Tatap Mata Bersahabat

brasil_samba“Mengapa kamu memandangi saya?,” tanya si kecil Indonesia yang sudah tiga tahun hidup di Brasilia, Ibu kota negeri Brasil itu. Pertanyaan ini semula saya anggap pertanyaan wajar sebuah komunikasi lucu antar anak berumur lima tahun dengan seorang pengembara yang baru datang ke negeri Samba itu. Namun, ketika saya memandanginya lagi dan pertanyaan serupa muncul lagi setiap kali, saya jadi berkesimpulan bahwa si kecil tulus itu pasti sudah menyarap sebuah cara berkomunikasi yang khusus di Brasil ini. Apa itu?

Nah, setelah tanya orangtuanya dan setelah bergaul dengan iklim ibu kota Brasil ini, menjadi nyata bahwa pandang mata di sini bermakna sapa langsung. Apa artinya? Artinya, Anda tak pernah akan diperlakukan sebagai orang asing di negeri ini lantaran mereka sendiri juga bukan penduduk asli (orang-orang Brasil punya campuran darah yang begitu majemuk hingga wajah-wajah cantik, tampan yang tampil merupakan evolusi “sempurna” keturunan putih, Afrika, coklat, mata biru, mata coklat, rambut hitam, merah atau pirang semuanya membuat generasi baru yang amat toleran dengan warna kulit atau wajah “asing baru”).

Inilah yang ditunjukkan dengan membiarkan semua orang hidup bebas pada ruang merdeka dan tampil dalam ekspresinya sendiri-sendiri. Orang boleh merdeka tampil menurut dirinya sesuai dengan keunikan masing-masing. Orang boleh berpakaian menampilkan lekuk dan postur tubuh indah, montok, gagah ciptaan agung dan ciptaan indah Tuhan yang sepatutnya disyukuri. Begitu ramai dengan tawa riang, senyum simpati, penuh keramahan, penuh penghargaan pada tiap orang dengan keunikan masing-masing tanpa mau membuatnya sebagai objek atau sebagai pelengkap penderita. Bagaimana orang-orang Brasil ini mengekspresikannya?

Itu diungkapkan dengan tidak memandang lekat-lekat atau pandangan mengawasi pada perilaku Anda. Apa yang mereka lakukan? Sungguh memikat setelah menyelami ke roh batin di balik penghormatan unik pada tiap orang itu. Mengapa? Ternyata, bila kita secara sengaja dan sadar memandang ke sesama, di situ mata kita dan pancaran sorot mata bening kita diperankan dan berfungsi sebagai bahasa sapa salam yag mesti langsung spontan diiringi dengan selamat pagi atau salam “Bon dia!” Bukan main! Ini berarti, manakala kita mulai membuat pandang mata ke seseorang, kita sekaligus membuat aksi menyapa dia lewat sorot mata kita dan serentak dengan itu kita menyapanya dalam sorot mata menjadi “welcome” untuk sapa salam dan kehadiran.

Di situlah direkatkan “selamat pagi atau halo Bung” kita dengan sorot mata. Maka, bila kita tidak berniat menyapa seseorang, jangan memandangnya pada wajah atau langsung sorot ke matanya. Apalagi kalau sorot pandang mata kita itu menyelidik. Di sana pandang mata menjadi tikaman mengobyekkan sehingga sesama kita akan bertanya “mengapa Anda memandangiku? Mengapa Anda melihatku penuh selidik macam begitu?”

Di Brasilia inilah saya lalu menyadari sekali betapa alamiah sorot mata dan pandang disatukan dengan gerak batin sapaan selamat pagi, siang, atau salam sahabat. Kita akan mengalami di sini bahwa kita tidak pernah dipandangi curiga atau disorot tajam oleh mata menyelidik apabila mereka tidak bermaksud menyapa kita. Bila mereka ingin menyapa, maka mereka akan menyapa dengan omong-omong ramah yang bisa ditemukan di sini, di mana-mana.

Kita sebagai pendatang baru dengan predikat turis atau tamu di negara Brasil tidak akan merasa terasing lantaran tak ada pandang mata mau tahu atau menyelidik apalagi curiga. Kita sebagai tamu-tamu di sini dengan cepat sekali menjadi kerasan lantaran tidak dipandangi curiga apalagi dimata-matai dengan sorot menyelidik.

Ah, Brasil yang sudah ramah tamah dengan sepak bola berseni samba penuh daya gerak roh dan estetika seni bermain itu menjadi tampil makin mengagumkan di pikiran saya.

Apalagi ketika meminta potret bersama dengan orang-orang di sini, dengan riang dan ringan hati mereka berpose wajar dan berekspresi gembira bersama sang tamu yang sedang terkagum-kagum pada sebuah penghayatan nilai bersesama yang ramah dan mencengangkan itu.

Apalagi ketika saya mau membuat foto di sebuah pasar di mana ada semacam bapak satpam atau polisi di situ. Dengan santai dia bertanya apakah kita wartawan? Kalau Anda bukan wartawan pasti Anda akan bawa foto ini untuk oleh-oleh ke tanah air Anda bukan? Begitulah jawaban ramah darinya manakala tahu kami hanyalah wisatawan amatir yang sedang menikmati betapa hangat udara bersesama yang amat manusiawi di sini. Dengan itu pula kita tak pernah diasingkan atau merasa dipandangi asing lantaran siapa saja diterima dengan tangan terbuka termasuk keunikan penampilan kita.

Inikah sebabnya mengapa jiwa di sini berpakaian bebas merdeka dengan segala penampilan amat menonjol sebagai cetusan hormat pada masing-masing ekspresi pribadi? Inikah pula sebabnya mengapa seragam sekolah tidak ada di sini lantaran yang penting hasil kerja dan cara kerja manusiawi melayani sesama yang ditaruh di nomor depan dan bukan formalisme, baju-baju seragam rapi luar? Inikah pula sebabnya mengapa pakaian praktis enak warna-warni seakan menari samba tiap hari dipakai dan dihayati di sekolah-sekolah hingga anak-anak tampil merdeka (meskipun kemelaratan dan masalah jurang kaya miskin masih tetap bermasalah di sini)?

Saya menjadi tersadarkan dan menangkap sekali makna pikiran Jean Paul Sartre yang menegaskan bahwa pandang mata orang itu secara negatif mau merampok kemerdekaan orang lain dan mengobyekkan sesamanya manakala pandang mata itu menelanjangi, menelan bulat-bulat sesama jadi obyek pandang mataku lalu mereduksi (menurunkan)-nya dari “L’être en-soi” (berada dalam dirinya sendiri) menjadi benda semata. Inilah sebabnya, menurut Sartre, rebutan saling pandang antar sesama yang mencurigai, menelanjangi dan mengobyekkan itu lalu membuat hidup bersama menjadi neraka. “L’enfer, c’est les autres” (sesama adalah neraka bagi sesama).

Padahal, justru kesadaran kita akan kebenaran kata-kata Sartre bisa kita cermati di sini, di Brasilia, manakala sesama tidak diasingkan, tidak diobyekkan di bawah penjajahan sorot mata atau pandang mata, di mana sesama menjadi rekan yang disapa sebagai sahabat. Homo homini socius: manusia menjadi sesama sahabat bagi yang lain lantaran disyukuri dalam tatap mata yang menyapa: salam dan selamat pagi teman! Buenos Dias! (LK)

15 Responses to Tatap Mata Bersahabat

  1. mas8nur says:

    Budaya yang berbeda, ekspresi berbeda dan tingkat ketulusan yang perlu kita contoh untuk negeri ini.
    Jadi harus hati2 dong kalau memandang orang lain…..

    Salam kenal mas…………

    ==============================
    Lambang:
    Sayangnya budaya kita yang tidak kalah luhur dengan budaya bangsa lain, saat ini sudah terkikis oleh arus globalisasi, terkikis oleh ego dan emosi…

    Salam kenal kembali mas…🙂
    ==============================

  2. Yudi says:

    Setelah baca-baca artikel ini paham kenapa GDr ditinggikan makomnya oleh kawanan ganknya. Lha wong setiap papasan beliau selalu nyambut dengan selamat pagi. Dulu Yudi pernah makmum salat pada seorang nomaden di musholla sebelah rumah. Waktu salat masuk injury time dia noleh kanan kiri sambil ngucap selamat pagi wr.wb. Nah waktu saya nanya ustad ini Islam Reformis ya? Dia jawab, bukan, saya harus menghemat waktu sekalian kenalan dengan kalian karena harus segera neruskan perjalanan, hehehe.

    =============================
    Lambang:
    Kolaborasi budaya Indonesia dan Arab, “selamat pagi wr.wb.”
    Yang ngga jelas soal “injury time” waktu sholat itu. Ati-ati, entar ada yang bawain golok…:mrgreen:

    =============================

  3. Intan says:

    Bingung nih siapa GDr itu yah? Mau dibilang Godir yang isinya cendol tapi kok bisa salat segala ya. Kalau yang dimaksud bung Yudi beliau itu mantan Presiden RI yang dipapah kesana kemari itu, tapi kok pakai gank segala, lagian beliau kan masih hidup, kok makamnya ditinggikan. Wah Pak Lambang harus angkat bicara nih…..

    ==============================
    Lambang:
    Maqom itu maksudnya tingkatan.
    Tentang gank, biasanya diartikan sekelompok orang yang memiliki pandangan hidup yang sama, dan sangat reaktif terhadap singgungan dari luar.
    Bahkan ada sekelompok pendogma yang berperilaku seperti gank. Bacok! Bakar! Bunuh! Demi membela sang pimpinan dan maharaja.😎

    ==============================

  4. adi isa says:

    “bravo for brasil”
    negara dengan kemajemukan paling tinggi.semoga kita bisa mengambil pelajaran yang baik dari hal ini.
    bukankah kitapun diajar untuk bisa menerima perbedaan?
    ya, kan.

    ==============================
    Lambang:
    Betul mas. Sayangnya ada sebagian orang yang kopig, ngga mau menerima perbedaan…🙂
    ==============================

  5. Yudi says:

    Kalo ngacu pada pendapat mba Intan yang di artikel Pandangan hidup dan falsafah jawa, nenek moyang orang Brasil itu dari Jawa ya. Yudi tahunya sih dari kalimatnya mas Lambang, yang ini “Komunikasi lucu antar anak” di paragraf awal. Coba semua huruf u diganti o, ketahuan kan kalau ajaran Gatholoco dianut pula di sana. Perbedaannya barangkali terletak pada tingka keseringan mr.P diolahragain. Bukan begitu mba Intan?

    • Lambang says:

      Mas, kalau diolahragakan apa terus bisa methekol seperti biceps-nya mas Ade Rai itu? Salah-salah malah buntek. Hihi… nggilani…🙂

    • KangBoed says:

      hmm.. mr P entu apa yaa mas.. masih saudaranya mbaaaah Lambang yaaa.. nyang gede segede ade rai entu mas otot kawat urat besi..
      Salam Sayang
      Salam Rindu untuk mu mya brathaaaaaaaaaar

      *barupulangdaritasik*..
      *tadimalamwordpressgaksusahdibukaya*..

  6. Filar Biru says:

    bahkan aku curiga dengan tatapannya namun aku juga geli hahahahah

    salam

  7. Lambang says:

    @Filar biru:
    Pasti lagi temu fans di mall terus dikitikin…🙂

    @Kangboed:
    Berapa hari ini lagi ngurus masa depan yang terabaikan, jadinya jarang OL dan komen nih… Kangen berat sama si akang dan mbak’e…:mrgreen:

  8. Intan says:

    Jadi penasaran, Pak Lambang ini ke brasil dalam rangka apa ya? Wartawan kayaknya bukan. kalau dari reply komennya ke bung Yudi, jangan-jangan Pak Lambang diundang sebagai salah juri festival film parno ya….Atau lagi tugas belajar di sana.

    ==============================
    Lambang:
    Tadinya mau survey situs purbakala di sana. Ternyata pagi-pagi nyasar ke pantai Copacabana yang pemandangannya aduhai. Bukannya dapet fosil sejenis pithecanthropus erectus, lha koq malah cuma dapet yang erectus saja….
    Blahén® tenan iki mbak…🙂

    ==============================

  9. Intan says:

    Selama di Brasil Pak Lambang sempat mergoki orang laki-perempuan begituan di sepanjang kali ndak sih. Soalnya menurut bung Yudi mayoritas orang Brasil itu masih keturunan Pythecantropus erecsiantus asal Jawa yang nyiarkan ajaran Gatholoco. Bagi-bagi cerita dong, kita-kita pengin tahu cerita yang sesungguhnya.

    ==============================
    Lambang:
    Hehehe… mas Yudi itu sudah terkontaminasi boss-nya. Jadi setiap komennya yang rada pronos itu perlu di cross-check dulu. Coba cari “erecsiantus” di Google, kan ngga ada.

    Soal di kali, hihi mosok begituan di pinggir kali, salah-salah bisa kemasukan kepiting.
    Mungkin maksudnya di pinggir pantai ya, kalau yang itu belum pernah liat sih. Kalau di pinggir kali Sunter dan Kali Malang dulu pernah liat.🙂

    ==============================

  10. yang-kung says:

    Salam jumpa mas Lambang.

    manusia diciptakan menurut citra Allah yang adalah kasih.Maka tangannya untuk memberi,hatinya untuk mencintai,mulutnya untuk menghibur,bibirnya untuk menebarkan senyum.
    ya..,meskipun kita berbeda tetapi sama ciptaan Allah.

    salam rahayu

    ==========================
    Lambang:
    Salam jumpa kembali Yang-Kung.

    Sayangnya cinta kasih dan empati itu tidak disosialisasikan sejak dini, sehingga sebagian anak bangsa ini berkembang menjadi manusia yang egois dan pemarah.

    Salam Rahayu.
    ==========================

  11. lovepassword says:

    Salam kenal Mas Lambang. Hi hi hi. Sesama adalah neraka bagi sesama? Whaduh…ini bukan tentang orang Indonesia kan???

    ==========================
    Lambang:
    Salam kenal kembali.

    Itu adalah quote dari hasil pemikiran filsuf Perancis Jean Paul Sartre. Apakah hal itu juga berlaku di Indonesia atau tidak, silahkan di-review. Dalam pandangan saya, “sesama adalah neraka bagi sesama” ternyata sudah terjadi beberapa hari yang lalu dengan kasus pengeboman itu. Dalam keseharian tidak selalu terjadi hal-hal ekstrim seperti itu, dan menurut perkiraan saya proporsi kecenderungan ke arah itu hanya sekitar 20-30% saja.

    Salam Persahabatan.
    ==========================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: