita tentang kepemilikan saham tersebut. Sekarang berita itu kan sudah berhenti dengan sendirinya, karena mbak PN memang tidak terlibat apapun di bar ini.”

Sebetulnya masih ada pertanyaan lanjutan tentang hal ini, seperti “Bukankah mbak PN sekarang dicalonkan sebagai presiden? Apakah ada kemungkinan masalah kepemilikan saham ini sudah dipindahtangankan seperti kasus kepemilikan saham BKR di Lapindo Brantas?.” Tapi… ya sudahlah, masih ada satu pertanyaan lagi yang lebih penting dari pertanyaan ini.

“Pertanyaan yang ke tiga mbak, apakah pemilik bar ini akan mengganti nama Buddha Bar ini menjadi nama yang lain, karena adanya desakan dari para penganut ajaran Budha?” lanjut saya.

Mbak EQ kemudian berkata, “Hmmm… gini mas, saya kasih tahu. Dalam dunia bisnis entertainment seperti ini, jangan pernah melupakan sisi marketing. Dengan adanya polemik berkepanjangan seperti ini, kami bisa memperoleh promosi gratis dari berbagai media cetak dan elektronik. Semua stasiun TV membahas, Semua koran membahas, semua web, blog, news center di Internet berlomba-lomba untuk membahas masalah ini. Bukankah ini merupakan promosi gratis yang kalau dinilai dengan rupiah bisa mencapai milyaran rupiah? Nama Buddha Bar adalah plan A. Kalau di-demo, kami sudah punya plan B, namanya diganti menjadi nama lain, misalnya Brahman Bar. Memang kami rugi franchise fee, tapi kami kan dapat promosi gratis besar-besaran dari demo ini.”

“Kami tidak melanggar hukum. Semua prosedur hukum sudah kami jalankan. Nama sudah didaftarkan di HAKI. Ijin usaha dan ijin operasi sudah disetujui. Apa lagi? Masalah keharusan menjaga agar tidak ada kelompok atau orang lain yang tersinggung, kan masih abu-abu, tidak bisa dimasukkan dalam undang-undang. Kemudian masalah efek marketing yang ternyata muncul sesuai dugaan kami … bukan karena disengaja lho … itu kan bukan salah kami. Salah mereka yang ribut-ribut khan? Yang jadi tukang kompor kami atau mereka?”

“Tapi.. tolong penjelasan yang ini jangan diberitakan dulu ya mas, karena kami akan menunggu beberapa minggu lagi sebelum diganti namanya. Biar makin ngetop dulu… ”

“Wah, ngga bisa mbak. Kebenaran harus disampaikan walaupun terasa pahit. Saya akan buka penjelasan mbak ini kepada para pembaca tabloid kami.” jawab saja.

Mbak EQ menyahut, “Lho mas, itu kan sudah jadi kode etik jurnalistik bahwa jika nara sumber tidak menghendaki untuk di-ekspose ya jangan di-ekspose.” Saya menjawab cepat, “Tapi tabloid kami tidak menganut kode etik itu mbak.”

Dengan termangu-mangu, mbak EQ kemudian bertanya “Tabloidnya apa namanya mas? Biar nanti Bapak aja yang mendamaikan masalah ini.” “Tabloid kami namanya Sunan Kuning,” jawab saya. Mbak EQ melanjutkan lagi “Apa hubungannya dengan Sunan-sunan lain seperti yang di Walisongo itu?” “Ngga ada hubungannya mbak,” jawab saya. “Sunan Kuning itu adalah sunan yang senang berpakaian kuning-kuning, seperti pakaian para bikshu Buddha itu. Kadang dia juga suka makan nasi kuning, tahu kuning atau kuning telor.”

“Ooo .. gitu. Wawancaranya udah selesai kan mas, kan udah tiga pertanyaan saya jawab. Tolong jawaban yang terakhir jangan dipublikasikan ya. Bapak biasanya nulis memo kalau ada masalah-masalah yang perlu penanganan lebih lanjut semacam ini. Ngga tahu memo ke siapa, tapi biasanya masalah akan berhenti dengan sendirinya setelah keluar memo itu.” lanjut mbak EQ.

“Jadi ngancem ini mbak?” kata saya agak sengit. “Ah ngga, kalau saya suka yang di semur aja, bukan di bacem….,” jawab mbak EQ kalem. Ah… si mbak ini, cantik-cantik ternyata rada budeg juga. Sebodo amat dah.

Bunyi alarm HP yang sudah dua kali terdengar sayup-sayup, kali ini terdengar lebih keras.

Ugh, kaget juga akhirnya!. Alarm sudah tiga kali bunyi, berarti saya sudah terlambat bangun dua puluh menit. Hiyaaa…. telat lagi hari ini!. Ilusi wawancara dengan mbak EQ langsung buyar. Yang penting segera mandi, makan dan nyampe kantor dulu. Soal nulis artikelnya di-blog, ya udahlah…. belakangan aja.

11 Responses to Wawancara Eksklusif: Buddha Bar!

  1. wakaka, kirain serius ada tabloid Nasi Kuning:mrgreen:
    Udah coba masuk bar baru tsb, mas?

  2. Lambang says:

    Belum tuh. Takut kuwalat sama patung-patung yang selalu senyum itu…..😕

  3. Hehehe… wawancara fiktif ini nyentil:mrgreen:

    Ah ya… saya juga merasa nggak suka dengan itu bar yang pake nama Buddha, biarpun saya sendiri muslim. Lha itu si Puan Maharani dan anaknya Sutiyoso yang punya dalang, katanya muslim juga kan?

    Saya miris melihat demo damai umat Buddha kemarin itu di layar tipi. Menyentuh.

    Hargailah perasaan umat beragama lain. Setan banget dah! Coba kalo itu yang punya saham non-muslim dan yang dipake nama Abu Thalib Bar atau Muhammad Bar, bisa lebih rame dan lebih ribut yang demo😕

    • Lambang says:

      Kalau kata pepatah: Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Kalau untuk masalah yang sangat sepele gini udah ngga punya empati, gimana untuk masalah yang lebih besar? Padahal satu dari buah itu sedang dikarbit jadi pohon pengayom.:mrgreen:

  4. kangBoed says:

    hihihihi…….
    jangan jangan….. ternyata….. hehehe…….. sampeyan kebelet ama mbak EQ nyang cuantik dan bahenol nol noool nolll yaaa sampe sampe kebawa mimpi segala hiiiiii.. dasaaar ngeres hahahaha…….. ooo kamu ketahuan….. kabuuur aaah

  5. Lambang says:

    Hiks, ketahuan ya….🙂

  6. Lumiere says:

    hmmmm, menarik🙄 (kirain tadi beneran)

    😀

  7. Rukia says:

    Kalau kata pepatah: Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

    saya lanjutin ya,”kecuali tanahnya miring”:mrgreen:
    .
    .
    btw, Budha bar itu awalnya saya pikir nama sejenis mainan anak-anak bukan nama bar
    [/tulatit]:mrgreen:

    Ditambahin lagi: Kecuali pohonnya ada di atap mobil, pohonnya nyampe Jakarta, buahnya ketinggalan di Jogja.

    Sama, saya pikir tadinya sejenis candy bar berbentuk boneka Buddha😕

  8. Hiks…rupanya BLOG ini juga bagian daripada PROMO dari ” BUDHA BAR ” yah….

    Duduk bersila ngantri bagian ROYALTI…

    Nemenin bersila sambil makan candy-bar…🙂

  9. Kang Nur says:

    🙂 ..Jadinya BUBAR DAH.. salam kenal.. tulisannya bagus😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: