Pemimpin, Pasrah dan Nerimo

14 September 2010

Sejak kecil dulu, simbah selalu berpesan agar dalam mengarungi kehidupan ini kita selalu pasrah dan nerimo. Pasrah artinya menyerahkan semuanya pada kehendak Tuhan, Allah atau Gusti Allah. Nerimo maksudnya tidak boleh mengeluh atas apapun yang terjadi pada diri kita, baik tentang masalah pekerjaan, perlakuan orang lain, interaksi dengan keluarga dan lingkungan, kesehatan dan lain-lain. Semuanya cukup dilakoni dengan sabar dan selalu mengedepankan sikap yang bijaksana, simpati dan empati.

Artikel selengkapnya bisa baca di sini:
Pemimpin, Pasrah dan Nerimo


Satu Malaikat Yang Menangis Dan Doa Seribu Iblis

01 October 2009

Pada fajar yang bening, Karmadi sudah berkecipak dengan pancuran di sebuah sendang dekat suraunya. Seperti biasa, menjelang subuh Karmadi terlebih dahulu mandi dan bersuci. Hampir sudah menjadi kebiasaan, setiap berwudhu, Karmadi akan selalu mengulanginya sampai dua – tiga kali. Masalahnya, setiap kali Karmadi membasuh mukanya, nyaris selalu disusul dengan semburan kentutnya. Sepertinya dia tidak pernah mau menahan kebiasaan itu. Sehingga yang terjadi adalah batal, wudhu lagi, batal dan wudhu lagi.

 

Artikel selengkapnya ada di sini:
Satu Malaikat Yang Menangis Dan Doa Seribu Iblis


Menciptakan Dunia Pribadi

29 September 2009

Sudah beberapa hari belakangan ini Ngatemi setiap habis maghrib selalu merenung di sudut teras. Sengaja saya tidak pernah menanyakan apa masalah yang sedang mengganggu pikirannya. Ada rasa ngga enak untuk menegornya karena barangkali dia ingin menikmati kesendiriannya merenung entah tentang masa depannya atau tentang perjalanan hidupnya yang lalu.

Tapi saya agak terkejut ketika dia beranjak ke arah saya dan mengatakan, “Kangmas, saya pingin balik ke Jogja. Saya enda betah tinggal di Jakarta ini.” Dengan agak berhati-hati saya bertanya balik ke Ngatemi, “Memangnya kenapa koq enda betah di Jakarta sini diajeng?”

Artikel selengkapnya ada di sini:
Menciptakan Dunia Pribadi


%d bloggers like this: