Sudut Pandang

vision_thumbKisah ini tentang seorang fisikawan yang memutuskan untuk menjadi biksu. Seperti yang kita tahu, kehidupan biksu sederhana saja… mereka terbiasa hidup apa adanya… (padahal kalau saja dia mau melanjutkan hidup sebagai fisikawan pastilah dia sudah kaya raya sekarang)

Artikel selengkapnya ada di sini:
Sudut Pandang

48 Responses to Sudut Pandang

  1. Lumiere says:

    subhanallah ^^ dua bata jelek-nya ga keliatan lagi..

    ======================
    Lambang:
    Mungkin masih kelihatan juga ya mbak, tetapi sudah diterima sebagai kenyataan bahwa itu bukanlah hal yang aneh dan mengganggu pikiran. Menata sudut pandang memang lebih penting daripada harus mengubah apa yang sedang kita amati.
    Salam Persahabatan.

    ======================

  2. lovepassword says:

    DARI Noda jelek, konon pelukis ahli bisa meneruskan sehingga jadi lukisan yang keren lho.

  3. genial says:

    emang bener tuu kang.. kita memandang sesuatu gag bisa hanya dari satu sisi.. tuk memahami 1 mslh, di perlukan banyak angle…

    ======================
    Lambang:
    Setujuh mas Genial….😉
    ======================

  4. batjoe says:

    walah kok telat kali ini dikejar ma mas ton dan botol ijo.
    mantep mas jadi nyadar bahwa jangan terjebak dengan diri sediri karena orang lain juga melihat kita baik itu kelebihan maupun kekurangan.
    salam buat temen2 yang ada disini semuanya.
    pinjem istilah kang boed
    i love you fullllllllllll
    haahahhahhhaa

    ======================
    Lambang:
    Botol hejo sama koneng udah rada mabok kena menyan saya… hehehe…😉
    Ai lap yu tu…. Ai mis yu…

    ======================

    • KangBoed says:

      waaaaakaaakaakakak kuraaaaaaaaaang tuh daftar permintaan saya

      • Lambang says:

        Bakarin menyan.
        Suguhin jajan pasar, kopi pahit, ayam ngakak.
        Pit kopat kapit buntute njentit.
        Wuzzz… wuzzzzz… wuzzzzzzzzzzz….
        Jin hejo sama koneng kliyengan kena sembur kopi😆

  5. batjoe says:

    botol ijo keduluan lagi hehehehehee
    udah ndak ampuh tuh jin botol ijo dan botol kuningnya

    ======================
    Lambang:
    Jin-nya lagi atit peyut… hihihi… buka puasa pakai karedok🙄
    ======================

    • m4stono says:

      wuakakakakaka…mosok jin bisa sakit perut…ntar kalo diare nyang keluar apaan yah…blom pernah yah dikentuti ama jin…kalo pingin nyoba…kangboed ayo kentut dunk…wakakakakakak…..ayam sori kangboed jas ngibing…..

      • KangBoed says:

        weeeeekeeekeekekekekek cuma botolnya doang jinnya ayo mas tono silahkan kentut waaaakakakakakakak

  6. batjoe says:

    keenamnya aja ngak apa apa yang penting ndak terlambat hahahahaaa

    ======================
    Lambang:
    Hehehe😆😆
    ======================

    • KangBoed says:

      ======================
      Lambang:
      Hehehe😆😆
      ======================
      Lambang 2:
      Auto responder nih…
      ======================

  7. Zephyr says:

    Seperti halnya saat kita punya jerawat sebiji kecil di salah satu bagian wajah, maka kita akan terpaku pd jerawat kecil tadi, padahal jika di banding dg luas wajah kita, Amatlah jauh beda luasnya.

    • Lambang says:

      Jaman SD dulu pernah dapat peribahasa:
      Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.
      Mirip-mirip gitu kali ya…
      Karena jerawat sebiji, rusak muka semuanya.

      Salam kenal mas Zephyr.

  8. Hmmm…Kang Lambang,

    Aku terkesima dengan tulisan ini Kang, ada pesan dan HIKMAH dibaliknya yang mengajarkan kepada kita bahwa Pandangan MATA PIKIRAN akan selalu bertumpu pada pertimbangan BAIK dan BURUK, SALAH dan BENAR.

    Inilah kondisi jaman ini, dimana segala sesuatu selalu DIUKUR dari penampakan LAHIRIAHNYA saja. Kita akan membungkuk-bungkuk jika berpapasan dengan Kyai yang berjubah dan bersorban paedaha kita sama sekali tak melihat dalamnya. Yang terjadi adalah penilaian yang bersifat KWANTITATIF dan buykan KWALITATIF. Kita sering SILAU akan KULIT LUARNYA hingga tak mampu lagi MELIHAT ISINYA.

    Dapet pelajaran baru saya Kang.

    Nuwun katur Kakangku Lambang

    Rahayu

  9. Lambang says:

    Setuju itu Kang, jaman sekarang ada sebagian orang yang memeperdebatkan ayat atau paham dengan cara yang kurang santun. Mungkin karena tafsir yang ada dianggap kurang lengkap, maka masing-masing membuat tafsir sendiri. Gothak gathuk mathuk. Boleh-boleh saja sih, tapi sepatutnya tidak memaksakan agar orang lain sepaham, apalagi dengan cara yang kasar.

    Kalau mengamati sejarah agama samawi, bisa dilihat bahwa “Jalan Kebenaran” Tuhan juga di-update secara bertahap melalui kitab-kitab-Nya untuk disesuaikan dengan perkembangan peradaban. Mesipun demikian, masih banyak juga yang mengacu pada aturan syari’at jadul seperti potong tangan, hukum cambuk, rajam, jihad terhadap kafir dan sejenisnya. Apakah pelaku aturan itu salah atau benar? Bukan hak manusia untuk menghakimi mereka. Biarkan semua berjalan sesuai dengan pemahamannya masing-masing. Toh Tuhan sangat bijaksana dan sangat mampu untuk menghitung dan menilai semuanya itu, terlepas dari dalil maupun paham apa yang diyakininya.

    Terima kasih juga atas artikel pencerahan yang sering saya baca di blognya Kangmas Kariyan.
    Salam.

  10. Filarbiru says:

    @lambang

    Analogi yg cantik tapi tunggu aku harus tarik napas.

    Sekarang…saya tau… biksu tadi biksu tolol dan goblok berpikiran sempit. Utg cepat nyadar hehe.,

    Lalu kemana biksunya ya?

    ======================
    Lambang:
    Mungkin juga ya…
    Masih ngga jelas, kemana sang bhiksu tadi.

    ======================

  11. ASsalamu’alaikum, nice artikel Mas Lambang. Saya setuju dgn Mas Lambang : “jaman sekarang ada sebagian orang yang memeperdebatkan ayat atau paham dengan cara yang kurang santun. Mungkin karena tafsir yang ada dianggap kurang lengkap, maka masing-masing membuat tafsir sendiri. Gothak gathuk mathuk. Boleh-boleh saja sih, tapi sepatutnya tidak memaksakan agar orang lain sepaham, apalagi dengan cara yang kasar.” (Dewi Yana)

    ======================
    Lambang:
    Terima kasih Jeng Dewi.
    Saya tunggu kunjungannya lagi.
    Salam Persahabatan.

    ======================

  12. Kita memang seringkali terpukau dengan nila setitik. Padahal nila setitik itu belum tentu merusak susu sebelanga.

    ======================
    Lambang:
    Hallo mas Bani Mustajab. Jarang mampir nih…😉
    Kayanya peribahasa jadul itu perlu diubah menjadi “Nila setitik belum tentu merusak susu sebelanga.”

    ======================

  13. gambuh says:

    padahal si NILA khan pacar aku n SUSU khan kesukaan aku ! lam kenal mas lambang

    ======================
    Lambang:
    Hahaha.. kalau itu mah lain lagi…😆
    Salam kenal mas.

    ======================

  14. Apakah untung?
    Apakah rugi?
    Selalu ada darimu yang memikat hati

    bagaimana hari-harimu?
    slalu ada yang baru ditemukan
    tidak slalu mesti dicari-cari

    ======================
    Lambang:
    Kalau kita memandang semuanya dengan santai, pasti akan ditemukan sisi menarik dalam setiap hal…
    ======================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: