History of Religion

Bagaimana perkembangan agama secara geografis selama berabad-abad, dan di mana saja telah terjadi pertumpahan darah? Peta ini memberikan informasi singkat tentang sejarah dunia dari berbagai agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Yudaisme.

Artikel selengkapnya bisa baca di sini:
History of Religion

35 Responses to History of Religion

  1. m4stono says:

    wakakakakakak….pertama tama bilang “atheis kafiiirr, bid’aaah, darahnya halaaaalll, musyrik tujuh turunaaannn…” tentu saja pake boso londo….eee ketika mo dipatahin langsung ngeper….bisa aja orang sono bikin kartun ngledek…..tapi ketika masuk ke indo, banyak yg kebakaran jenggot:mrgreen:

    • Lambang says:

      Ada juga yang gambar kiri muslim bawa golok sambil bilang “infidel”, dan gambar kanannya kristen.

      Berhubung jaman sekarang banyak yang sensi, ya sudah gambarnya tak ganti dengan gambar yang sekarang itu. Bosen ngributin persepsi dan pingin menang-menangan melulu.:mrgreen:

  2. lovepassword says:

    Saya sudah liat kartun di setahun yang lalu di blognya Daeng fattah. Sindiran atheis kepada agama. Hi hi hi sekali-kali mbok ya nyari kartun yang nyindir ateis juga biar seimbang. ha Ha ha…

    • Lambang says:

      Ogitu ya.. Tadi asal ambil aja dari Google image. Ngga ngecek lagi gambar itu udah berapa puluh tahun umurnya. Orang atheis itu umumnya bebal, jadi kalau disindir ngga terasa. Makanya saya jarang nemu kartun yang nyindir orang atheis. Coba gabung deh ke parapemikir(at) yahoogroups.com, disana banyak debat agama dan filsafat, tapi orangnya lumayan pinter-pinter (dan separuh atheis), jadi gayanya rada elegan gitu, ngga seperti yang biasa mas LOP ajakin duet nyanyi.🙂

  3. lovepassword says:

    Yang rada bebal yang biasa saya ajakin duet nyanyi yang mana yang kamu maksud ya Mas lambang ? ( melet mode on)..Jangan2 kamu lagi mau nyambit murid2 TKku itu.🙂 Kalo bisa nyindir yah pasti juga bisa disindir dong. Soalnya untuk bisa nyindir itu juga perlu merasa dulu.🙂

    • Lambang says:

      Wah, salah maksud itu. Yang bebal itu kaum atheis. Yang gayanya elegan (sebagian atheis) yang di YahooGroups itu. Nah yang gayanya kurang elegan (tapi bukan atheis) ya murid-murid TK-nya itu. Mereka kan ngga mau ngakui bahwa agamanya juga lumayan antik bin paradox.

      Yang enak sih gini. Oke agama saya antik dan ada paradoxnya. Harus diakui juga bahwa agama kalian juga antik dan ada paradoxnya. Mari duduk sama-sama dan kita bahas kenapa bisa jadi muncul paradox itu. Lha gitu kan enak.

      Jangan kalau saya benar maka kalian salah. Jangan-jangan dua-duanya salah semua…😀 Kalau bener semua jelas ngga mungkin, wong ajaran dan ritualnya beda. Terus yang bener yang mana? Nah itu yang perlu dibahas. Sampai kiamat kali mbahasnya…😀

      • lovepassword says:

        Tapi memang kalo nggak antik ya nggak agama.🙂 Karena kan kaitannya dengan rasa barang. Bukan semata-mata rasa juga bukan semata-mata logika. Melogikakan agama atau mencari logika dalam agama itu bagus2 saja tetapi tentu memang tidak setiap hal dalam agama bisa dicari logikanya juga. Banyak orang yang menyadari ini kalo yang dilihat adalah agamanya sendiri, tetapi kalo agama lain, yah kalo ada paradox yah berarti agama geblek. Kalo agama sendiri, sudut pandangnya : Ketika tidak paham kita melihatnya sebagai keterbatasan pemahaman kita. Lha kalo agama lain, kita melihatnya memang agama itu geblek bin antik bin asem. Hi hi hi

      • Lambang says:

        Pancen orang-orang itu banyak yang suka asem… hihi…
        Mendingan cari duit di Internet yah daripada debat. Soalnya untuk debat itu ya harus buka-buka literatur juga supaya ngga malu-maluin. *Biar keliatan pinter gitu*:mrgreen:

      • lovepassword says:

        google juga lebih dari cukup Mas🙂

  4. m4stono says:

    hihihi denger kata2 atheis jadi teringat mas S di blog tetangga, walopun atheis tapi beliau berdialog dengan elegan dan intelek…..sebenarnya saya gatel juga pingin nimbrung tapi yg jadi masalah kok ya yg dibahas itu2 saja masalah ketuhanan dan perlu tidaknya agama, keknya tidak ada topik lainnya…jadinya ya agak males juga…….saya pribadi cenderung tidak mempermasalahkan mo agamanya apa kek yg penting bahagia menjalaninya no problemo walopun pake celana ngatung jenggotnya kangsrah sampe tanah *lebay bin sotoy mode* dan pake kerudung menutupi semua kulit sampe matanya pun ditutupi pokoke koyo guling atau yg telanjang dan nyembah patung tapi bahagia ya ndak apa2 to….justru yg mempermasalahkannya itu yg bermasalah, sedangkan yg menjalani hepi2 aja:mrgreen:

    kalo ditempatnya mas jip itu no komeng aja…biarlah menjadi urusannya mas LOP…hihihihihi

    • Lambang says:

      Sepertinya sih mas S itu bukan atheis, tetep percaya Tuhan tapi tanpa menggunakan agama tertentu. Sebutannya agnostik kalau ngga salah.

      Mas Batjoe pun sekarang sudah mulai kecanduan duet nyanyi ngga jelas. *Hai mas Batjoe, lagi digosipin nih*

      Gimana meditasi manusia bisa berhasil kalau pikirannya selalu terisi enerji negatif. Teratai yang ada di cakra mahkota itu baru bisa berkembang kalau terdorong oleh enerji positif dari dalam. Konon katanya begitu.🙂

    • tomy says:

      “Katakan kepada saya,” kata seorang ateis, “apakah Allah itu sungguh-sungguh ada?”

      Jawab Sang Guru, “Jika kamu menginginkan saya sungguh-sungguh jujur, saya tidak akan menjawab.”

      Para murid penasaran mengapa ia tidak menjawab.

      “Karena pertanyaannya tidak dapat dijawab,” kata Sang Guru.

      “Jadi, Guru juga ateis?”

      “Tentu saja tidak. Orang ateis membuat kesalahan karena menyangkal kenyataan yang tidak mungkin dijelaskan.”

      Setelah diam sejenak, ia menambahkan, “Dan orang teis membuat kesalahan karena mencoba menjelaskannya.”

      ======================
      :: Wah bagus ini, bisa jadi QOTD…🙂
      ======================

      • m4stono says:

        hihihi…yg punya blog dateng..malu aaahh😳 kalo menurut saya sih “untukku persepsiku, untukmu persepsimu” tidak ada yg benar atau salah semua hanya persepsi dan imajinasi….yg penting saling menghargai dan menghormati satu sama lain/mulat sarira……

        btw kang lambang ada artikel baru dumatheng mriki ini nerusin artikel situ yg kepotong katanya mo dilanjutin kapan2 itu lho…. :mrgreen:

        ======================
        :: Oke Kang… cekidot…🙂
        ======================

  5. wew.. mantaaap.. aku suka videonya euy, baru pertama kalinya liat.. ^^ mantep nih..

  6. sikapsamin says:

    “Ingin melihat 5.000 tahun perjalanan agama dalam 90 detik?”…
    _____________________

    Ingin…tapi nggak bisa plei pidionya. Jadi…ngomentnya gimana ya?!?

    Atau bikin asumsi aja…’ternyata agama yang “melahirkan/menciptakan Tuhan” baru berumur 5.000 tahun ya?!?’
    mbuh iki…termasuk 7-turunan bid’ah, kafir, sesat…atau gimana?!?

    • Lambang says:

      Wah kalau gitu saya hanya bisa komen “kecian deh…”

      Menurut video itu, umur agama ya baru 5000 tahun. Sejak kelahiran Krishna yang melahirkan agama Hindu itu. Saya masih bingung juga, Krishna itu ternyata orang tho… tak pikir hanya legenda.

      Istilah Tuhan itu baru muncul sejak agama samawi turun. Di Hindu dan Buddha mereka percaya bahwa ada sang pencipta (ngga tahu namanya apa), tetapi itu tidak pernah dibahas mendetail karena sudah diluar jangkauan pemikiran. Baru setelah agama samawi turun, Tuhan dibahas secara lebih mendetail dan muncul istilah wajib disembah, pahala, dosa, surga dan neraka. Oiya termasuk malaikat dan setan. Bidadari baru muncul belakangan di Islam.

      • lovepassword says:

        Bidadari di pewayangan kan juga sudah ada. Lha yang di wayang itu apa nggak dari pengaruh Hindu , Mas Lambang ?

      • lovepassword says:

        Kalo ateis sudut pandangnya lebih antik lagi . Ketika manusia belum maju, maka paham mereka animisme dinamisme, ketika semakin maju mulai masuk politeisme menyembah banyak dewa, semakin maju lagi, menyembah satu, monoteisme . Ntar kalo semakin maju lagi …tidak ada lagi teisme yang ada ateisme.😦

      • Lambang says:

        Sepertinya bidadari itu baru muncul di Joko Tarub deh. Ngga jelas Joko Tarub itu masuk pewayangan atau legenda setelah Islam masuk ke Indonesia.
        Saya ngga gitu pasti, rasanya di pewayangan hanya ada dewa dan dewi. Dewi Sri, Dewi Anggini dll. Coba kita tanya KangTono yang buto itu. Pasti beliau tahu banyak soal pewayangan. Kalau ngga tahu berarti buto palsu… ngga pakai sticker ORI.:mrgreen:

      • S™J says:

        joko tarub itu alias ki ageng tarub. makamnya ada plithengnya.😎

        ======================
        :: Wueh, ada plinthengnya? Buat apa?🙄
        ======================

  7. sikapsamin says:

    Lha…ini diskusi tambah asssyyyiiikkkk…
    Cocok dg uraiannya mas Love…dari atheisme, animisme, polytheisme, monotheisme…
    Dan semakin maju lagi nggak ada theisme kembali lagi atheisme…

    Menurut simbah ya kembali ke “nung-nong-nang-ning-nengngngng”… TAN KENA KINAYA APA…

    Jadi klop dg kesepakatan yang kita anut yaitu 360-derajat = 0-derajat, atau jam 24.00 = jam 00.00…

    Lebih seru lagi kalau membahas ‘penyembahan-berhala’… Dlm hal ini suka muncul ilmu-sableng saya…yaitu “huruf2, kata, kalimat dlm berbagai bahasa”, ini juga termasuk bentuk/jenis berhala juga…apalagi kalau kalimat itu diberhalakan menjadi “ayat2 suci, kiding, mantra dsb…
    Sableng saya ini dipicu oleh fakta2 adanya pergelisahan/pergerakan saudara2 saya para-hewan…yang justru mendahului atau terjadi sebelum/menjelang adanya gempa atau tsunami… Lha mereka baca huruf/kalimat apa ya?!?

    Rasanya saya kok mulai berasep…ah istirahat dulu ah. Biar dingin dulu…

  8. sikapsamin says:

    Eh..kata ‘kiding’ harusnya kidung(tembang)

  9. Lambang says:

    Sebetulnya begini Kangmas Adipati Tumenggung Sosrobahu,
    Manusia dan hewan dilahirkan sama-sama memiliki indera yang tajam. Ada sebagian hewan yang ketajaman indranya jauh melebihi manusia seperti misalnya burung hantu, gurita dll. Pada waktu lahir, sama-sama ngga ngerti apa-apa. Hewan hanya belajar dari indera dan pengalaman sehingga tahu jika ada pertanda begini, maka akan ada kejadian begitu.

    Bedanya dengan manusia, sedikit sekali manusia yang mau belajar dan memperhatikan pertanda. Padahal alam selalu memberikan pertanda dari setiap kejadian apapun. Sebelum gempa, tsunami, hujan, banjir, tawuran, huru-hara, kebakaran dan lain-lain. Badan manusia ini juga memberi pertanda sebelum kejadian sakit, sehat, miskin, kaya, mati dll.
    Oleh karena itu maka muncullah yang disebut ilmu titen. Niteni setiap pertanda dan kejadian. Sayangnya ini tidak dilestarikan oleh poro sesepuh, sehingga sekarang ini tidak banyak yang mampu mengamalkannya.

  10. batjoe says:

    keren oi..

    aku aja yang athies masih bisa bilang makasih untuk 90 detik yang bermanfaatnya..

    ya gitu dech kalau mau berdebat harus lengakpi dengan buku-buku (sok) pinternya biar bisa dibilang (sok) pinter…

    hehehehehe

  11. sikapsamin says:

    Injiiiiihhh…matur nuwun penganugerahan gelar yang PASSS…

    Adipati Tumenggung Sosrobahu = ATS = atheis…

    Hihihi…passs, matur-nuwun…matur-nuwun… Menjadi akselerasi persablengan saya…

  12. sikapsamin says:

    Eh…iya, ini mas Kumbokarno kok nggak nongol2..?
    Apa…mengalami BAB tidak lancar..?!?

  13. m4stono says:

    🙄 ada yg ngrasani nih….sori baru OL biasalah listrik mati:mrgreen: alesan dot com …

    kalo menurut saya bidadari itu ya memang istilah buda/pra islam dijawa sudah ada…kan asal katanya widodari kepleset jadi bidadari yg bertempat di swarga atau swargaloka yg kepleset jadi syurga:mrgreen: antara swarga dan nirwana di hindu itu beda CMIIW nirwana itu spt kangmas tumenggung bilang neng ning nung nang, awang uwung tidak ada apa2, sedangkan swarga itu di konsep hindu ya isinya kenikmatan spt bidadari dsb dan pencapaian tertinggi di hindu ya mahapari nirwana/nirwana thok CMIIW…..

    sedangkan di islam itu konsep surga dijelaskan secara agak detil dgn kamsud org2 arab dulu dan orang2 sekarang utk lebih giat berdarma kebaikan dgn tujuan kalo taraf keimanannya sudah meningkat maka tidak perlu konsep surga lagi utk berbuat kebaikan, masuk surga syukur, tidak juga ndak apa2 alias beribadah dgn lila legawa…..

    karena dulu pada waktu jaman walisongo yg kosmologi syiwa buda/agama jaman majapahit itu pencapaian tertinggi adalah nirwana/tidak ada apa2 begitu islam datang dgn membawa konsep surganya yg “bidadari yg dadanya busung” maka goncanglah kosmologi orang2 majapahit dan melahirkan yg namanya “serat darmogandul” sebagai simbol kegoncangan tsb walopun serat darmogandul dikarang/digubah oleh R.Ng Ronggowarsito tapi mungkin menurut saya itu merupakan gambaran pada jaman demak dulu sebagai penyeimbang dari kisah babad demak yg lebih cenderung ke islam….jadi intinya bukan benar atau salah tapi pahamilah dari dua sisi kosmologi yg berbeda……

    btw gambarnya kok diganti…. ada yg protes ya…hihihihi:mrgreen:

    • Lambang says:

      Nah ini baru buto asli (pakai sticker ORI)… bisa memberikan pencerahan panjang lebar.

      Mas LOP, itu dia jawabannya, berarti saya salah ya bilang bahwa bidadari itu baru muncul di Islam. Ternyata sudah ada Buddha/Hindu. Aemsori.🙂

      Soal gambar itu, berhubung saya lagi sering main ke rumah Oom Jiep, ya terpaksa diganti biar ngga menjadi bahan untuk mencuci saya.:mrgreen:

      • m4stono says:

        padahal saya cuman ngawur lho…copas sana copas sini…ngalamun ngalor ngidul…eh malah mendapat stiker ORI dianggap pencerahan….hihihi…ntar stikernya saya pasang di motor tulisannya “buto masuk angin”:mrgreen: ….

        o iya tambahan di pilem sun go kong kera sakti juga ada bidadarinya lho…berarti kan ndak cuman ada di islam thok to…..

        ======================
        :: Iya bener Kang. Jangan-jangan pendekar berwajah kera itu asalnya dari Yahudi yang dikutuk.🙂
        *Jadi inget debat agama soal kutukan menjadi babi dan kera*

        ======================

    • tomy says:

      “bila ada sekumpulan manusia melakukan suatu kegiatan, sebut saja manusia beraktifitas. bila manusia belum mampu memahami versi dirinya maka ia berusaha menamai dengan merk/brand tertentu, antara lain tuhan. bila merk tsb dipromosikan maka nama menjadi agama atau komunitas ber-merk. merk tsb menggantikan identitas penganutnya, penganutnya berlaku sebagai merk tsb. bukan hanya tuhan yg dipakai sebagai merk tapi tuhan yg merk pun dijual melalui merk agama.
      ‘aku’ lah hidup adalah merk utama (‘aku’) sedang hidup adalah sumber potensi merk. semua merk yg dikenal adalah turunan dari merk ‘aku’. god delusion is ilusion of mankind. memahami kehidupan tidak dipersyaratkan memerlukan ‘aku’. dalam ketenangan (stillness) bahkan kata hidup dan kehidupan tidak dikenal.”

      ini kata teman saya priyayi Surakarta Hadiningrat 😀

      ======================
      :: Ulasan yang menarik mas.
      Coba kita tanya kepada Kanjeng Adipati Tumenggung Sosrobahu (yang di atas itu) bagaimana pendapatnya…🙂

      ======================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: