IQ dan Agama

bear.jpg Pada tahun 2002, Lembaga survey Pew Global Attitude Project telah mengadakan survey yang meneliti hubungan antara kemakmuran negara dengan sikap keberagamaan mereka.

Selain itu, ada satu survey lagi yang mencoba membuat korelasi antara IQ dan Religion. Grafik tersebut dihasilkan dari penggabungan data sikap keberagamaan dari sekitar 40 negara, dengan data IQ global yang diambil dari buku IQ and The Wealth of Nations oleh Richard Lynn dan Tatu Vanhanen.

Artikel selengkapnya bisa baca di sini:
IQ dan Agama

40 Responses to IQ dan Agama

  1. lovepassword says:

    Rumit sungguh aduhai rumit…Biasanya ateis under klepon tercinta ngomong gini : Semakin jenius manusia maka dia semakin percaya agama.

    ======================
    :: Ternyata kebalikannya ya mas. Mungkin para orang pinter itu mulai menyadari bahwa ternyata Tuhan selama ini memang hanya berdiam diri saja sambil senyum-senyum.🙂
    ======================

  2. lovepassword says:

    Sayangnya data itu masih berupa mentahan mas Lambang, coba kamu urutkan dulu berdasarkan IQnya atau pendapatannya kan mbacanya jadi lebih gampang ketimbang diurutkan menurut abjad

    ======================
    :: Ide yang bagus mas. Entar kalau lagi ngga males tak update lagi.🙂
    ======================

  3. lovepassword says:

    Dari grafiknya keknya berbanding terbalik yah ???😦
    malang juga . Yang perlu kita pertanyakan itu Mengapa kok bisa gitu ? Apa memang nggak ada hubungannya disambungin dipaksain atau emang ada kontribusi penerapan agama yang rada antik sehingga malah menghambat kemajuan ?

    ======================
    :: Sepertinya hukum alam saja yang bermain. Orang ber IQ tinggi mungkin otaknya sudah penuh dengan berbagai info sains sehingga agama yang penuh dengan metafora dan persepsi hanya kebagian tempat sedikit. Kebalikannya berlaku bagi orang yang ber IQ di bawah.
    ======================

  4. m4stono says:

    wah mantep mas….top merkotop…..

    inilah yg disebut paradoks didalam keberagamaan, yg dimau didalam beragama ya sukses, kalau bisa lahir batin atau dunia akhirat, tapi ya apakah agama itu menjadi faktor penting atau penentu didalam kehidupan kita?

    memang kebanyakan umat beragama itu memandang agama sebagai belenggu yg mau tidak mau harus dipakai kalau tidak ntar dicap PKI:mrgreen: atau dengan kata lain sebagian besar para penganut agama itu memandang agama hanya sebagai beban tapi sangat sedikit yg mengakuinya, buat apa sih sholat 5 waktu ngabis abisin waktu aja, mbok dipakai buat trading forex malah bisa untung besar to? belum lagi harus cuci tangan, kaki, membasuh muka dll yg merepotkan….sedangkan bagi umat kristen buat apa sih setiap minggu ke ke gereja? mendingan liburan aja ke pantai atau ke puncak:mrgreen: toh semuanya juga sama gak ada efeknya, apa ya kalau sholatnya sudah mempeng terus otomatis bahagia? keknya ndak tuh:mrgreen:

    nah contoh diatas itu adalah waktu kita ndak ada masalah apa2 alias dalam kondisi yg baik2 saja……………………………..tapiiiiii ketika musibah itu datang maka berbondong bondong spiritualitas kita menjadi terpacu, contohnya waktu gempa di jogja kemarin2 yg pertama kali dibangun oleh masy yg terkena gempa adalah MASJID disamping juga tenda2 pengungsian, contoh kecil adalah ketika harta kita amblas atau ludes terbakar maka bisa dipastikan yg dulunya ndak sholat bisa berbalik 180 drajat menjadi rajin sholat :mrgreen:

    memang ironis dikala kita sedang bahagia/baik2 saja maka agama atau tuhan dilupakan begitu saja, tapi ketika tertimpa musibah maka ceritanya bisa lain lagi :mrgreen:

    jadi kesimpulannya adalah ketika beragama janganlah agama itu dijadikan sebagai belenggu, ibaratnya belenggu itu menghambat gerak kita walaupun kita tidak mengakuinya, dalam hal ini gerak sebagai analogi dari pola pikir atau kecerdasan, jadi wajar saja orang atheis itu cerdas2 wong mereka bebas kok jadi kalo mau cerdas ya jadi atheis dulu, urusan surga/neraka mah belakangan :mrgreen: hihihi……

    • Lambang says:

      Sepertinya Tuhan itu hanya dianggap pelengkap penderita saja koq. Kalau lagi seneng, dilupakan. Kalau lagi susah, dipuja-puja sambil merengek dan nangis-nangis agar musibahnya segera hilang. Padahal Tuhan dari dulu ya hanya diam saja (mungkin saja beliau sambil senyum-senyum melihat kelakuan manusia).

      Banyak yang menjadikan Tuhan sebagai tempat curhat. Semua masalah disampaikan ke Tuhan dan minta solusi paling cepat dan paling mudah. Habis curhat biasanya terus jadi lega dan tenang kembali. Kalau dipikir-pikir bukan Tuhan yang membuat kita menjadi tenang, tetapi niat curhat yang sudah terlampiaskan itulah yang membuat jadi tenang.

      Ada lagi yang menjadikan Tuhan sebagai penyebab musibah. Tsunami dan gempa dibilang karena Tuhan marah. Kalau ditanya lebih jauh lagi kenapa marah dan hanya di lokasi tertentu marahnya, jawabannya mulai ngaco. Ada yang bilang bahwa manusia di wilayah itu pada ngga bener. Untung leluhurnya dan mbahnya ngga ada yang tinggal di wilayah itu. Kalau ada kan dia bisa disumpahin jadi kodok buduk.

      Ada yang lucu lagi yaitu yang menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam. Kalau ada yang kena musibah, terus ditenangkan dengan kalimat, “Ya sudah yang sabar dan tawakal ya dek, semua itu memang sudah digariskan oleh Tuhan”. Kalimat ini mengandung dua makna, yaitu “melecehkan Tuhan karena dianggap sebagai penyebab musibah” dan “sok tahu dengan apa maunya Tuhan”.

      Yowislah, biar bagaimanapun Tuhan memang dzat yang penuh misteri.🙂

  5. Ada benernya Brat!

    Aku pernah tanya seorang ex-Jerman Timur,
    Apa kah kau komunis?
    “E ..e .. e, yes!”

    Aku pernah tanya seorang Hamburg.
    Apa kau sering ke Gereja?
    “Nno! Menjadi jemaat itu mahal!”

    Aku pernah tanya seorang Italy,
    “Apa kau pernah ke Vatikan?
    “Ngapain? Apa maksudmu mau lihat bencong?”

    Kita pernah dan sering liat filem Amerika,
    Kejahatan atau kemesuman apa pun yg dilakukan bandit itu masih sering spontan berseru “O my God!”

    Kata Kang Tono,
    Kita emang beragama,
    Tapi sering lupa Tuhan.

    Salam Beragam a!

    • Lambang says:

      Saya kalau lihat film-film barat itu, ngga pernah ada orang tua menegor anak yang bandel dengan kalimat, “jangan gitu, ngga baik, itu dosa, Tuhan ngga suka”. Tegoran yang paling umum dari mereka adalah, “jangan gitu, itu tidak sopan dan merugikan orang lain”. Nah, kita kan bisa amati sendiri di Indonesia ini tegorannya seperti apa. Tuhan sudah dibawa-bawa sejak dini dan kadang dijadikan kambing-hitam.

      Seperti di Jepang, kalau ditanya agamanya apa, mereka dengan malu-malu menjawab, “I am free thinker” atau “I am Sinto follower”. Ada cerita orang Indo yang ketinggalan HP di telepon umum. Satu jam kemudian dia ingat HP-nya ketinggalan dan dia balik lagi ke telepon umum itu di mana masih banyak orang antri nelpon. Ternyata HP-nya masih ada dan tidak diambil orang lain. Apakah agama yang membuat mereka bisa seperti itu? Keknya perlu survey lebih jauh lagi.
      Oiya, kenapa para anggota dewan itu ngga diajak survey ke Jepang untuk melihat perilaku publik di sana?

      Kalau yang pilem barat itu, keknya kata “O my God!” itu sudah menjadi slang sehari-hari untuk menyatakan kekaguman dan surprise. Artinya udah ngga dilihat lagi. Sama seperti di Indonesia kalau kesandung terus baca “Astaghfirullah”. Kalau diartikan kan jadi kacau, mosok Tuhan yang bikin orang kesandung-sandung.🙂

      • m4stono says:

        betul sekali kangmas, tuhan hanya sebagai obyek pelengkap penyerta penderita bagi manusia atau lebih tepatnya sebagai “keranjang sampah” keluhan2 manusia:mrgreen:

        maka dari itu tuhan “menciptakan” berbagai macam syariat dgn label agama supaya manusia bisa memilih manakah yg terbaik bukan malah saling merasa benar sendiri…bebas kok memilih syariat apa aja…kan ada haditsnya yg mengatakan bahwa kelak manusia dipadang mahsyar akan mengikuti sesembahannya, ini adalah sebuah sindiran bagi yg menyembah tuhan anggapan dan fanatik dgn tuhan anggapannya itu sendiri:mrgreen:

        maka dari itu saya penasaran ntar islam yg kaffah dijaman mahdi itu seperti apa….jangan2 jauuuuh dari anggapan kita semua dan kebanyakan umat islam sekarang……………..dan apakah kita siap dengan sesuatu yg kita anggap sebagai kebenaran tapi nyatanya hanya bo’ong belaka dgn ditemukannya manuskrip2 baru yg hilang/dihilangkan penguasa setempat dgn dalih “stabilitas” politik:mrgreen:

        liat aja para pengikut syi’ah yg sebagai cerminan kebalik dari pengikut sunni……kalau baca sejarahnya versi syi’ah, maka kita akan tahu ternyata umar, usman dan abubakar itu begitu:mrgreen: tapi soal kebenarannya ya wallahu a’lam:mrgreen: hikmahnya ya ndak usah fanatik2 amat sampe segitunya hingga mencela paham lain dgn kebon binatang, burung beserta bulu2nya:mrgreen:

  6. sikapsamin says:

    Data tersebut akan lebih ‘ruwet’ lagi kalau lengkapi dengan EQ, ESQ dan Liberalisme.
    Hasilnya mungkin lebih memperjelas apa itu ‘agama’, ‘religiusitas’ dan juga ‘Tuhan’…
    Semua itu ‘kan kata/ungkapan2 yang kita ciptakan sendiri..

    • Lambang says:

      Biar makin ruwet, kita tambahin lagi dengan parameter kepadatan penduduk, sejarah nenek moyang, dan dengan cara apa agama itu disebarkan.🙂

    • Kenapa diruwetin Kang!
      Agama itu sudah ruwet,
      Koq diruwetin lagi.

      Utk memperjelas biasanya kudu melihat dari yg paling sederhana. Ah! Malu aku, mulai dari kepercayaan pd tubuh, jiwa, roh, misalnya. Kemudian pd hal natural, emosional, supernatural, terus yg rasional dan irasional s/d roh, hantu Tuhan, dll yg mengarah ke yg dihipotesakan. Tentu data questioner itu akan menghasilkan korelasi-korelasi. Entah lah

      Eh!
      Utk apa tadi ini.

      Tapi aku udah rada percaya kok pd data penelitian itu. Walau diapdet sekarang kurasa nggak akan beda. Yg menarik adalah mengapa Amerika beda dari negara maju lainnya?
      Anggap data itu sahih dan trengginas.

      Salam Damai!

      • Lambang says:

        Nah itu dia. Saya juga heran kenapa data Amerika mencelat sendiri ke atas. Banyak yang ber IQ tinggi dan banyak juga yang percaya agama.

        Jangan-jangan seperti analogi ini.

        Ada 100 jeruk di-survey.
        30 hijau dan 70 kuning.
        40 asem dan 60 manis.

        Apakah yang kuning itu 60 manis semua?
        Belum tentu. Bisa juga 30 hijau manis dan 30 kuning manis.

      • Ah! Jangan dulu dimentahkan lagi resultnya. Mas ask kurasa udah bener tuh. Kita coba cari mengapa bisa demikian.

        Salam Damai!

  7. Bravo Brat!
    Data ini penting sekali.
    Dan aku punya saksi mata utk selidik.

    Salam Sukses!

  8. tomy says:

    Amerika dengan doktrin kapitalisnya berkata : cangkul ditangan kanan alkitab ditangan kiri…mungkin salah istilah cangkulnya…kelingan maratua ning ndesa… tapi pokoknya bekerja demi Tuhan

  9. la kalau dari majalah newsweek yg aku punya, malahan hanya Amerika; yg mayoritas beragama sekaligus kaya, yg laen seperti Indonesia, Haiti dll, saleh tambah remek..yang kaya malah yg ateis macam Swedia, Jepang, dll
    Menariknya teologi Amerika adalah teologi sederhana yg tidak kenal filsafat rumit macam Jerman, jadi malah fundamentalis yg akhirnya menjadi berteologi kemakmuran, coba cek di wikipedia, ttg teologi kemakmuran yg tabrakan dengan teologi pembebasan macam Brasil….
    Justru bagi Amerika , kemakmuran adalah tanda Tuhan di pihak mereka, naif bukan????
    Lambang, Bung Alex dah kasih komen….!

  10. itempoeti says:

    Agama adalah keyakinan spiritual (tauhid) yg dilembagakan.
    Problem utama muncul justru ketika spiritualitas dilembagakan dalam kotak2 penjara agama yg melahirkan silang sengketa di wilayah syariat yang dangkal dan puritan.

    Intelektualitas seharusnya tidak ditempatkan secara paradoks diametral dengan keyakinan spiritual (tauhid). Intelektualitas adalah alat yg digunakan agar spiritualitas bisa membumi dalam satu kesatuan niat, ucap dan lampah manusia-manusia yang bertauhid.

    • Lambang says:

      Komennya ketangkep satpam.
      Kesulitannya memang pada bagaimana membuat agar agama yang dogmatis bisa tampak menjadi logis dan applicable untuk semua umat manusia.

  11. Setuju Mas ask!

    Teologi kemakmuran yg nggak rumit berfilsafat.
    Pertanyaan lanjutan, dari mana mereka dapat?
    Dan, apakah teologi itu bisa di import, hh!
    Pls dong ask!

    Salam Damai!

  12. Lambang says:

    Mas Tommy,
    Keknya bekerja demi Tuhan itu bener. Karena dengan bekerja dan menjadi kaya, kita bisa memberikan support bagi perputaran roda perekonomian yang akhirnya akan memajukan bangsa.

    Mas Ask,
    Coba entar tak cari apa itu teologi kemakmuran. Baru dengar nih.
    Mas Alex-nya ngumpet lagi, komennya saya cari koq ngga ketemu.

    Brat MK,
    Keknya ngga mungkin bisa di-import. Lha mayoritas agama di sana kan beda dengan mayoritas di sini. Kalau itu di-import, bisa perang saudara kali.

  13. Berat sama dijinjing,
    Ringan sama dipikul.

    Altenatif jawabannya menurutku
    adalah kombinasi inti artikel:
    “(2/3) Ke Kemaren/bungkus-2” dgn
    “(3/3) Berpikir lintas mata-telinga”, pd kesimpulannya
    Kali.

    Salam Damai!

  14. sikapsamin says:

    Sebenarnya yang dimaksud “agama” dalam diskusi kita ini sebenarnya yang “merk” apa saja to?
    Apakah “agama” yang menyebar berbarengan dengan perluasan kolonialisasi pada era “renaisance” abad pertengahan dulu?
    hihihi…ini pertanyaan super bid’ah, super murtad dan super sesat…

    Salam…AGAMA RENAISANCE

    • tomy says:

      Ketika kita mengambil merk yang sudah jadi bagi hidup kita kita seringkali menjadi merk itu sendiri. Harusnya kita mematenkan diri kita menjadi diri sendiri :mrgreen:
      SALAM HAK PATEN

  15. tomy says:

    Soal mengimpor logikanya sebenarnya bisa saja,
    Bagi kaum teolog kemakmuran…asal comot istilah aja.. mereka mengambil ayat-ayat yang bersifat provokatif terhadap keberadaan manusia sebagai makhluk unggul ciptaan Tuhan.
    Seperti Ibrahim & Luth yang dibawa ke atas sebuah bukit dimana sejauh mata mereka memandang diberikan oleh Tuhan untuk mereka kuasai
    You have the potential to rule & dominate the whole earth, begitu sabda Tuhan di Genesis sebagai pegangan kapitalis semntara mereka mendoktrinkan Berbahagialah yang miskin karena mereka empunya kerajaan Allah bagi buruh-buruhnya.

    Sementara bila kita mau melihat keseluruhan Alkitab, sebenarnya berbicara tentang keadilan social dimana setiap masa terjadi ketidakadilan seorang nabi dibangkitkan Tuhan bagi manusia, ini yang dipegang oleh para teolog pembebasan

    Jadi memang benar apa yang disabdakan nabi Yahudi modern Eyang Karl Marx bahwa agama telah dipelintir oleh manusia demi kepentingan mereka sehingga bagi manusia agama telah berubah menjadi candu

  16. tomy says:

    Yang perlu dicontoh oleh orang Indonesia adalah semboyan AD MAIOREM DEI GLORIAM demi kemuliaan Tuhan yang semakin besar dalam setiap segi kehidupan bangsa & Negara.
    Tuhan berjalan di Nusantara maka gugusan pulau-pulau ini tidak tenggelam ditelan laut, begitu kata seorang pendeta

    • ahmed shahi kusuma says:

      La wong Tuhan aja gak bisa selamatakan Haiti koq, meski udah pada menyembahNya?????

    • Lambang says:

      Mas Ahmed ini tampaknya pengikut paham Panentheism. Sama dengan saya. Tuhan yang kita berdua kenal adalah Tuhan yang Maha Diam. Mau disumpahin ya diam, mau dipuja-puja juga tetep diam. Semua kejadian alam ini hanyalah hasil proses dari The Grand Design pada saat alam semesta dibentuk. Setelah itu semua bergulir sesuai hukum alam, hukum illahiyah. Yang bisa mengubah hukum itu adalah pancaran enerji positif kita yang muncul dari kontemplasi, meditasi, wiridan, doa dan sejenisnya. Doa itu hanya sarana. Bisa bahasa arab, bahasa jawa, bahasa cina, atau bahasa tibet. Hasilnya sama. Yang utama adalah pancaran enerji yang bersinergi dengan enerji alam dan bisa mengubah apapun yang kita mau, asalkan enerjinya cukup besar dan masih sesuai dengan hukum alam.

  17. m4stono says:

    kayaknya dulu pernah ada fatwa dari seorang tokoh/ulama yg mengatakan “lebih baik bodoh tapi muslim ketimbang pintar tapi atheis” …..kalo saya pribadi mending memilih pintar dan atheis :mrgreen: ….ndak ada jaminan yg bodoh itu benar2 menyembah tuhannya, yg ada malah menyembah tuhan anggapannnya sendiri……ntar lama2 orang akan mulai jenuh dgn fatwa2 ulama yg justru menjadi penambah masalah ketimbang menyelesiakan masalah dan akhirnya rakyat menjadi bodoh dan atheis ditambah ngeyel sisan :mrgreen: waduh ciloko mencit tenan ki :mrgreen:

  18. ahmed shahi kusuma says:

    @Mastono
    itu saya sangat setuju , tapi penjelasannya begini!
    Saya ambil dari bukunya Romo Steinbrenk ,belanda, judulnya pemikiran modern dalam pemikiran Kristen….katanya “Orang tidak akan menjadi ateis karena membaca Das kapital, atau karya2 Sartre, tetapi bisa menjadi ateis karena fatwa Gerja Katolik ttg haramnya KB”…
    menarik juga bahwa agama menjadi sulit karena hidup tidak semudah seperti kata kitab suci, sementara ditambah lagi agamawan yg menganggap sabdanya sebagai sabda Ilahi itu sendiri, akibatnya katarak, susah membedakan syahwat tuhan dan syahwat pribadi.

    • Lambang says:

      Catet ah, ada istilah baru itu, “katarak, susah membedakan syahwat tuhan dan syahwat pribadi”, hehe…

      Ada beberapa orang yang begitu logikanya terbuka lebar, dia kemudian menjadi atheis karena dia pikir semua itu bisa terjadi dengan sendirinya. Padahal kalau dia mau naik lagi, logikanya semakin diperluas lagi, maka dia akan ketemu pemahaman bahwa di alam ini banyak ditemukan hasil desain yang sangat luar biasa, yang tidak mungkin bisa muncul dengan sendirinya dari nothing menjadi something. Pasti ada evolusi (atau perubahan wujud, atau “ciptaan”) dari suatu zat yang memang aslinya sudah maha dahsyat, maha kompleks dan maha sempurna.

      • ahmed shahi kusuma says:

        wkwkwkwkwk……
        Nah ketidaktahuan kita akan hidup di luar materi menjadikan kita spiritualis, itu kan maksude sampeyan

        ======================
        :: Sepertinya begitu…🙂
        ======================

  19. @all
    Selamat moning gud pagi!
    Sori, lama tak melawat.

    Maren Kitatau Says:
    26 January 2010 at 01:32 | Reply
    Altenatif jawabannya menurutku
    adalah kombinasi inti artikel:
    “(2/3) Ke Kemaren/bungkus-2″ dgn
    “(3/3) Berpikir lintas mata-telinga”

    Udah ku reka-reka utk merespon hh demikian:
    http://tertiga.wordpress.com/2009/10/18/berpikir-akal-akalan/#comment-1882

    Salam Persahabatan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: